Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Racun


__ADS_3

Jantungnya berdebar-debar wanita yang masih tertidur di hadapannya betul-betul menyerupai wajah istrinya sewaktu masih muda dulu, bentuk matanya menyerupai dirinya, tanpa sadar air matanya menetes haru ingin langsung merengkuh tubuh itu membawanya ke pelukannya.


"Tahan dulu, mantan Paman Martua," ucap Egwin memperongati Danu.


"Saya sudah semakin percaya bahwa dia putri saya, tanpa tes DNA sekalipun hati saya merasakan ada suatu ikatan dalam diri kami. Bo-bolehlah saya langsung mengatakan keberannya saat dia bangun dan mekbawanya pulang?" Danu berujar pandangan menohon tidak sabaran.


Egwin menghela napasnya kasar, "Sabar dulu, Paman Martua. Afrinda pasti terkejut dan bingung, dekatilah dia senatural mungkin. Anda harus bersama mantan Bibi Martua untuk menjelaskannya pada Afrinda." ujar Egwin menerangkan.


"Kenapa begitu?" wajah Danu langsung murung.


Gharda yang masih termenung menatap wajah Afrinda berdiri ikut bergabung bersama obrolan itu. "Tiffany ponakanmu itu yang harus kita awasi, dia bisa saja melakulan segala cara untuk menghalangi remcana kita kalau dia tahu kebenaran ini. Rasa dendam pada Afrinda yang membuatnya niat melakukan itu. Iya'kan Egwin?"


"Kau-" merasa disindir.


Gharda dan Egwin tersenyum mengejek saat menyebut nama Tiffany, Danu tidak berkomentar ia paham betul bagaimana kedua pria ini adalah korban kelicikan Tiffany.


Tujuan mereka sudah sampai, mobil yang sudah disulap menyerupai bagai ambulance. Egwin mengatur alat medis yang terpasang menempel di tubuh Afrinda, Gharda mendorong brankar masuk ke dalam ruang khusus.


"Kenapa Afrinda belum sadar juga sudah tiga jam, katamu dosis biusnya ringan." Gharda menyentak Egwin mulai cemas karena Afrinda belum bangun juga.

__ADS_1


Untung saja Egwin terlatih mempunyai kesabaran setebal buku dosa, dengan telaten ia memeriksa kondisi alat vital, lagi ia harus berdebat menghadapi Gharda yang sangat cemburu ketika tangan Egwin bergerak membuka kancing arah dada baju Afrinda. Suara sengit pecah Danu melerai.


Danu menahan tubuh Gharda barulah Egwin bisa dengan fokus memeriksa tubuh Afrinda, air mukanya tiba-tiba menegang merasakan ada yang tidak beres kesehatan Afrinda.


"Ada apa, Egwin. Kenapa wajahmu cemas?" Danu mulai gelisah.


Sekali lagi mencucukkan jarum suntik dalam botol infusnya, Egwin merapikan peralatan kemudian menyeka keringatnya. "Terdapat endapan racun yang bergumpal di dalam perut antara pencernaan Afrinda, memang dosisnya masih sedikit, tapi jika jumlahnya semakin banyak itu bisa menyebabkan kerusakan organ dalam perut pasien. Kemungkunan makanan Afrinda sudah dicampur racun secara bertahap oleh pelayan di rumah Bram, hal itulah Afrinda semakin kurus walaupun banyak makan, kita tunggu Afrinda bangun untuk menjelaskan perubahan tubuhnya."


Danu ingin membayangkan wajah Bram ingin sekali menghajar pria jahat itu, putrinya hampir terbunuh ditangan mereka. Gharda refleks menciumi wajah Afrinda menangis, Egwin mundur teratur membuang muka malu sendiri.


"Jangan banyak drama begitu, penjelasanku belum selesai. Ini masih bisa diobati, tapi butuh waktu satu bulan, rutin mengonsumsi obat medis dan herbalnya, mengatur pola makanannya. Yang harus kita lakukan sekarang, kita percepat bergerak menyelesaikan masalah ini agar Afrinda bisa aman bersama kita. Gharda, utus satu orang perawat untuk Afrinda."


Kabar buruk dari seberang sana membuatnya ketakutan. Sebenarnya Ny.Syeni mamahnyaxsudah sadar sejak tiga jam lalu, hanya saja Gharda belum sempat menjenguk, mengobrol lewat ponsel memberi kabar bohong ia sedang ada pekerjaan di luar kota. Tetapi sekarang penjaga mengatakan mamahnya berhasil kabur dari rumah sakit mengelabui perawat suster di ruang lain, para penjaga kalah cepat Ny.Syeni berlari dengan cerdik.


Gharda takut mamahnya terjadi apa-apa dari kejahatan Bram.


Sekarang, bagaimana ia bisa mencari, kalau dia saja sudah buronan? Siapa yang memberitahu mamahnya?


"Ghar-"

__ADS_1


"Egwin!" Gharda terkejut.


"Apa ada sesuatu?"


"I-ini, mamah saya kabur dari rumah sakit."


"Pergilah cari mamahmu, lakukan penyamaranmu agar kau lebih leluasa."


"Afrin-"


"Ada aku yang menjaganya hari ini, dan supir menemaniku. Aku akan laporkan perkembangan Afrinda. Jangan menunda waktu cepat cari tante Syeni."


"Tolong jaga Afrinda ya." Sebelum melajukan motornya, Gharda menyempatkan waktu menoleh lekat ke arah rumah tempat persembunyian Afrinda, ada yang berat dan menariknya agar jangan pergi, tapi mamahnya juga penting. Menghela napas berat memakai helemnya menacap gas.


"Maafkan aku, Ghar. Afrinda sudah sadar sedang menunggumu, kalau aku kasih tau kamu tadi, pikiranmu akan terpecah. Semoga Afrinda memahami setelah kuberi penjelasan, hahh!"


Sementara di tempat lain Nurma sudah sadar, menunggu suaminya yang belum datang yang katanya pulang ke rumah.


Tiffany tentu sudah mengetahui kejadian gempar di rumah sakit ini, "Apa Om tahu atau ikut terlibat di sini? Awas saja kalau benar, Afrinda kapan kita tidak lagi berurusan. Sial!" rutuknya dalam hati.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2