
"Ayah."
Apa? Tiffany memanggil Paman Danu ayah? Afrinda terkejut menutup mulut menggunakan punggung tangannya menatap bergantian Tiffany dan Paman Danu.
"Ayah menamparku?" Tangis Tiffany mengusap bekas tamparan yang memanas dipipinya.
Mengepalkan tangan Danu menahan emosinya. "Mau apa kau kesini?" tanyanya tajam.
Mengatur pernapasan menatap Afrinda penuh amarah. "I-ibu pingsan tadi siang, aku menghubungi tapi ayah tidak mengangkatnya. Da-dan aku men-ca-ri alamat rumah ini untuk menemui ayah, tapi ayah bersenang-senang dengan perempuan ini mengabaikan ibu;" Tiffany berteriak dihadapan semua orang.
Dia ayah Tiffany, ada apa ini? Jadi selama ini dia terjebak bersama ayah Tiffany, atau dia tanpa sadar jadi selingkuhan kah? Mencengkram kepalanya mulai pusing menyimpulkan salah paham sendiri, kakinya hampir tak seimbang, Indri sigap menahan agar tidak jatuh.
"Bagaimana bisa pingsan?" Danu lemah mendengar kabar istrinya, matanya sayu.
"Ibu mencari ayah, tapi ayah sudah pergi menemui orang lain. Ibu merasakan sakit kepala yang hebat, jatuh pingsan dan aku bawa ke rumah sakit. Hanya karena orang ini ayah tidak mempedulikan ibu dan tega menamparku," cerca Tiffany menyudutkan Danu seraya menunjuk-nunjuk Afrinda tidak pantas.
Sebutan orang lain yang ditunjuk untuk putri kandungnya Danu tidak terima, amarahnya meluap lagi hampir meraih rambut Tiffany sedetik ia sadar menurunkan tangannya kembali. "Jaga ucapanmu, Tiffany. Disini kaulah yang lebih pantas menjadi orang lain dari pada Afrinda, dan ayah akan mengaku saat ini juga kalau Afrinda adalah putri kandung saya! Jadi ayah mohon untukmu Tiffany, perhatikan ucapanmu dan sadar diri dimana posisimu!"
Mata Afrinda melotot bagai petir di teriknya panas, dadanya terasa ditusuk pisau belati kakinya tidak kuat berdiri lagi. "An-anak kan-dung paman," gumamnya lirih.
__ADS_1
Tangan bergetar air matanya ikut jatuh, Danu mendekati Afrinda dalam rangkulan Dokter Indri menangkup wajah putrinya. "Maafkan ayah selama ini tidak jujur padamu, Nak. Ayah dan Bibi Nurma adalah orang tua kandungmu dan Tiffany kakak sepupumu, maafkan ayah," ucap Danu tersendat menangis penuh sesal. Tiffany memandang benci ke arah mereka, dia tidak dipedulikan siapa pun di sini.
"Bagaimana bisa?" Afrinda semakin berderai, kenyataan ini membuat sunianya jungkir balik. "Kalian membohongiku," ucapnya lagi. Sampai terbatuk-batuk menangis tanpa suara tidak kuat berdiri lagi.
"Jangan seperti ini, Nak. Maafkan ayah." Danu meracau tangannya ditepis.
Entah bagaimana cara menjelaskannya, Afrinda kecewa kebohongan ini. Dia memang pernah berharap Danu ayah kandungnya, tapi dibalik itu ternyata justru ibunya menolak dari perkataan Tiffany yang menyakitkan tadi ucapan 'orang lain'.
"Dokter, kep-alaku, hahh."
"Afrinda!" Danu panik menarik tubuh Afrinda menggendongnya.
"Siapkan mobil, kita kembali ke rumah sakit!" titah Dokter Indri tegas.
Rumah sakit yang sama dengan ibunya, Afrinda dibaringkan diberikan penanganan terbaik. Danu memutuskan untuk menunggu ruangan Afrinda dari pada istrinya, untunglah keadaan Afrinda tidak apa-apa, ia cepat sadar meminta dipertemukan dengan ibu kandungnya.
Danu menenagkan putrinya memeluk erat, Dokter Indri menunggu kedatangan Gharda sudah menuju kemari. Harusnya Gharda sudah tiba siang tadi memberi kejutan, ada keterlambatan di transportasi menyebabkan ia sampai terlambat.
Ngos-ngosan Gharda menerebos pintu langsung meraup tubuh kekasihnya, ini dia yang terlejut tapi bukan kejutan manis.
__ADS_1
"Ghar, kau datang?" tanya Afrinda disela tangisannya.
"Nanti aku jelaskan semuanya. Kamu mau bertemu ibu kandungny, ayok aku temani."
Hampir tiga jam Nurma sudah bangun dari pingsannya dan suaminya justru memilih Afrinda, Tiffany yang menceritakan dan mudah saja percaya.
"Ayah menamparku, ini sakit dan memalukan sekali, Bu. Pasti Afrinda menertawakanmu karena ayah membela dia, ibu lakukan sesuatu. Dan dia berpura-pura pingsan agar ayah semakin memperhatikannya, dan dia berhasil'kan, Bu. Sudah hampir tiga jam kita menunggu kedatangan ayah, tapi tidak datang juga. Pasti ayah bersama anak itu," adu Tiffany merengek semenyedihkan mungkin.
Terdengar tidak masuk akal Nurma percaya begitu saja tanpa berpikir jernih, kenyataan di dalam pikiran sadarnya semua diprnuhi rasa penyesalan telah mengabaikan Tiffany dulu. Karena penyesalan itu pula Nurma menutup hati untuk menerima Afrinda dan mimpinya, karena Tiffany telah menempati semua kasih sayangnya.
Nurma tidak sadar bahwa ia sudah terjatuh pada lubang yang salah, semua itu akibat ia sendiri mengalami kesalah pahaman untuk dirinya-sendiri.
"Kau tetap putriku, Tiffany," ucapnya lirih.
Tidak mau kalah posesif ibu dan anak ini saling memeluk satu sama lain sampai tidak sadar Danu masuk ke dalam ruangan disusul dua orang lagi yang bergandengan tangan.
Baik Nurma dan Afrinda saling tatap-tatapan sebentar, sayangnya Nurma langsung membuang wakah, Afrinda menunduk kecewa. Gharda masih merangkulnya erat, mata elang lelaki ini menghumus tajam ke arah Tiffany.
"Bawa dia pergi dari hadapanku."
__ADS_1
👇👇👇
Coment satu kata untuk Nurma...