Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bahaya 2


__ADS_3

Intercom harus siap di tangan pengawal yang bersama Afrinda, ia harus sebisa mungkin mempertahankan diri dipercaya tugas sebesar ini karena pengalaman dan sepak terjangnya sudah sangat baik di keluarga besar Alfonso.


"Kau siap?" Suara tuannya Gharda dari seberang sana.


Menghela napas panjang memantapkan mental. "Siap, Tuan."


Mobil Gharda dan Afrunda akan menuju dua arah yang berbeda sesuai titik lokasi jebakan yang mereka pantau dari cctv, Egwin tidak bisa bergerak dari layar laptopnya terus mengawasi pergerakan kedua mobil dan jebakan apa yang terjadi nanti.


Inilah rahasianya.


Gedung tempat pernikahan tadi adalah tanah milik Bram sendiri, Astrid dan Rivzal mati-matian memcari tahu informasi tentang gedung ini meretas beberapa situs websaid yang hanya bisa diakses oleh perusahaan Bram. Bram mempunyai area kekuasaan tersendiri dirahasiakan dari laporan harta pada negara dan lokasi gedung ini adalah salah satunya, ketamakan dan kekayaanya mampu membuat itu menjadi nyata.


Jika pihak Gharda memakai lokasi ini, pasti anak buan Bram sangat mudah mencarinya. Kadang kita harus mendekati kandang lawan untuk menjebaknya, pasti ada risikonya inilah yang harus dikulirangi bulan dihindari.


Dan tebakan mereka tepat, dari kamera kecil yang disembunyikan melalui pegawai Gharda yang saat itu bertugas mengawasi dekorasi persiapan gedung. Beberapa anak buah Bram terlihat sedang menjaga titik jalan lokasi keluar gedung kapan mobil pengantin pulang, inilah yang menjadi fokus rencana mereka.


Siapa yang akan terjebak ditahan anak buah Bram antara Afrinda atau Gharda?


Mereka berdua sudah mempersiapkan diri sebelumnya.


Satu..

__ADS_1


Dua..


Tig-


"Zal, mobil Afrinda dan Gharda kecelakaan!" Gharda panik bukan main.


"Egwin kau tetap waspada disitu!" Rivzal menahan Egwin jangan menghilang dari layar laptop. "Awasi terus apa yang terjadi di sana, biar aku dan pemgawal lain yang menyusul.


"Pastikan kau baik-baik saja." Egwin mengusap wajahnya.


Mobil berguling ke sisi jalan, Afrinda terbatuk-batuk asap dan debu dari mobilnya. Tangannya sakit sekali kepalanya berdenyut, kakinya terasa mau patah berdarah tapi tidak banyak, "Mas Hen," panggilnya lirih pada pengawal yang meyetirnya.


"Mas juga harus seg-!"


"Larilah ke arah semak itu, Nona!"


"Aaahh-kkkkk, cep-pat lar-i, Nona!" Hem berhasil membuka pintu dari dalam melepaskan sabuk pengaman milik Afrinda mendorong agar terlepas dari jepitan bangku mobil.


Afrinda dengan langkah kaki tersoak berlari menuju semak yang ada di sekelilingnya meninggalkan Hen yang berjuang di sana.


Matanya masih dapat melihat Hen bergulat melawan anak buah papahnya memcari keberadaan dirinya, ia harus lari.

__ADS_1


"Bantu aku," doanya dalam hati alas kakinya rusak terjatuh beberapa kali lecet di permukasn kulitnya, mengumpulkan tenaga yang tersisa mengatur napadnya ingin melanjutkan lari, seseorang berhasil menutup mulutnya dari belakang badannya menyeret badannya, satu tinju tepat bersarang di kepalanya membuat kesadarannya hilang.


Sementara nasib Gharda juga mengalami kecelakaan ada truk yang menyenggol, dengan cekatan tangannya banting setir ke arah kiri jalan menghindar dari truk lebih memilih menjatuh mobil ke pinggir pembatas jalan.


Sayangnya kondisi Gharda tidak baik-baik saja, belum sempat menyelamatkan diri keluar dari mobil, anak buan Bram cepat membantai mengepung menyeret kasar ke atas aspal.


"Afrinda tidak ada di dalam!" pekik salah seorang dari mereka.


"Sial!"


Kesal tidak menemukan Afrinda, anak buah Bram memukuli wajah Gharda tanpa perlawanan dan tidak membuka suara sama sekali.


"Kau harus mati Gharda!"


Tyo membuka topengnya, "Ini aku."


Tyo membuka pistol yang dibawanya dengan senyuman devilnya memandang dengan buas, "Kau harus mati!"


Satu tembakan berhasil lepas hampir mengenai jantung Gharda, menggelindingkan badannya ke samping punggungnya yang menjadi sasaran peluru.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2