
Ini pertama kali mereka berpelukan dengan perasaan yang lebih dalam, tanpa mengeluarkan kata pun susah bisa saling memahami rindu itu pada akhirnya datang berpihak hari ini.
Badan tinggi Gharda membuat Afrinda merasa nyaman, semakin mengeratkan tidak mau berpisah.
"Frind," panggil Gharda mengusap surai milik Afrinda. "Ak-aku sangat merindukanmu."
Masih belum menjawab, mendongak menatap mata Gharda mengusap air matanya. "Aku juga, Ghar," sahutnya suaranya mulai serak.
"Jelly."
"Apa kabar dengan dia?" Ingatannya berputar tentang gadis kecil yang menrik perhatiannya, tersenyum tipis suara Jelita terngiang di telinganya.
Menggandeng tangan Afrinda mengajaknya duduk di salah kursi di sudut ruangan. "Sama, kami berdua sangat merindukanmu. Bedanya, Jelita semakin hari tampak lebih dewasa menghadapi permasalahannya, tidak manja dan rewel seperti kemarim awal kepergianmu. Justru aku yang jadinya lebih kurang sehat-" Gharda mengangkat telapak tangan Afrinda menyentuh wajahnya. "Coba kau lihat, apa yang beda dari tubuhku."
Memperhatikan seluruh tubuh Gharda wajah kusam tumbuh beberapa jerawat dan bulu-bulu halus membentuk pola di sepanjang area jambang, "Kau tampak lebih kurus dan tidak terawat."
Banyak konflik yang menguras energinya sampai membuatnya melupakan dirinya pola makan tidak teratur kurang tidur, mengerjakan banyak sesuatu untuk mengembalikan investor, menghadapi pertunangannya, menyelesaikan sisa tentang mendiang istrinya Araz, cemburu dengan Egwin, memikirkan berusaha mencari keberadaan Afrinda .
"Aku tidak bisa melawan papahku. Aku lebih merindukan kalian, kau, Jelita, Ticha, Astrid, Allen, dan sekolah. Belum lagi tekanan papahku."
Tidak.perlu ada istilah menembak jika sudah saling menyadari perasaan masing-masing, cukup komitmen dan sebuah arti dari tindakan tunjukkan bahwa kamu cinta.
Ada pengorbanan agar pertumuan ini terjadi, Egwinlah pihak yang paling berbahaya di sini. Jika Gharda hanya mengorbankan materi untuk menyuap pemilik pengelola gedung ini, maka Egwin mengorbankan keselamatannya jika Bram sampai memgetahui, satu hal yang paling menyiksa Egwin, perasaan cintanya pada Afrinda.
__ADS_1
"Kalian berdua?!" Bercampur cemas Afrinda terkejut cerita Gharda semakin membuatnya serba tidak enak.
"Jangan cemaskan apa pun, kami sudah mempertimbangkannya matang-matang."
Air muka Afrinda masih cemas, Gharda meraih sesuatu dalam saku bajunya membuka sebuah kotak kecil berwarna merah "Buka."
Sepasang cincin tersemat di dalamnya dengan berlian yang sangat indah, "In-ini maksudnya apa?"
"Aku melamarmu."
"Hah. Ka-kau."
"Serius." senyum Gharda mengembang berlutut posisi seperti seoramg pria melamar kekasihnya.
"Tap-tapi aku sudah-"
"Apa?"
Gharda terkekeh, dirasa kakinya mulai keram Gharda kembali duduk ke posisi semula. "Rivzal dan Astrid yang datang ke pertunangan kalian, mereka berdua yang-"
"Apa? Jadi mereka berpura-pura menjadi pemuka agama itu?"
"Uhung." Gharda mengangguk.
__ADS_1
"Yang intinya, Afrinda. Semua itu sudah disetting agar terlihat berjalan padahal semua tidak ada. Cincin yang kalian pergunakan itu tidak sah, dan yang akan sah adalah cincun dariku."
"Kau yakin sekali."
"Harus, dong. Karena aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Egwin melepaskanmu, aku akan berjuang untuk cinta kita. Sekalipun aku harus berhadapan dengan keluargamu yang katanya sangat terpandang, papahmu yang menyeramkan, adik-adikmu yang berpangkat tinggi. Mulai detik ini saya Gharda Niell Alfonso berjanji akan memperjuangkan cintaku kepada wanita yang bernama Afrinda Sinatrani, cincin ini adalah pertanda aku akan melamarmu dan memasangnya tepat di hari pernikahan kita. Berjanjilah kau akan menungguku datang, diamlah di rumah jangan pergi kemana-mana. Biarkan aku yang memulai dari luar menentang penghalang cinta kita."
Afrinda tidak kuasa menahan tangisannya. "Apa kau akan menepati janjimu? Ghar, papahku orang yang susah dilawan. Aku tidak mau terjadi apa-apa."
"Aku yang memilihmu Afrinda, akan kutanggung resikonya."
Waktu semakin berjalan kembali berpelukan. "Hapus air matamu."
"Gharda, ada satu rahasia besar yang mungkin bisa membantu kita."
"Apa itu."
"Cari orang tua kandungku. Jika sudah bertemu, aku bisa lepas dari keluarga itu."
Egwin masuk membuka pintu tersenyum manis menutupi luka hatinya, "Sudah waktunya pulang."
Detik demi detik perpisahan saling mamandang dalam-dalam tangan itu perlahan-lahan terlepas sampai ujung jari.
"Tunggu aku Afrinda!"
__ADS_1
Afrinda menoleh sekali lagi sebelum badannya menghilang di bail daun pintu.
👇👇👇