Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Menjelang Pertunangan


__ADS_3

"Tiffany!"


Danu menggedor-gedor pintu kamar sambil berteriak kencang memanggil, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan sudah waktunya harus segera betsiap untuk acara pertunangan dua jam lagi. Sekali lagi memanggil tidak ada yang menyahut dari dalam, dua orang wanita perias sudah menunggu berdiri di belakangnya.


Istri Danu muncul dengan dipapah salah satu perawat memberi saran agar mendobraknya saja, Danu menendang pintu hingga terbuka lebar mengalami kerusakat pada bagian kenop engsel.


"Kau!" pekik Danu marah Tiffany masih tenggelam dalam selimutnya, menyibakkan selimut kasar menarik tangan Tiffany duduk badannya hampir terpental.


"Mas, jangan seperti itu membangunkannya!" Nurma istri Danu memberi peringatan keras, andai saja badannya sehat sudah pasti ia bisa melawan tindakan suaminya ini.


"Diam kau, Nurma!" bentaknya pada sang istri. Menyentil kening Tiffany meninggalkan bekas matanya akhirnya terbuka.


"Dandani dia secantik mungkin." Danu berlalu.


Nurma mendesah panjang mempersilalan kedua perias dan meminta maaf tentang yang tadi sekaligus menyampaikan agar jangan membocorkan hal ini kepada siapa pun.


Mandi dalam waktu singkat memakaikan gaun yang telah disispkan, entah mengapa rasanya mau tidur lagi memejamkan mata perias mengajak mengobrol mengalihkan perhatian Tiffany.


Semua sudah siap tinggal menunggu kedua mempelai datang, Tiffany dari kamarnya sementara Gharda sedang dalam perjalanan.


Wajahnya murung duduk di samping mamahnya, Ny.Syeni mengusap bahu putranya, Mang Leo fokus mengemudi. Rivzal katanya tidak bisa hadir ada hal penting di perusahaan, Jelita sekolah karena memang anak-anak tidak diberitahu.


Gharda sudah mempersiapkan apartement untuk Tiffany, biarlah wanita itu tinggal sendirian disana. Mengeotak-atik ponselnya menunggu pesan dari Egwin, entah apa yang akan dilakukan temannya itu padanya.

__ADS_1


Di tempat lain Afrinda juga sudah bersiap dengan segala perlengkapan yang sudah dipakai, wajah murung masih tetap terlihat meskipun ditutupi riasan yang melekat sempurna di wajahnya.


"Jangan menangis terus ya, Cantik. Nanti bedaknya luntur," ujar Lety mengusap jejak air mata Afrinda.


Afrinda hanya tersenyum kecut, pandangannya beralih pintu mamahnya muncul dari luar membawa sesuatu yang wajib dipakai Afrinda lagi.


"Nyonya ini bagaimana sih. Sudah dirias cantik-cantik, eh matanya ditutup lagi, make upnya jadi jelek," protes Lety jengah.


"Suami saya yang menyuruh, cepat pasangkan ini."


Menyentak dengan kasar Lety gerakan lembut memakaikan alat penutup bibirnya terus mengoceh.


Afrinda tidak bisa melawan hanya pasrah saja tidak banyak bicara.


Pertunangan Egwin dan Afrinda dilakukan di tempat yang sudah disewa, gedung ini lokasinya cukup tertutup dari keramain. Tamu yang datang hanya keluarga besar Egwin dan beberapa anggota keluarga Bram saja, nanti akan ada petugas pembawa acara dan adat pertunamgan.


Orang tua Egwin sudah tersenyum sumringah berkhayal menjadi mantu orang kaya, si mamah yang tidak berhenti berkaca dan si papah sudah menghitung-hitung kemana saja nanti akan digunakan uang yang akan diberikan Bram padanya secara tunai.


Di sudut ruangan Egwin memasang jas merapikan dasinya, berjalan melongos menatap kesal pada orang tuanya.


"Berapa yang dijanjikan Bram pada kalian sebagai hasil penjualan harga diriku? Tanyanya memandang penuh kebencian.


"Apa? Ini bukan masalah uang, sayang. Tapi demi keselamatan rumah sakit kita," jawab papahnya Egwin mengelak hampir gugup.

__ADS_1


"Cih," decak Egwin. "Seratus juta? Dua ratus juta?"


"Egwin." Mamahnya mulai terpancing emosi.


Mendekat ke telinga mamah dan papahnya menatap tajam. "Jangan kira Egwin tidak tahu akal busuk kalian. Mamah yang mencuri data rumah sakit lalu menjualnya pada Bram, iya kan."


Wanita paru baya itu meremang terdiam kaku. "Jangan asal bicara menuduh mamah."


Menjauhkan wajah Egwin tertawa devil, "Kalian hanya seorang paman dan bibi yang serakah ingin merebut harta warisan peninggalan orang tua kandungku." Dari mana dia mengetahui rahasia besar ini? "Kau dan kau!" Menunjuk-nunjuk orang tuanya "Adalah musuh dalam selimut di hidupku. Tidak segampang itu kalian merebut semuanya, karena kasih sayang dari lahir sampai detik ini tidak tulus dari hati kalian."


Tidak perlu tahu dari mana Egwin mencari tahu, tetapi yang pasti ia sudah mempunyai cara untuk membalas perbuatan orang yang sudah mengaku-ngaku sebagai orang tua kandungnya.


👇👇👇


Burung cendrawasih makan kaca


Minuknya juice putri malu


Tetima kasih yang setia membaca


Semoga kalian mampir selalu..


Juice putri malu?🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2