Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Perasaan Tiffany


__ADS_3

"Pikirkan baik-baik Dan. Ditunggu besok jawabanmu, karena Bram hampir berhasil menghancurkan Alfonso. Turunlah."


Duddy melanjukan mobilnya meninggalkan Danu yang sudah sampai di rumahnya, mengesah panjang mengingat semua yang diketahuinya dan bukti yang ditunjukkan Duddy. Melangkah lunglai membuka gerbang, istri dan anaknya sedang sibuk melayani pembeli sampai tidak menyadari kepulangannya. Bukannya melangkah masuk, Danu memilih duduk di kursi kayu berdiam di bawah pohon rindang yang ada di samping rukonya.


Meletakkan tas di atas meja kayu meneguk air mineral sisa yang dibawa dari makan siangnya, jika ia menyinggung tentang putrinya lagi, cemas istrinya kembali sakit apa lagi sudah sehat dan bahagia bersama Tiffany. Tapi tidak mungkin ia menyimpannya seorang diri, bisa-bisa ia tidak menemukan jawabannya Ahkk! Menyugar rambut berubannya frustasi.


Dirasa sudah cukup untuk mengistirahatkan badan, memutuskan masuk melihat kedua wanita ini terus sibuk menghitung dan mensortir barang. Tersenyum tipis semangat mereka berdua membuatnya terenyuh, tidak tinggal diam Danu ikut membantu menimbang gula dan membungkus perkilonya.


Tepat jam 22:30 malam Danu membantu Tiffany membereskan barang dagangan menutup warungnya mengunci pintu, menghitung hasil hari ini yang cukup melimpah. Semoga semakin hari warung mereka tetap laris, Tiffany memisahkan uang usaha modal dan uang kebutuhan yang akan dipakai


"Kau sudah lelah ya? Danu juga tidak enak hati kalau bertanya saat ini, wajah lelah Tiffany menggambarkan ingin segera tidur.


"Belum kok, om. Ada yang mau dibahas?" Mengunci laci penyimpanan uang duduk di samping om-nya. Kenapa perasaanya tiba-tiba tidak enak ya, tidak biasanya om Danu mengajaknya berbicara berdua seperti ini.


Tidak bisa basa-basi perlahan Danu bertanya tentang apakah benar Egwin pernah mengirim paketan surat ke alamat rumah lamanya.


Omnya sudah tau, siapa yang memberi tahu?


Siamg itu Tiffany baru saja pulang mengurus surat kepindahannya ke kantor kepala desa, di gerbang rumah ada kurir yang bertanya alamat padanya, siapa yang mengirim paket ke rumah ini?

__ADS_1


Berterima kasih pada kurir penasaran Tiffany membukanya tanpa pikir panjang, padahal jelas paketan surat itu ditujukan atas nama om dan tantenya. Surat dari rumah sakit milik Egwin, membaca paragraf demi paragraf betapa tercengangnya membuka lembaran foto yang dibungkus plastik putih, foto-foto Afrinda terlampir dan ia pun baru menyadari jika wajah tantenya mirip wajah Afrinda, surat permohanan izin resmi untuk melalukan tes DNA dengan sample yang sudah tersedia di rumah sakit.


Egwin ingin membuktikan bahwa Afrinda adalah putri mereka yang ternyata masih hidup.


Tidak bisa!


Hanya dirinya yang boleh mendapat kasih sayang tante Nurma, hanya dia! Afrinda telah merebut cinta Gharda, telah merebut perhatian Allen putrinya, telah merebut harapannya bersama Egwin. Dan untuk keluarga ini, jangan sampai dia lagi merebutnya. Afrinda benar-benar menganggu kehidupannya!


Dia sudah sangat mencintai dan menyayangi tantenya, dia ingin terus disayang seperti sekarang ini, dia sudah menemukan orang tuanya, hanya dia, cukup dia saja, jangan ada anak lain yang akan menyaingi kasih sayangnya.


Srrrekkkk!!


Surat dan foto itu telah hancur berkeping-keping terasing di tempat sampah.


Deg.


"Ma-mah!"


"Tantee..!"

__ADS_1


Berniat ingin memberikan secangkir teh hangat pada kedua tersayangnya, berakhir tidak sengaja Nurma mendengar pengakuan yang membuat badannya limbung.


Meminjam kendaraan tetangga membawa Nurma ke puskesmas terdekat, tidak kunjung sadar sudah jam 10 pagi pihak puskesmas memberikan surat rujukan pindah ke rumah sakit besar di pusat kota ini.


Danu memboyong istrinya perjalan tiga jam ambulance, Tiffany menangis menyesal suaranya serak takut kehilangan.


"Tenanglah, Tiffany. Tantemu tidak kenapa-kenapa, ini sudah biasa terjadi." Danu membujuk, memang entah penyakit jenis apa yang dialami Nurma. Semua baik-baik saja, tapi entah mengapa menjadi pingsan berkepanjangan.


Setelah mengurus semua berkas pelayan kesehatan gratis program pemerintah, Nurma sudah dibawa masuk ke ruang rawat dan sudah nyaman dengan medisnya.


"Tiffany, kau jaga tantemu ya. Om mau cari makanan dulu."


"Baik, om."


Menyusuri lantai rumah sakit pandangannya tertarik pada sosok perempuan yang sedang berjalan bersama pegawainya serba hitamnya, "Dahlya."


Ia mengikuti dari belakang, jantungnya berdegup kencang melihat pintu ruang rawat itu. Siapa yang di dalam itu, rasanya ia ingin sekali melihatnya. "Hah."


Jika takdir sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menduga. Bram memberi perintah pada Dahlya agar membawa Afrinda ke rumah sakit yang jauh dari rumah sakit milik Egwin. Kebetulan rumah sakit ini yang menjadi pilihan Bram, bertujuan agar bukan Egwin yang memerika Afrinda.

__ADS_1


"Hal-halo, Duddy. Saya bergabung dengan kalian, Dahlya berada di rumah sakit xxxx entah siapa yang sakit."


👇👇👇


__ADS_2