Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Pertemuan Dua Sahabat


__ADS_3

Dibalik masalahnya ada sahabat yang selalu setia mendukungnya membantu menyelesaikan permasalahan dalam kantor urusan pekerjaanya, Astrid dan Rivzal bekerja sama untuk mengembalikan beberapa investor yang hampir saja menarik sahamnya dan kembali bergabung dan kondisinya kini sudah stabil tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


Akan tetapi bagaimana pun juga Gharda mendapat desakan segera menikahi bertanggung jawab atas perbuatannya pada Tiffany, berbagai pihak harus menjaga nama baik agar tidak tercemar. Dengan sangat terpaksa Gharda mengambil keputusan dengan tahap pertunangan saja dulu, Danu sempat menolak tetapi Gharda lebih keras lagi mempertahankan.


Mendengar cerita dari Rivzal tentang kabar pertunangan Dokter Egwin, Gharda tidak tahu siapa perempuan yang akan menjadi pasangannya. Sambil membawa Allen bermain ke rumah Jelita, Egwin menyempatkan waktu untuk berbicara langsung pada Gharda.


Tidak ada saling tonjok menonjok antar mereka, baik Gharda maupun Egwin mampu saling mendengarkan satu sama lain dan tidak menyudutkan pihak manapun.


Gharda sangat paham bagaimana posisi Egwin juga terkekang oleh sikap serampangan orang tua, tetapi jauh di lubuk hatinya ia menahan sakit mengapa harus Afrinda ada diantara hati mereka berdua.


Belum lagi nanti yang dikhawatirkan untuk Allen dan Jelita, kedua anak itu sama-sama menginginkan Afrinda menjadi mamahnya. Jika Allen yang mendapatkannya, pasti Jelita cemburu.


Gharda mengangguk berusaha akan memberi pengertian pada putrinya bila itu sampai terjadi.


Egwin kasihan pada nasib Gharda, dirinya saja sudah ilfil pada mantan istrinya itu, apa lagi Gharda. Tatapan cinta pada Tiffany sudah lenyap tidak tersisa, selama ini hanya nama Afrinda yang disebut-sebut saat Gharda mencurahkan hati padanya, tetapi justru dirinyalah yang segera bersanding dengan Afrinda.


Dengan rasa bersalah Egwin menyampaikan maaf pada Gharda, dia rasanya sudah menghianati sahabatnya sendiri. Senyum tulus dan rangkulan Gharda seolah mengatakan ia akan berysaha mengiklaskan cintanya bersama pria lain, salut kedewasaan dan seluas apa hati Gharda. Tapi ia juga berjanji jika ada sedikit kesempatan, ia berusaha mengembalikan Afrinda padanya.


Pertunangan mereka dilakukan di hari yang sama, bukan mereka yang mengstur melainkan keluarga.


Gharda tidak menjawab, keduanya saling bertukar senyum ironi.


Tunggu! Egwin tersenyum sinis ke arah Gharda yang masih memandang sendu pada langit sore.


Ini adalah siasat Tiffany untuk merebutnya kembali, Gharda masih belum mencerna ucapan Egwin. Dia saja bisa mengelabui identitas mengganti dan sering bermain di balik layar entertaiment, apa lagi saat ini. Tiffany tidak sakit dia pura-pura frustasi demi mengambil simpati orang-orang padanya, Danu pamannya ikut membantu kelicikan wanita itu.

__ADS_1


Jelita dan Allen menghampiri ayahnya masing-masing, saling dadah-dadah riang Egwin melajukan mobilnya pulang. Untuk saat ini anak-anak belum mengetahu pertunangan ayah mereka, tidak tega rasanya menyakiti keduanya. Egwin menghela napas panjang.


Tiba-tiba mendapatkan panggilan dari rumah sakit, menurunkan Allen di depan rumah menyuruh satpam membawa masuk, Allen tersenyum memberi semangat pada papahnya.


Napas ngos-ngosan ke dalam ruangannya, ada masalah. Keluarga pasien marah pada pihak rumah sakit karena telah mengirimkan dokter yang kurang kompoten saat melakukan penenanganan pada pasien di rumah itu. Dokter Helmi memang sudah tua dan kerja lambat, tetapi Belisu masih ingin mengabdi karena kebutuhan finansial. Egwin langsung memutuskan mengganti tugas Dokter itu mendampingi para koas saja. Dokter Helmi mengangguk pasrah, lagi pula Dokter Egwin tidak memarahinya.


Membaca data pasien yang complain dengan seksama, ini kesempatan bagus.


Membeli perlengkapan untuk melakukan penyamaran membawa mobil lain turun di depan pintu rumah Danu, tidak ada yang curuga langkahnya sukses masuk Tiffany sedang berbaring.


"Bangun," lirihnya berbisik di telinga Tiffany.


Mengerjapkan mata seperti ada yang membangunkanny, belum sempat sadar seutuhnya rasanya seperti ngantuk tapi matanya dipaksa harus terbuka.


Suara siapa itu? Matanya terbuka tetapi kesadarannya semakin dipaksa untuk tidur, badannya semua kaku tidak bisa bergerak.


Egwin membuka ponselnya memutar rekaman suara Allen yang memanggilnya sebutan mamah.


"Mamahh,,,mamahh."


Kali ini kesadarannya hampir kembali tetapi panggilan itu membuatnya takut.


"Mamah,,,mamahh!!" Alam sadarnya seperti mengingat suara itu, iya itu Allen putrinya


"Mamahh,,tolong akuu."

__ADS_1


"Mamahh,,Mamah,,,Mamahh!!"


"Mmamah!"


"Imelda!"


"Mamah!"


"Imeldaa."


Suara itu terus terngiang di telinganya tetapi badannya tidak bisa digerakkan, kesadarannya masih ada tetapi kali ini matanya susah dibuka.


"Kau bukan mamahku!!"


Suntikan terakhir membuatnya benar-benar kehilangan kesadaran untung masih berbaik hati Egwin sudah mengatur dosisnya.


Tidak ada cctv di kamar ini, Danu juga tidak ikut menemaninya di sini. Egwin tersenyum devil, efek obatnya adalah halusinasi dalam bawah sadarnya. "Akan kubantu membuatmu benar-benar gila, itu maumu."


Menutup pintu kamar memberi resep obat ke salah satu pelayan, Danu datang bertanya kondisi keponakannya.


"Dia hanya kelelahan kurang tidur, saya sudah meresepkan obatnya."


"Baik, Dokter Mario."


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2