Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Gagal


__ADS_3

"Buka pintunya!!"


"Tolongg!!"


Berapa keras pun tangannya menggedor pintu bahkan ruas jarinya sudah memerah berusaha sekuat tenaga agar orang yang di luar bisa mendengar suaranya dari dalam, berteriak sekencang mungkin kakinya menendang daun pintu berkali-kali.


Saat Allen masuk mencarinya ke dalam, ia bersembunyi di balik dinding kaca, anak kecil itu tidak sempat melihatnya. Tapi satpam itu orang dewasa dan bekerja di sini, harusnya mudah menemukannya. Tapi ini seperti ada yang janggal, dirinya sengaja dikunci dari luar. Tiffany frustasi kehilangan sinyal ponsel tidak bisa menghubungi siapa pun untuk membawanya keluar dari sini. Satu hal yang bisa dipahaminya dari situasi ini, ada seseorang yang berniat menghalangi rencananya agar tidak ikut dalam konsversipers sekarang ini tapi tidak tahu siapa orangnya.


Di dalam sana semua wartawan yang sudah bersedia dengan alat pekerjaan mereka duduk tenang mulai meliput klarifikasi yang akan disampaikan Gharda, berbisik-bisik menunggu kehadiran Tiffaby yang sudah terlambat tidak kunjung muncul.


Gharda duduk gelisah di samping mamahnya, menghubungi Tiffany nomornya tidak aktif mencoba memanggil beberapa kali sama saja tidak ada.


"Kalian lihat sendiri, nomor Tiffany tidak aktif. Kami sudah menbuat janji untuk hari ini tapi dia juga tidak hadir."


"Saya tidak tahu kemana. Tiffany sangat sibuk akhir-akhir ini banyak pekerjaan, entah di mana dia tidak menyempatkan hadir, saya tidak tahu jadwal pekerjaanya."


"Selama Jelita sakit dia tidak pernah menjenguk, alasannya selalu sibuk ini itu."


"Kami terakhir bertemu saat hari ulang tahun Jelita."


"Anak saya sakit waktu itu, dia sedang sibuk, hal itulah yang membuat komunikasi kami tidak lancar. Tidak ada waktu memikirkan tentang cinta saat anak sakit. Kami tidak pernah ada kata putus!"

__ADS_1


"Tentang hubungan kami, itu adalah urusan kami, bukan untuk konsumsi publik. Ganti ke sesi pertanyaan selanjutnya."


Wartawan bungkam sebenarnya tidak puas dengan jawaban yang mereka dapatkan, hanya bisa diam tidak berani bertanya memaksa karena ini seorang Gharda tidak sembarang orang.


Rivzal mengambil alih mikrofon membuka pertanyaan sesi kedua, tentang hubungan dengan Afrinda.


"Afrinda adalah guru anak saya di sekolah."


"Saya dan Afrinda tidak menjalin hubungan spesial yang seperti berita itu tulis, tapi kami saling membantu untuk pemulihan Jelita saat ini."


"Afrinda adalah guru yang baik dan penyayang cocok dengan Jelita, bisa memahami karakter murid termasuk anak saya sendiri. Menurut saya, wajar jika saya terlihat dekat dengan Afrinda, saya pun ayahnya bisa belajar banyak tentang memahami Jelita dari Beliau."


Ekspresi Gharda datar-datar saja saat menjelaskan menjawab pertanyaan dari wartawan, sulit ditebak apakah itu hanya alasan klise atau memang jawaban sebenarnya. Satu pun tidak ada jawaban yang menegaskan tentang hubungan mereka bertiga, justru semakin dibuat penasaran saja.


Waktu satu jam bergulir tidak memuaskan, lampu ruang studio dipadamkan pertanda sudah berakhir. Wartawan pulang dengan hasil yang tidak ada jawaban pasti, judul apa lagi yang akan mereka tulis.


Gharda melonggarkan ikatan dasinya menarik napas panjang, wajahnya sudah semakin memucat kelelahan energi dan pikiran.


"Lebih baik kamu pulang saja tidur, istirahat di kamarmu ini juga tidak buruk. Jangan memaksa kerja, Ghar." Rivzal datang berbicara sebagai sahabat.


"Jelly dan Allen jalan-jalan bersama mamah hari ini," lapornya.

__ADS_1


"Pekerjaanku masih banyak," tolak Gharda tegas.


Tidak bisa dibiarkan, Gharda harus secepatnya pulang. Rivzal menakut-nakuti Gharda nanti bisa sakit kalau menahan lelah, kalau sudah sakit pasti tidak bisa beraktifitas seperti biasa.


Pada akhirnya Gharda mau pulang juga, sebelumnya mencium kening Jelita pamit pulang duluan.


Tersenyum senang, Nyonya Syeni dan Rivzal saling bertos ria.


Sementara Tiffany masih terkunci, hampir satu setengah jam lamanya membuatnua ketiduran bersandar di daun pintu.


Seorang OB datang membersihkan kamar mandi dengan enteng membula pintu membuat keduanya sama-sama terkejut, tidak mau berdebat panjang Tiffany melongos keluar membanting tongkat pel.


Semuanya sudah selesai, wartawan sudah pulang, Gharda tidak enak badan pulang kata sketarisnya. Apa yang disampaikan Gharda tadi? Ahkkk!! Semuanya gagal, padahal ia sudah mempelajari akting untuk skenario buatannya.


👇👇👇


Satu bait pantun:


Pergi ke Bandung bareng si Dudung


Bawa buah pir di dalam mangkok

__ADS_1


Terima kasih sudah mendukung


Jangan lupa mampir lagi besok....


__ADS_2