Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Ingatan


__ADS_3

"Namanya Jelita, karena wajahnya cantik seperti kamu," ungkap Gharda mencium kening bayi Jelita yang sedang di gendong Araz.


Jika diingat kilas enam tahun lalu saat Jelita masih dalam kandungan pun, Gharda adalah benar-brnar sosok garda terdepan untuk siaga mememuhi masa ngidam bahkan rela menahan kantuk menemi Araz yang tidak bisa tertidur. Sosok ayah paling antusias mempersiapkan segala sesuatu untuk babynya yang sebentar lagi lahir, merencanakan catatan masa depan Jelita. Araz adalah wanita paling bahagia saat itu.


Kelahiran tiba, Gharda rela meninggalkan client pentingnya berlari mengejar persalinan istrinya. Menyeka keringat membiarkan tangannya dicakar, bahkan dialah yang mempersiapkan namanya. Berjanji akan menjaga dan membahagiakan Jelita putrinya.


Tapi sekarang kenyataannya berbanding terbalik, kejadian ulang tahun pertama Jelita itulah awal dari segala kepercayaanya hilang. Pikirannya dikuasai dengan hal jahat yang akan dibuktikannya hari ini, hari ulang tahun Jelita yang ke lima.


Pulang ke rumah dengan membawa kado untuk Jelita, namun kekecewaan yang diterimanya. Araz dan Rooby, si mantan kekasih Araz.


"Jelita juga anakmu, Rob! Kau mau membunuhnya?!"


Teriakan Araz dari dalam rumah mengoyak hatinya, dan hanya dengan ucapan itu Gharda berlalu pergi tidak mempedulikan penjelasan Araz bahkan sampai istrinya meninggal pun kebenaran itu tidak dicarunya.

__ADS_1


Gharda terbangun tersentak dengan mimpinya, mengucek matanya melihat jam pukul 05:30 pagi. Bergegas mempersiapkan diri untuk hari ini, Jelita masih tidur meringkuk di dalam kamarnya, selimut sudah bergeser ke sembarang arah.


"Bagaimana jika dia benar anakku? Pasti salah, Jelita anak Robby, anak Robby!" tekatnya dalam hati.


Hatinya gamang membayangkan kedua-duanya, sudah terlanjur menyebur sekalian basah semua. Apa pun nanti hasilnya, tetap ia harus bertindak hati-hati.


"Hari ini tidak ada sekolah, gurumu semua sedang rapat," ucapnya bohong. Gharda harus bisa membawa Jelita hari ini, mamahnya belum pulang dan ini kesempatannya.


"Miss Frind tidak ada bilang begitu, Ayah. Allen juga sekolah hari ini!" Jelita menolak ayahnya.


"Tan-tante menor, Jelita tidak mau ikut!"


Gharda menggendong Jelita memaksa masuk dalam mobil.

__ADS_1


Sementara di dalam ruang kelas, Afrinda sudah mempersiapkan kueh ulang tahunnya, Nyonya Syeni sudah datang membawa snack untuk anak-anak, Bu Kepala Sekolah sudah hadir.


Menghubungi nomor Gharda, tapi tidak aktif. Nomor Rivzal diangkat, tapi Rivzal sedang diluar kota menghadiri rapat mewakili Gharda. Sekretaris Gharda, Gharda belum datang sampai sekarang.


Mang Leo, bangun-bangun rumah sudah sepi, ternyata Jelita belum sampai di sekolah? Mang Leo berpikir Gharda sudah mengantarnya.


Afrinda mengesah kasar, perasaannya tidak enak sekarang. Apa lagi anak lainnya sudah gelisah ribut tidak setenang tadi lagi.


Dua jam mereka menunggu dengan kegelisahan, akhirnya memutuskan untuk mencari melalui cctv rumah, Nyonya Syeni pulang ke rumah Gharda. Afrinda membagi snack kepada semua anak-anak dan menyimpan kueh ke kulkas uks sekolah.


Melanjutkan pelajaran tapi pikirannya sudah kacau, duduk di kursi guru membiarkan murid-muridnya bermain sendiri dan ada yang asyik memakan snacknya.


Menelepon Rivzal bertanya kata sandi komputer yang terhubung dengan cctv, dengan kening mengkerut Syeni berhasil membuka kode komputer mencari rekaman cctv tanggal hari ini.

__ADS_1


Matanya terbelalak melihat Gharda membawa Jelita secara paksa, tangganya bergetar badannya limbung tangisannya pecah. Perasasnya sudah membayangkan kejadian yang tidak baik.


👇👇👇


__ADS_2