
"Ayah!! Bunda!!"
Teriakan Jelita menggema dari lorong kursi tamu menghentikan acara tangis-tangisan ayah dan anak ini, semua mata memandang gemas pada kedua gadis kecil berdiri ditemgah-tengah bergandengan tersenyum bahagia.
"Kami akan memari untuk Bunda Frind juga untuk tamu semua!" Jelita berseru dengan suara nyaringnya.
Tamu undangan semakin merapat antisias bersiap merekam aksi ini, MC heboh sendiri berceloteh meramaikan acara.
"Musikk!" lengkingan Jelita dan Allen menit mulai berputar gaun ikut bergoyang mengayun kedua kaki. Tangan pendek lembut gemulai melayang diudara ekapresi wajah yang sangat menarik perhatian, seirama dengan lagu yang dimainkan terus menari gerakan kompak diakhiri gerakan berpegangan tangan ke atas menunduk mengucap terima kasih.
Riuh tepuk tangan bersiul memuji penampilan gadis ini, gerakan tidak lincah namun sangat lucu ditambah lagi rasa percaya diri mendapat apresiasi tinggi.
"Anak-anak, kalian," Afrinda tidak kuasa merentangkan tangan memeluk mereka bahagia.
"Bagus tidak, Bunda?" Allen bertanya menunggu jawaban.
"Bagus sekali, sangat bagus, Sayang. Siapa yang mengajari kalian, humm?" Gemas Afrinda.
Jelita dan Allen saling memandang sejenak, "Miss Ticha," jawab keduanya serempak.
"Ayah akan memberikan hadiah untuk kalian sudah berani tampil di depan orang banyak," sahut Gharda menimpali.
"Hadiah, mau!" sorak keduanya girang.
"Ditunggu ya, hadiahnya rahasia, ung."
Jelita membuang muka kesal, dipikir hari ini. Semakin menambah gelak tawa pasangan ini menggoda Jelita.
Beberapa kali potret berpose Allen dan Jelita membuat gaya masing-masing, "Sekarang waktunya keluarga baru yang akan berfoto."
Tanpa aba-aba Gharda menggendong Jelita ditengah-tengah, Afrinda menyambut memeluk suami dan putrinya satu potret berhasil.
"Ayok cium pipiku, Ayah Bunda," pinta Jelita.
"Baiklah, Jelly." Gharda menyahut Afrinda mendekatkan wajah mencium pipi kiri-kanan Jelita, satu lagi potret indah ini akan diabadikan.
__ADS_1
"Ayah dan Bunda, i love you!"
"I love you juga," jawab keduanya serempak.
Turun dari gendongan ayahnya berlari menuju omahnya, acara makan siang akan dimulai.
Oh iya, omong-omong tentang permasalahan catering kemarin. Ny.Syeni tidak putus asa mencari solusi, dia ingat ada beberapa kontak restorant 24 jam yang dia kenali, memesan menu yang berbeda tiap restoran tetapi dengan harga yang serupa agar menu tidak jomplang. Para pegawai restorant datang tepat waktu langsung menata di atas meja makan gaya makan ambil sendiri pilih sendiri, remcana diawal harusnya hanya sekadar nasi kotak mewah saja.
"Aku mau yang ini!"
"Aku yang itu!"
"Memunya bermacam-macam ya, aku sampai bingung mau makan yang mana."
Bisik tamu undangan mengantri mengambil bagian makanan dengan sabar.
Pengantin baru duduk di pelaminan ada meja makanan kusus untuk mereka, yang ini dimasak langsung oleh chef di rumah.
"Suap-suapan romantisnya mana?" heboh MC mengelegar.
"Ghar, kau-" Wajah Afrinda merona malu.
Pada akhirnya membuka mulut juga, kunyahan terasa berat melihat wajah suaminya dari dekat berkedip memggodanya.
Lagi tepuk tangan riuh dari kursi undangan.
"Ayo suapi aku," bisik Gharda.
"I-iya," Salah tingkah tangannya tidak fokus memilih menu.
"Santai, Sayang. Jangan gugup begitu," goda Gharda.
"Sekarang buka mulutmu."
"Hanya nasinya saja? Mana lauknya?" Heran hanya nasi putih yang ada di dalam sendok.
__ADS_1
"Kamu terus menggodaku, aku jadi tidak fokus menga- Gharda, kau!" Belum selesai berbicara, Gharda lebih dulu menelan nasinya.
Hal itu semakin membuat sorakan tamu undangan berteriak iri.
"Kau iri, Ticha?" Astrid meledek Ticha.
"Iya. Kapan ya aku ditembak pria romantis seperti Tuan Gharda, hhuuuyy!"
"Ada!"
"Siapa?"
"Ittu-" Astrid mengarahkan pandang pada Egwin yang membantu Allen makan.
"Kak, Strid. Kau ini!" Ticha mendelik.
"Sudah sejauh apa hubungan kalian, penasaran."
"Tidak ada, ya."
"Aaa, tidak mengaku "
"Iss, Kak."
"Sugar daddy, anaknya juga sudah lengket padamu. Apa lagi, kau tinggal mengambil hati bapak ya saja, jaddi!"
Ticha mencubit pinggang Astrid. "Lihat itu Rivzal menggoda siapa itu, cantik juga ya kak, ya. Kau tidak cemburu, Kak?"
Rivzal sedang berbincang dengan salah satu tamu wanita di sana, wanita itu terus menunduk dan-
"Itu Tiffany bukan?" Astrid menyadari sesuatu.
👇👇👇
Bantu like, vote, dan coment ya gaes ya
__ADS_1