
Pagi ini Gharda sudah berjanji untuk menjemput Tiffany dan pergi menemui salah satu client untuk membahas tentang pembuatan prodak baru skin-cara khusus untuk wajah anak-anak, dan Gharda terpengaruh dengan bujuk rayuan mengikut sertakan Tiffany dalam pembuatan prodak ini. Dan inilah pertemuan pertama untuk ke dua bela pihak.
Sementara Rivzal yang sudah menunggu dari satu jam tadi sebenarnya tidak setuju dengan ini, sudah mengatakan alasannya pun tetapi Gharda tetap nekat melanjutkannya.
"Riv, Gharda belum turun juga?"
"Selamat pagi, Mah. Belum, padahal lokasi tempat pertemuan dari sini cukup memakan waktu, takutnya nanti terlambat." Rivzal menerangkan.
"Boleh mamah minta tolong?"
Rivzal tentu mengiyakan, saat Nyonya Syeni berbisik tentang apa yang harus dilakukannya, Rivzal tersenyum semangat. Ahk. Kenapa dia tidak kepikiran dari tadi, kesalnya untuk diri sendiri.
"Gharda." Apa ini? Wajah mamahnya terlihat pucat pagi ini dan suaranya juga serak sekali.
Gharda mempercepat langkahnya menyentuh kening mamahnya dengan punggung tangan, pun jadi ikut cemas. "Mamah sakit?" pertanyaan bodoh.
"Sudah lihat sendiri, malah ditanya lagi." Nyonya Syeni memasang wajah seperti orang yang benar-benar sedang sakit.
"Terus kenapa justru berdiri di ruang tamu bukan beristirahat saja? Atau Gharda panggil dokter ke sini saja, ya." Bagaimana pun juga Gharda tetap menyayangi mamahnya meskipun kadang mamahnya sering berselisih paham padanya.
"Tadi mamah sudah menghubungi dokternya, tapi katanya tidak bisa ke rumah langsung karena ada pasien pagi ini. Jadi mamah ke rumah sakit saja sama Mang Leo sekarang. Mamah boleh minta tolong ya pagi ini kamu yang antar Jelita naik mobil kamu." Semakin menjadi saja semua yang alasan ini.
__ADS_1
Gharda diam nampaknya masih berpikir dan ragu-ragu mempertimbangkan. "Tapi Gharda juga ada Client penting kali ini."
"Hah. Apa kamu tega membiarkan seorang anak kecil naik taxi sendirian, kamu tidak takut Jelita kenapa-kenapa di luar sana sendirian?"
Bagaimana ini? Ada Tiffany yang sedang menunggu di sana, dan hati kecilnya pun tidak tega jika Jelita dititip naik taxi sendirian. Hah, bibi Ema ada jadwal belanja tadi subuh sampai sekarang belum pulang.
"Ommmaa, ayo kita berangkat!" seru Jelita berlari kecil menuruni anak tangga.
"Jangan lari-lari, sayang!" peringati Nyonya Syeni cemas.
Pagi ini Jelita terlihat ceria sekali, Gharda tidak menyadari apa penyebabnya.
"Selamat pagi, Oma, Ayah dan Om Riv!" Jelita menyapa ketiga orang dewasa itu.
"Pagi juga princes Jelita yang cantik " Rivzal mengusap pucuk kepala Jelita.
Gharda hanya sekilas menatap Jelita saja.
"Oma sakit ya?" tanya Jelita seraya punggung tangannya mengusap pipi omanya.
"Iya, sayang. Oma hari ini tidak bisa mengantar Jelly. Ayah yang akan mengantarmu."
__ADS_1
Jelita terngungu mendengar ucapan omanya, menoleh ke samping arah ayahnya merasa takut dan kebingungan. "Ayah," cicitnya lirih.
Tidak mau membuang waktu Gharda bersedia mengantar Jelita, perasaan tega Gharda membiarkan Jelita duduk di belakang seorang diri.
Jelita tertunduk tidak berani berceloteh takut ada ayahnya bersamanya, ingat pernah sekali ia di pelototi tajam karena terlalu ribut saat pertama kali berangkat masuk sekolah TK. Menyimpan trauma sendiri, Jelita duduk tegang meremas roknya sampai kusut, tetesan keringat mengucyr dari ujung keningnya ingatan tatapan mata itu masih tersimpan dalam memorinya.
"Awww!" Afrinda meringis lantaran ujung jarinya tersiram air panas dari termos yang dipegamgnya. "Hufff. Kenapa tiba-tiba aku kepikiran Jelly ya? Semoga tidak terjadi apa-apa."
Gharda tidak mengajak Jelita mengobrol bahkan menganggapnya seolah tidak ada di dalam mobil, justru ia menyempatkan waktu mengangkat telepon dari Tiffany mengabarkan masih dalam perjalanan.
Yang di samping tersenyum kecut, sekilas ide muncul untuk mengelabui bosnya. Rivzal sangat mengetahui seberapa cueknya Gharda terhadap Jelita, bahkan alamat sekolah barunya pun Gharda tidak ingat. Dengan sengaja ia membawa mobil melewati jalan alternatif yang sering macat di jam sekarang, benar saja kemacetan di depannya dan dengan baik Rivzal menjawab agar Gharda tidak menyadari maksud yang sebenarnya.
Sudah beberapa menit mobil masih berjalan seperti siput, tetap kuat mental menjawab agar Rivzal dalam posisi aman tidak terkena omelan Gharda.
"Jelita, kamu kepanasan ya sampai keringatan begitu?" Rivzal menghindar dari Gharda.
Jelita hanya menggeleng tertunduk, ingin cepat sampai dan sudah kelaparan pula. Ia harusnya pagi ini memakan sarapan yang sudah disediakan Miss Frind nanti.
Sampai 15 menit masih dalam kemacetan, datang terlambat adalah langkah awalnya. Biarlah pertemuan ini gagal sekalian, agar kesempatan Tiffany memanfatkan Gharda dalam hal kerja sama ini tidak terjadi. Rivzal menyeringai lagi, dan ia harus lebih licik lagi menghadapi wanita ular itu.
Gharda pasti susah menolak permintaan Tiffany, Tiffany pun pasti berusaha keras untuk ikut dalam kerja sama ini demi melancarkan aksi terselubungnya. Disinilah Rivzal harus menghalangi kelicilan Tiffany dengan menyelesaikan ke akarnya, batalkan kerja sama ini. Lebih baik batal, dari pada tetap berlanjut tapi hasilnya sudah direkayasa dari awal. Sayangnya Gharda menutup mata jika Rivzal membahas tentang Tiffany, terpaksa Rivzal harus bertindak sendiri.
__ADS_1
👇👇👇