Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bahaya 5


__ADS_3

"Mas Danu mau kemana?" Nurma menghampiri suaminya yang sedang bersiap-siap bercermin di kaca lemari pakaian, "Mas," panggilnya sekali lagi.


Danu berbalik seraya merapikan ikatan dasinya, "Ke pernikahan putri kita."


Nurma terdiam sejenak, "Jadi pergi?"


"Iya."


"Kalau mas ketemu sama Bram, itu sangat bahaya." Nurma mencari celah agar suaminya tidak jadi pergi.


"Aku tidak takut, Nurma."


Danu sudah bulat dengan keputusannya, menasehati istrinya jangan terlambat minum obat dan mengunci pintu lalu permisi melewati Tiffany yang sedang membuat sarapan untuk ibunya. Menyempatkan diri meminta tolong pada tetangga jangan jauh-jauh dari rumah.


Tiffany menangguk saja, sedetik begitu cepat tangannya memasukkan bubuk obat tidur dosis tinggi pada air minum untuk ibunya. "Maafkan aku, Bu."


Bertemu Bram itu pasti sewaktu-waktu bisa terjadi, Danu sudah mempersiapkan hal ini sebelumnya.


Masih ingat dengan kejadian beberapa hari kemarin, dan inilah yang menjadi alasan kuat Danu agar segera bertindak menyelesaikan dendam konflik masa lalu, saat ia sedang duduk sendirian di bawah pondok menikmati sejuknya angin, suara besi pintu gerbang berjalan keluar ada seorang pengantar paket yang sering dipanggil kurier menunggunya, kebingungan karena memang dirinya pun tidak pernah membeli sesuatu melalui online, si kurier memaksa untuk menerima paket Danu membawanya ke dalam rumah. Amplop tebal disegel rahasia, memperhatikan kiri dan kanan tidak ada orang Tiffany dan istrinya belum pulang belanja kebutuhan penjualan.

__ADS_1


Matanya terbelalak membuka isi berkas surat dan beberapa file bentuk dvd serta vidio yang dibukanya dari laptop, membaca surat bungkusan paket mencari alamat sipengirim, nomor kontaknya diperiksa melalui aplikasi hijau membaca nama otomatis yang sudah tersedia, dia ingat ini nomor Dahlya waktu itu sempat saling bertukar kabar sudah lama juga.


Sesuai dengan arahan surat tangan yang ditulis Dahlya, Danu memberikannya pada Gustav datang langsung ke tempat dinas.


Sampai saat ini ia sedang dalam perjalan ke pernikahan Afrinda, Dahlya tidak ada kabarnya lagi sama sekali. Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan, sudah sampai berlari menuju gerbang ia hampir terlambat.


Bahagia itu akhirnya tiba dengan mendampingi putrinya menikah, berfoto bersama serta berpelukan lama detik ia merasakan hangat apa itu ayah bagi seseorang anak gadisnya. Entah mengapa perasaannya semakin gelisah saja firasatnya tidak enak, menarik napas dalam menenangkan diri. Pamit pulang seorang diri tidak mau ikut menginap bersama keluarga lain, dengan diantrarkan salah satu pengawal Gharda sampai terminal bus saja.


Setelah pengawal itu kembali ke dalam mobil, ia berjalan mencari toilet terdekat, antrian panjang mencari toilet lain sampai keujung bangunan yang area sepi, mengeluh fasilitasnya jauh sekali dari halte, merasa lega karena baru saja menyelesaikan kegiatan saatnya keluar. Baru saja tangannya memurar kenop pintu, tiba-tiba ada dorongan kuat dari luar membuka paksa menarik badan membekap mulutnya sampai menggelepar tidak sadarkan diri.


Satu siraman air membuatnya terbangun basah kuyup, mengumpulkan kesadaran terkejut setengah mati wajah siapa yang sudah menyiramnya dan seringai itu. "Bram."


"Akhirnya kau datang juga, tertangkap!" Bram menunduk mensejajarkan badan Danu posisi duduk terikat.


Danu tidak menjawab, memandangi Bram memdelik buang muka. Dia ketakutan, tidak. Sekalipun dia mati disini, setidaknya ia telah melihat wajah putri kandungnya, istrinya tetap akan bahagia bersama Tiffany di rumah itu.


"Sebentar lagi kau akan mati ditanganku, sama seperti kematian Alfonso itu karena saya yang menjebak orang merusak rem mobilmu. KALIAN BERDUA AKAN MATI DITANGANKU!"


Mendengar itu Danu mengangkat kepala tercengang, "Jadi kecurigaanku selama ini benar."

__ADS_1


"IYA!"


"Keterlaluan kau, Bram. Manusia iblis sepertimu tidak pantas ada di dunia ini, kau pemgecut membunuh lawan bisnismu, cihh!"


"DIAAAM KAUU-"


Suara pukulan kasar dari Bram tidak membuat Danu gentar, "Sebelum aku mati, kau harus lebih dulu meregang nyawa menyusul sahabatmu itu. Kau paham."


"Kau bukan Tuhan yang mengatur nyawa orang lain, Bram.


"Tapi saya bisa melakukannya!" Bram bersiul kencang ke arah pintu, tidak lama setelah itu dua orang pengawal muncul dari pintu menyeret dua wanita yang tidak berdaya.


"Afrinda, Dahlya!" Danu terbelalak wajahnya pucat pasih.


"Lemparkan kedua wanita itu bergabung bersama Danu!" Bram memberi perintah.


Badan Dahlya terjatuh lemah tepat di arah kanan Danu, sigap bahu Danu menjadi tameng agar kepala Dahlya tidak membemtur dinding. Afrinda masih bisa menyeimbangkan badannya terjatuh menggunakan kedua telapak tangannya perlawanan dan tenaganya tidak sebanding.


"Bagaimana kalau kalian bertiga mati bersama di tempat ini."

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2