
Bagaimana pun caranya Ardah harus berhasil kali ini untuk membawa Nurma keluar dari ruang suaminya dirawat, bersikeras wanita paru baya ini menolak ingin terus menjaganya.
Tiffany pamit pulang setelah mengeluh kelelahan bergantian menjaga ayahnya dan harus membuka warung hari ini, disinilah kesempatan Ardan memaksa Nurma alasan makan siang.
Awalnya Nurma tetap tidak mau lagi pula jam makan siang masih setengah jam lagi, akhirnya luluh juga setelah Ardan pintar berakting memohon. Bukan di kafetaria rumah sakit sekitar area, sengaja membawa menyebrang jalan raya restourant yang sedang padat pengunjung.
Berlama-lama memilih menu dan memberi isyarat pada si pelayan peka untuk memperlambat waktu, mengajak mengobrol Nurma mengalihkan perhatian topik tentang Danu.
Pamit sebentar ke toilet, Ardan memghubungi Gharda apakah sudah bisa pulang atau belum karena sewajarnya memang sudah saatnya untuk kembali ke rumah sakit, dan ini saja sebenarnya sudah terlewat lima belas menit.
Gharda tidak mengangkatnya sementara Nurma ngotot meminta agar segera pergi dari restourant ini, dengan berat hati menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di depan pintu ruangan Danu.
Tidak sabaran tangpan Nurma meraih gagang pintu, Ardan sudah panik di belakang membaca pesan singkat dari Gharda baru saja masuk mengatakan bahwa Afrinda belum keluar.
"Ayah, aku masih merindukan sosokmu dalam hidupku."
DEG.
__ADS_1
Suara itu, membatalkan niat melepaskan tangannya dari gagang pintu entah mengapa rasa penasaran ingin mendengar suara itu lagi padahal biasanya dengan kejam ia mengusirnya.
"Aku lemah berjuang tanpa ayah, kalau bukan karena suami dan martuaku rasanya aku bisa saja mendendam pada ibu. Baiklah agar kuceritakan. Aku sudah beberapa kali menemui menjenguk ayah, bahkan aku sampai menyeret darah dari tanganku yang belum sembuh, mengabaikan saran dokter karena aku terus berusaha menemui ayah, waktu itu aku membentak martuaku karena melarangku pergi ke sini aku masih sakit, saat aku mulai pulih pun aku tetap berusaha sampai-sampai hampir melupakan suamiku juga butuh aku disisinya, semuanya kulakukan mencemaskanmu, ayah. Tetapi apa yang justru kudapatkan dari ibuku sendiri, dengan lantang mengusirku melarangku jangan berhubungan lagi pada kalian, katanya karena kami ayah jadi seperti ini. Apa iya, ayah?
Ibu membandingkanku dengan Tiffany, tidak mau mengakuiku. Aku pernah benci akan hal itu, namun aku tersadar setelah suami dan martuaku menasihatiku tidak boleh seperti itu.
Kumohon ayah bangunlah, bantu aku untuk merebut hati ibu mau menyayangiku, aku rindu kalian orang tua kandungku. Bangunlah!"
DEG
Nurma merosot setelah mendengar curahan hati Afrinda dari celah kaca pintu, dirinya ikut menangis terisak memgingat perbuatannya menyadari kesalahannya. "Afrinda," panggilnya lirih menangis.
"DOKTER, DOKTER AYAH SADAR!"
Afrinda berseru perasaan tidak menemtu, sang dokter sigap memerika kondisi tubuh Danu sudah membuka matanya. Nurma berlari menerobos ke dalam ruangan menangis terharu memeluk suaminya, Afrinda mumdur ketakutan terkejut ia ketahuan oleh ibunya.
Semuanya sudah stabil, tinggal menunggu hasil observasi. Egwin tetap tinggal di dalam, dokter yang satunya permisi keluar melanjutkan tugas, Afrinda menunduk takut di samping suaminya.
__ADS_1
"Mas kau akhirnya bangun juga," ungkap Nurma merasa bahagia menciumi wajah suaminya.
"Afrinda mana, bu."
Bukan dirinya yang disebut lebih dulu, Nurma terdiam kaku menoleh ke arah yang dimaksud suaminya.
"Afrindah," panggil Danu dari dalam masker oksigennya.
Tidak peduli lagi dengan ibu ya, Afrinda menangis terharu memeluk tubuh ayahnya. "Aku disini, ayah. Ayah," semakin menangis kencang.
"Kau tidak apa-apa, kau masih hidup." Dengan tangan yang masih belum bertenaga menangkup wajah putrinya memandang penuh syukur dirinya ikut menangis.
"Putriku masih hidup," gumam Danu sudah tersadar dari mimpi buruknya."
"Jangan pikirkan apa pun dulu, ayah. Ayah juga harus sembuh ya, aku takut kehilanganmu ayah."
Nurma terdiam ditempatnya, ternyata sebegitu besar rasa cinta ayah dan anaknnya, kemarin ia menolak mentah saran dari Egwin untuk mencoba metode ini, nyatanya berhasil. Semakin tercolos hatinya mengetahu bahwa Afrinda sempat membencinya. Memberikan ruang untuk sepasang ayah dan anak ini kehadirannya terabaikan, berjalan lungkai keluar kamar rawat duduk dikursi tunggu dengan perasaan sejuta sesak.
__ADS_1
👇👇👇