Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Araz Datang


__ADS_3

Baru saja ia berpamitan pulang pada Nyonya Syeni, tapi diluar sana sudah hujan deras menghalangi jalannya pulang. Bukan dirinya yang tidak bisa pulang, tetapi Nyonya Syeni memaksa tetap di sini dan lebih baik menginap. Jelita sudah terlelap di kamarnya, tertidur dalam perjalanan pulang dari pasar malam tadi.


"Mah, dia sendiri bisa pulang diantar supir. Tidak usah sampai menginap juga," tolak Gharda memasang tampang tidak suka saat mamahnya memutuskan untuk mengizinkan Afrinda menginap.


"Kamu itu ya, Gharda! Ini sudah jam sepuluh malam, hujan deras jalanan licin, Mang Leo juga sudah istirahat di kamarnya. Mamah tetap menahan Afrinda menginap di sini, titik!" Nyonya Syeni tetap pada pendiriannya. Merasa tidak enak pada Afrinda.


"Bu, sa-saya pulang naik taxi saja." Afrinda melerai perdebatan ibu dan anak ini. Merasa diusir membuatnya enggan untuk menginap.


"Jangan-jangan! Pokoknya kamu harus menginap malam ini, besok siang baru boleh pulang."


"Tapi, Mah." Gharda masih tidak terima.


"Kau sendiri tadi yang menolak mengantar Afrinda pulang, sekarang kau tidak suka dia menginap. Kalau Afrinda sampai kenapa-kenapa di luar sana, kamu yang harus bertanggung jawab."


Pada akhirnya Afrinda tetap menginap malam ini, hujan semakin deras di luar. Tidur di ruang tamu diantar Nyonya Syeni.


Sampai pagi menyongsong matahari muncul dari peradabannya, Afrinda sudah bangun dari subuh tadi langsung bergegas ke dapur membantu pelayan memasak. Sebenarnya pelayan menolak bantuannya, Afrinda yang terus memaksa karena tidak enak dia hanya sekedar menumpang saja.


"Ya ampun, Afrinda. Tidak usah repot-repot sampai harus memasak segala, biar bibi saja yang memasak." Nyonya Syeni heboh sendiri di dapur menghentikn aktifitas Afrinda.


"Tidak apa, Bu. Ini sudah selesai, tinggal menghidangkan saja."


"Semua ini kamu yang masak?" Nyonya Syeni menatap berbinar ke arah panci pemasak yang masih di atas kompor.


Afrinda bergeming ragu menjawab, menoleh ke samping meminta bantuan Bibi Ema.


"Iya, Nyonya. Saya saja tadi hanya membantu-bantu saja, selain itu dia semua yang memasak dan menakar bumbunya. Afrinda masak seperti chef-chef yang di tv itu, Nyonya." Bibi Emi menerangkan antusias.


Nyonya Syeni tersenyum bangga bukan main, menyuruh pelayan lain menyiapkan makanan di atas meja Menyuruh Afrinda naik ke kamar Jelita, membangunkan Jelita dan sudah menyiapkan alat pergantian untuk digunakan Afrinda pagi ini.

__ADS_1


Masih malas untuk bangun Jelita mengeratkan pelukan bonekanya, mengira ini mimpi ada Missnya menciumi wajahnya.


Afrinda tertawa merasa gemas dengan Jelita, jahil sedikit menusuk pipi Jelita hati-hati dengan jari telunjuk berkali-kali.


Semakin menganggu tidurnya, terpaksa Jelita membuka mata menguceknya berulang masih belum percaya pengelihatannya. Setelah Afrinda menggendomgnya, seketika rasa kantuknya hilang berteriak kegirabgan memeluk Afrinda yang masih menggendong dirinya.


Meragu memperhatiakan pakaian yang sudah tersedia di atas nakas, Nyonya Syeni baik sekali. Tapi ini baju siapa?


"Itu baju punya Bunda Araz, Miss. Itu yang ada di foto gede itu."


Mengikuti arah jari Jelly, Araztha Wulandari Gautama. Jantungnya berdetak menelisik foto bundanya Jelita, rupa yang cantik dan menawan serta perawakan yang anggun.


"Mirip sekali sama Jelly."


"Kan'aku anaknya, Miss," sahut Jelita terkekeh lucu menanggapi ucapan Afrinda.


Tidak ada pilihan lain, Afrinda segan tidak segan memakai pakaian yang sudah disediakan.


DEG.


Entah bagaimana ini terjadi, sadar itu adalah Afrinda tetapi mengapa wajah Araz yang terbayang di kepalanya?


"Pergi kau!!" teriak Gharda tanpa sadar.


"Miss-," Jelita ketakutan mendengar suara ayahnya yang meninggi, meremas ujung gaun Afrinda bersembunyi di belakang Afrinda.


"Pergii kau wanita sialan!!" Gharda mengucapkan begitu keras sekali, keringat bercucuran dari wajahnya. Araz berdiri menatap sayu ke arahnya.


"Ada apa ini? Nyonya Syeni tergopoh-gopoh menghampiri Gharda yang terlihat ketakutan duduk di kursi tempat biasa dia makan.

__ADS_1


"Mah, suruh Araz pergi. Dia sudah mati," ucap Gharda menutup wajahnya.


"Gharda, itu Afrinda bukan Araz. Angkat wajahmu," bisik Nyonya Syeni mengusap punggung putranya penuh rasa sayang. "Dia Afrinda, bukan Araz," ulangnya meyakinkan Gharda.


Kini Afrinda mulai paham apa yang terjadi, menarik napasnya menetralkan rasa gugupnya. Memutuskan mendekati Gharda dengan Jelita mengekor memeluk pinggangnya.


DEG.


Seperti ada sengatan listrik saat Gharda merasakan usapan lembut tangan seseorang di bahunya, perlahan mengangkat wajahnya menatap si pemilik tangan yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan sulit diartikan.


Butuh beberapa sast barulah Gharda menyadari kesalahannya, mengusap wajahnya menghela napas kasar. "Siapa yang mengizinkanmu memakai baju Araz?"


"Mamah, Ghar. Maafkan mamah ya," jawab Nyonya Syeni merasa bersalah.


Gharda tidak menjawab, ia menghela napas sekali lagi kemudian netranya menangkap sosok Jelita yang bersembunyi di belakang Afrinda.


"Ayok sarapan bersama." Gharda menguatkan hatinya.


Afrinda menuntun Jelita duduk melayani gadis kecil itu, wajah Jelita masih menunduk ketakutan tidak merespon Afrinda.


"Tadi Miss loh yang masak ini semua. Masa Jelly tidak mau makan? Miss bisa sedih kalau kau tidak mau makan masakan miss." Membujuk agar Jelita mau menyentuh piringnya.


Mendengar itu sontak Jelita menarik piringnya dan melahap makanannya dengan semangat, ketakutannya hilang begitu saja berganti dengan rasa makanan yang begitu lezat di lidahnya.


"Afrinda."


"Hah? Y-ya," sahut Afrinda terkejut namanya dipanggil.


"Tinggalah sampai sore di sini, temani Jelita satu hari ini," ungkapnya tanpa ragu. Ini adalah permintaan maafnya karena telah membuat Jelita ketakutan. Jujur saja, seperti ada yang mencubit hatinya setiap kali melihat Jelita ketakutan kepadanya.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2