
Berita tentang Gharda yang diduga telah menggelapkan dana proyek menjadi perbincangan hangat, Afrinda sudah membacanya ia terkejut bukan main. Gharda resmi berstatus buronan! Sudah pasti ia tidak percaya. yang menjadi masalahnya ia pun tidak bisa melakukan membantu apa-apa, pengawal papahnya setiap berjaga di sekitar rumahnya. Diam saja itu bukan pilihan yang baik, andai papahnya mengizinkannya keluar bersama Egwin.
Hari pernikahan tinggal satu minggu lagi, semakin sullit ia bergerak.
Suasana sore yang sepi semua orang sudah entah kemana, melompat dari jendela bukanlah cara yang benar. Egwin, rumah sakit. Tersenyum tipis ia mendapatkan ide.
Memperhatikan ruamg sekitar berjalan ke arah kamar mandi, satu teguk tidak akan membuatnya mati, meyakinkan diri meraih botol pembersih lantai mamandang berdegup apakah benar akan meneguknya? Tapi hanya dengan cara seperti ini bisa setidaknya keluar dari kurungan rumah ini, pura-pura bunuh diri.
Berpikor panjang semakin membulatkan niatnya, keluar dari kamar mandi menulis sepucuk surat meletakkan di atas nakas agar terlihat seperti bunuh diri sungguhan. Jika memang nyawanya meregang hanya karna meminum seteguk pembersih lantai, isi surat ini bukanlah kebohongan belaka, adalah isi hatinya selama ini.
Ada cangkir gelas di samping surat, memecahkannya agar suara bantingan terdengar sampai keluar pintu.
Menarik napasnya panjang, menetralkan detak jantungnya, jangan mundur lagi.
Gglukkk!
Pranggggg!!!
Pikiran itu nekat mengorbonkan keselamatannya demi seseorang yang dicintainya
__ADS_1
Gharda tidak bisa pulang ke rumah, Bram lebih cepat bergerak darinya. Lihat saja, malam ini wartawan menyerbu mengerumini rumahnya. Hanya ada beberapa yang masih tinggal di dalam sana menjaga rumah, Jelita sudah dititip pada Egwin, mamahnya dipindahkan keruangan lain agar terhindar dari bahaya. Hampir saja penjaga teledor meloloskan seseorang yang berpakaian suater perawat, jika Gharda terlambat datang tadi pagi, mungkin orang itu sudah berhasil menyuntikkan racun ke dalam cairan infus mamahnya.
"Zal, kamu dimana sekarang?"
Rivzal tidak kalah sibuknya, Bram mengendalikan semuanya dari luar negeri. Sial! Ternyata bukan hanya satu-dua oknum petinggi perusahaan yang berhasil dihasut pria licik itu, bahkan para investor saham pun sudah termakan rayuan busuk pria itu.
Pertahanan mereka tinggal sedikkt lagi, tapi tidak akan menyerah. Tuan Alfonso sudah mendirikan perusahaan sekuat tenaganya, Gharda dan team pun turut berjuang mempertahankan.
Gharda menyusul Rivzal datang secara sembunyi, membuka maskernya sedikit mengambil ruang napas.
"Astrid sebentar lagi datang."
Ya, begitulah akal licik bisnis Gharda.. Padahal ia belum resmi melepas jabatannya meskipun sudah berstatus buronan, masih ada unsur lain untuk memenuhi kriteria agar Gharda wajib melepas jabatan dan menyerahkan saham. Dengan lancang para petinggi dan investor berani mengadakan rapat perebutan saham Gharda yang memang belum dialihkan atas nama Jelita, sedangkan saham lain sudah tersimpan rapi atas nama Jelita dan sudah berstempel sidik ibu jari Jelita yang dilakukan beberapa hari lalu.
"Lalu perkembangan yang lain?" Ghaeda bernapas lega.
"Nihck, saya sudah mengumpulkan data tentang orang itu. Beliau meninggal dibunuh-" Rivzal menyerahkan buku catatan kecil pada Gharda. "Anak buah saya berhasil menemukan keluarga Nihck, dan mereka hanya memberikan buku catatan ini pada kita..Kalau kubaca, sepertinya nama-nama daftar orang yang ditulis di buku itu adalah nama para petinggi dan pegawai sewaktu Tuan besar Alfonso menjadi CEO. Dan jika kutelusuri lagi nama itu, kecuali Pak Duddy, semua nama-nama itu sudah tidak bekerjala lagi di perusahaan kita. Dan saya sudah meminta data ke bagian HRD, tahun masa kerjanya, di situ saat usia anda masih SMP, mereka semua serempak diganti padahal kinerja mereka sangat bagus."
Rivzal dengan cermat menjelaskan semua tentang penjelasan yang ditemukannya.
__ADS_1
"Sebentar-" Gharda mulai memikirkan mengingat sesuatu. "Ayah saya saat itu masih koma, dan kepemimpinan digantikan sementara oleh Dewono. Itu artinya Dewono memang sudah mempersiapkan rencana ini jauh-jauh hari, dia mengeluarkan pegawai terbwik ayah saya, liciknya mengganti dengan pegawai pilihan Dewono."
"Saya ambil kesimpulannya di sini, para petinggi dan investor saham semuanya musuh kita, mereka ikut bermain untuk menggelindingkanmu." Rivzal menimpali.
"Lalu Bram?" Astrid bertanya, sepertinya masih ada yang kurang lengkap.
Gharda dan Rivzal saling pandang.
"Ayah saya memang sangat cerdas, tapi sayangnya Beliau mempunyai bawahan yang ingin merebutvkekuasaan. Bram adalah musih ayahku, sudah pasti Bram mampu menarik orang-orangnya ayah saya berpaling lalu berpihak padanya."
Mereka bertiga mengangguk mengiyakan, sekarang mereka akan melanjutkan misi mereka.
Keheningan pecah deringan ponsel rahasia mikik Ghaeda bergetar.
"Af-afrinda melakukan percobaan bunuh diri, tapi Egwin tidak tahu dibawa ke rumah sakit mana."
Gharda lunglai
👇👇👇
__ADS_1
Hai apa kabar semua. Semoga masih suka sama cerita ini ya.