Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bahaya 4


__ADS_3

"BANNGUNNN!!"


Mata tua itu mengerjap mendengar teriakan dari luar sel dimana dirinya dikurung suaminya sendiri, perlahan mengumpulkan tenaga beranjak bangkit badannya masih sakit lukanya yang kering sebentar lagi akan berdarah lagi biasanya selalu begitu perbuatan tangan suaminya. "Br-am," gumamnya lirih bibirnya bengkak lebam ada bekas darah di sudutnya.


PRRANGGG!!


Suara tendangan besi sel yang sangat menggema mengagetkan jantung Dahlya dengan tangannya mengangkat bobot tubuh meringsuk ke arah dinding, sedetik kemudian engsel pengait pintu besi dudah terbuka langkah Bram semakin mendekat menjepit rahangnya kuat-kuat tatapannya setajam silet, semakin Dhalya menunduk talut semakin kuat ia mencengkram. "Kau belum mau minta maaf padaku, hung? Karena tindakanmu yang memberikan bukti kejahatanku pada jendral sialan itu, aku kehilangan ruang untuk menambah pundi-pundi hartaku. Sayang sekali aku terlalu mempercayaimu, berlagak menikmati hartaku padahal kau yang menghianatiku dari belakang. AKU HANYA INGIN KAU BERSAKSI BAHWA LAPORAN ITU PALSU DAN MINTA MAAF PADAKU, ITU SAJA! TAPI KAU TIDAK MAU MELAKUKANNYA, KAU SOK MENJADI PAHLAWAN KEBENARAN. CIHH-" Bram meldah tepat di wajah istrinya. "AKU JUGA SUDAH LELAH MENYIKSAMU SEPERTI INI HANYA UNTUK MENARIK LAPORAN INI, KATAKAN SEKARANG JUGA BAHWA KAU AKAN MENGIKUTI PERINTAHKU AGAR KAU LEPAS DARI SINI, DAHLYA!!!"


"TTIDAK AKKAN!"


"WWA ITA SIALLAN-"


"AAAHKKK!!" Darah mengalir deras dari keningnya mengotori pipinya. Dahlya terbatuk jemarinya memainkan jejak darah itu, "Lebih baik aku mati ditanganmu sekarang juga, dari pada membusuk dipenjara bernasib sama sepertimu. Kebenaran harus tetap diungkapkan sekalipun kau suamiku, kau sudah terlalu banyak melukai orang lain karena ambisimu." Dahlya terbata batuk menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Aaaaaaaa!!" Bram berteriak histeris, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak menikmati kesakitan istrinya.


"Kau sudah gila, Bram. Haha," ledek Syeni disela-sela ringisannya tersenyum pahit.


"APA LAGI YANG HARUS AKU LAKUKAN AGAR KAU MEMARIK LAPORAN ITU, HAH! AKU SUDAH MEMBEBASKAN AFRINDA HIDUP BEBAS DI LUAR SANA, TAPI KAU MENGINGKARI JANJIMU. AKU TIDAK PERNAH MENGANGGU KELUARGA ALFONSO LAGI, AKU MENAWARKANMU ASET ATAS NAMAMU, SEMUA PERMINTAANMU KUTURUTI, AKU MASIH BERBAIK HATI. TAPI KAU TIDAK MEMCABUT LAPORAN ITU." Bram berteriak frustasi menghadapi istrinya.


"Bunuh aku sekarang," ucapnya pasrah.


Bram menatap dalam istrinya, rasanya sesak cinta tidak akan hilang begitu saja. Beranjak keluar dari sel kurungan menutup pintu menguncinya meninggalkan istrinya yang dalam keadaan terluka.


Gustav, bukan lawan yang diremehkan. Kekuatan mereka bisa dibilang seimbang, rasanya ini gila.


Ketahuilah bahwa Bram bukanlah tipe pria romantis, dia tidak mau tahu itu.

__ADS_1


Selama ini dia tidak membawa pulang Afrinda membiarkannya bebas, itu adalah syarat dari Dahlya agar ia mau bersaksi palsu atas laporan itu. Sampai dengan penyiksaan seperti ini pun tidak mau juga, Bram gundah dengan hatinya. Siapa yang rela menyakiti orang tercinta dengan tangannya sendiri, Bram tidak kuasa menahannya. Di sisi lain amarah meluap-luap dia juga takut kehilangan apa yang dia dapatkan selama ini, dia tidak mau.


Bram masih lebih mementingkan kehilangan harta dari pada nyawa istrinya, begitulah perasaan yang berkecamuk sekarang ini.


Kabur membawa istrinya ke kota ini lalu menyekapnya agar anak-anaknya tidak mengetahui permasalahan ini, tapi ternyata semua kabar mereka sama buruknya.


"Seandainya kau mau memurut, kita pasti sudah pulang dan melihat anak-anak kita, Lassio sendirian merawat Laxsa yang masih sakit, Swan ditempatkan yang tidak ada signal internet. Kau bodoh Dahlya," racaunya dalam mabuknya.


Di dalam sel kurungan Dahlya baru saja selesai diobati, dibaringkan di atas kasur yang usang. Dia menangi seorang diri meratap nasib akibat perbuatannya, tapi tidak apa dia masih kuat. Pengorbanannya agar suaminya lebih baik dipenjara saja, sudah tidak ada lagi cinta dan harapan untuk kedepannya. Biarlah dia yang menanggung akibatnya, yang terpenting tidak ada lagi korban kejahatan suaminya.


Bagaimama dia bisa sampai berhasil membawa bukti itu pada Gustav, ini rahasia, menghubungi Danu dan menceritakan semuanya, membungkus menyamarkan lalu mengirimkannya melalui jasa kurir, dan dari situlah Gustav sampai sekarang masih memegang semua bukti itu.


"Buka pintunya."

__ADS_1


Suara pengawal Bram datang menggendong seseorang perempuan yang tidak sadarlan diri, matanya terbelalak Afrinda pingsan dibaringkan di sebelahnya. "Dia menculik Afrinda," gumamnya cemas.


👇👇👇


__ADS_2