Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Curhat


__ADS_3

Gharda membantu Afrinda berbaring di atas brankarnya, Dokter Indri melarangnya pulang ke rumah malam ini sidah terlalu larut. Setelah cukup menumpahkan air mata kecewa dalam pelukan Gharda, semua tidak baik-baik saja setelahnya.


"Tidurlah, Frind. Aku akan menjagamu."


Membuka matanya ia berpura-pura tidur, menarik selimutnya mengesah kasar. "Tidak nyaman, Ghar. Aku ingin pulang saja," jawabnya.


Dari raut wajah pun Afrinda memang belum mengantuk, memaksa tidur pun tidak bisa juga. Gharda sudah menahan kantuk tetapi demi kekasihnya ia melawan agar terus terjaga sampai Afrinda yang tidir lebih dulu.


"Kau pasti banyak pikiran'kan," tebak Gharda lebih bwik membuka obrolan saja sampai menunggu mengantuk. Memutar posisi tegak tersenyum hangat.


Membantu Afrinda melaui bertukar cerita seperti ini.


Apa sekarang menceritakannya? Tapi Gharda sudah terlihat lelah sekali, Afrinda tidak enak hati.


"Cerita saja, aku masih kuat untuk mendengarmu."


"Kamu ini," ujarnya salah tingkah pikirannya bisa ditebak.

__ADS_1


Afrinda berada di posisi yang sulit dan serba salah, keluarga kandung dan keluarga angkatnya yang memenuhi isi kepalanya. Sudah mengetahui siapa orang tua kandungnya tetapi dalam waktu yang salah, ibunya lebih memilih Tiffany sebagai posisi dirinya, Tiffany menganggapnya rival, ayahnya akan jauh darinya.


Ia tahu ibunya sudah terkena hasutan Tiffany, tapi di sisi lain hatinya tidak bisa berbohong sakit sekali mendengar penolakan yang tadi. Mau membalas Tiffany yang berniat membunuhnya pun enggan, cukup berurusan jangan sampai panjang bisa saja dimanfaatkan aTiffany menjelekkan namanya di depan ibunya. Afrinda masih rindu, pasti. Namun untuk saat ini situasi tidak mendukung untuk hal itu, mengambil keputusan meninggalkan kota ini biarlah Tiffany hidup dengan orang tuanya, Afrinda percaya suatu hari nanti kedua orang tuanya akan mengakuinya, ini masalah waktu dan pikiran ibunya pasti akan mulai terbuka. Tapi dimana lagi ia tinggal setelah ini?


"Lusa kita akan pulang ke rumahku, kamu bisa tidur bersama Jelita atau-"


"Apa? Iiih, kita belum menikah sudah satu rumah," hardik Afrinda kesal dengan gaya genit Gharda.


"Ya bukan langsung satu ranjang juga, kamu yang pemikirannya terlalu jauh. Atau jamgan-jangan kamu yang sudah tidak sabar ing-auhh Frind, sakit ini Frind!"


"Rumah itu bangunannya besar, Frind. Tetangga jarang interaksinya, agar kamunya percaya, nanti pakai surat izin dari RT saja. Intinya aku memberi perintah kamu tinggal di rumahku, jangan membantah."


Afrinda pasrah saja, mau dimana lagi kalau bukan di rumah Gharda. Dia masih dalam pengawalan ketat menghindari dari serangan Bram.


Oh iya, tentang keluarga Sinatran. Entah mengapa pernah sekali ia bermimpi buruk tentang mamah Dahlya, dan rasanya mimpi itu seperti nyata, mamahnya terkapar bersimbah darah ditembak papahnya Bram. Dan sampai detik ini hati kecilnya selalu gelisah tiap mengingat mamahnya, seperti ada firasat buruk.


"Jangan terlalu mencemaskan mimpi itu, kami masih mencari tahu keberadaan keluarga Sinatran. Semoga mamahmu baik-baik saja."

__ADS_1


Rasa trauma karena hampir mati keracunan oleh keluarga itu, membuat Afrinda menyumpan rasa dendam tersendiri. Namun sedetik kemudian hatinya menghangat bagaimana pun keluarga itu setidaknya sudah membesarkan dan memberi dia nama yang cukup mempengaruhi kehidupannya. Dendampun tidak mengubah apapun, toh ibu kandungnya pun menolaknya.


"Fokus dengan kesehatanmu saja, setelah itu kamu akan bermanfaat untuk rencana ini."


"Apa aku ada kesempatan untuk membantu kalian?"


"Nanti dulu, kesembuhanmu yang terutama."


Afrinda tidak melanjutkan pembahasan lagi, Gharda memaksanya cepat tidur.


Beberapa menit akhirnya Afrinda sudah masuk ke dunia mimpi, membuka ponselnya mengetik sesuatu bertukar pesan dengan Rivzal.


Tersenyum sinis, jangan harap ia membebaskan Tiffany begitu saja di sini. Menggangu ketenangan wanita itu, Ardan dan Shandi bersiaplah mengguncang dunia Tiffany.


👇👇👇


Sekali sehari updet nya

__ADS_1


__ADS_2