
Sebenarnya ia berada dimana, sama sekali tidak mengetahui tempat ini, tinggal di rumah mewah di antara pepohonan yang mengitari pekarangan rumah, sangat sepi hening tidak ada suara kendaraan, ditemani para pelayan yang menyiapkan kebutuhannya. Sudah hampir genap tiga minggu ia terkurung di sangkar emasnya, beraktifitas hanya itu-itu saja, tidak ada ponsel atau apa yang menghilangkan kebosanannya.
Yang dia ingat terakhir adalah saat di dalam perjalanan salah seorang yang menjemputnya turun membeli minuman dan sialnya ia ikut meminum, entah bagaimana tiba-tiba matanya mengantuk dan tanpa sadar tertidur dalam waktu cukup lama. Terbangun sudah di dalam kamar, berteriak ketakutan seorang pelayan wanita paru baya datang dan dengan congkaknya melempar selembar kertas ke arah wajahnya, gemetar tangannya membaca surat yang ada di gemgamannya.
"Nikmatilah waktumu terkurung di rumah ini sampai kami datang menjemputmu dengan waktu sesuka hati kami, jangan mencoba kabur! Sekali kau melangkah, salah satu pelayan akan mati sia-sia menanggung kesalahanmu."
Jelas masih ingat ini tulisan papahnya, hingga terperangkap dalam situasi ini. Hampir semua pelayan berwajah seram itu selalu mengintai ke mana pun Afrinda akan melangkah, makan dan sampai waktu tidur dengan batin yang tertekan.
Setiap ia mencoba berinteraksi dengan pelayan lain, selalu dihindari menunduk takut padanya, Afrinda tidak tahu mau mengobrol dengan siapa lagi. Jadilah ia turun ke hanya untuk makan, setelah itu naik lagi ke kamar menutup pintu dengan tangisan sendiri di sini. Sekali pun ia belum pernah mengelilingi rumah ini, hanya pemandangan dari balkon kamarnya menyegarkan sedikit penatnya.
Tidak ada satu pun benda yang dibawa dari kost-nya, semua tinggal di sana tidak diizinkan untuk menyentuhnya lagi. Orang tua angkatnya benar-benar menghukumnya dan memaksa harus melupakan hidupnya selama tinggal dikota tersebut, dia tidak mungkin bisa.
__ADS_1
Meringkuk dalam balutan selimut menangis sesenggukan membasahi bantalnya, memory kenangan itu berputar semakin membuatnya tidak berhenti menangis.
Dia merindukan Gharda, lelaki pujaanya. Jelly, murid spesial di hatinya. Allen, merindukan saat ia menjaga anak itu agar tidak melakukan sesuatu yang bisa memicu sakitnya kambuh. Astrid dan Ticha, satu per satu mengabsen Afrinda mengigit ujung selimut isakannya mulai melengking.
Hujan mulai deras di luar sana, menyibak selimut berjalan membuka jendela membiarkan tubuhnya kedinginan justru mengharap hujan bisa menghanyutkan tempat ini, tapi itu tidak mungkin.
Bayangan Jelly merengek ingin dipeluk saat di rumah sakit kemarin muncul dalam ingatannya, pasti anak itu mencarinya sekarang.
Mengusap air matanya menyebut satu per satu mereka semua seraya mengharapkan doa dalam hatinya, semoga masalah ini bisa dilalui dan berangan bertemu mereka lagi.
Itulah ancaman para pelayan padanya sehingga ia menurut.
__ADS_1
Besok paginya terbangun melihat jam dinding mulutnya ternganga, cepat-cepat bergegas turun ke bawah sudah melewatkan jam sarapannya, chef itu akan marah bila melakukan kesalahan apa pun saat makan.
Menuruni anak tangga kakinya berhenti terkejut kedua orang tuanya sudah duduk menunggu di ruang tamu, jantungnya berdebar nyalinya menciut akan tatapan tajam papahnya.
"Pulang dari pelarianmu, kau semakin buruk bangun kesiangan." Bram, papah Afrinda berucap mengintimidasi ingin menelannya hidup-hidup karena berbuat kesalahan.
Afrinda tidak bergeming meremas kedua tangannya yang sudah gemetar, jika diingat dulu sewaktu kecil seperti apa kekejam papahnya saat menghukumnya, sampai sekarang pun tidak berani melawan.
Bram duduk tegap di sofa kakinya menyilang arogan. "Dengar papah baik-baik, Afrinda. Papah sudah memutuskan untukmu dan kau tidak berhak menolak dengan alasan apa pun, jangan membantah apa perkataanku. Itu adalah ganjaran karena kau berani lari dari keluarga ini. Awalnya papah tetap berkeinginan menyuruhmu melanjutkan pendidikan kedokteranmu, tapi sekarang sudah mengubah keputusan itu. Kau akan dijodohkan dengan salah seorabg dokter."
DEG...
__ADS_1
Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya, tetaplah sang papah yang paling berkuasa atas dirinya.
👇👇👇