Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Adik-Adik 1


__ADS_3

"Gharda bangun!" Mengguncang bahu suaminya sudah jam berapa tapi tidak mau beranjak dari tempat tidur.


"Ghar, cepatlah bangun. Melewatkan sarapan pagi, Jelita memintamu memgantarkannya sekol-aaah, Ghar;"


Bukannya mendengar ocehan istrinya, Gharda semakin merapatkan diri memeluk guling tetap memejamkan matanya.


"Apa dia demam ya-" Meraba permukaan kening pipi menggunakan punggung tangannya, "Agak hangat ya," gumamnya khawatir. "Tunggu sebentar ya, kebawah mau titip Jelita sama mamah."


Gharda tidak menyahut, kepalanya sedikit pusing tapi ini masih basih dilawan.


Setelah bertemu meminta tolong pada mamah untuk mengantar Jelita dan menyiapkan sarapan pagi dibawa ke kamar, meletakkan di atas nakas membangunkan suaminya.


"Gharda, bangun dulu sarapan minum obat."


"Engh-" melenguh mengedipkan mata.


"Kamu ya, isss, cepat bangun!" Satu bantal guling melayang di tubuh Gharda.


"Ghar, Ghar! Panggil aku sayang dulu, maka aku akan bangun," rengeknya manja.


"Ooooh ada maksud ternyata-" Afrinda mencebik. "Sayangku Suamiku Cintakuu, ayoo bangun, ayo bangun, bangun bangun, bangun bangun bangunn!!"


Sungguh nyanyian Afrinda tidak sepadan di telinga, pada akhirnya Gharda terbangun juga mencuri ciuman di pipi istrinya wajahnya sudah jauh lebih segar.


"Aku siapkan air hangat untukmu."


Telaten Afrinda melakukan tugas cinta untuk suaminya lalu menggiring badan kekar Gharda malas melangkah ke dalam kamar mandi.


Menggantikan sprai menggulung-gulungnya sisa percintaan tadi malam, nanti ia yang akan mencucinya sendiri, kemudian menggantikan memasang sprai yang baru dari lemari.

__ADS_1


"Loh, kenapa sprainya diganti?" Gharda tahu-tahu sudah muncul dari dalam kamar mandi mengeringkan rambut memakai handuk kecil.


"Kenapa apanya? Sprainya sudah kotor ya jadi sudah sewajarnya diganti, pertanyanmu ada-ada saja," heran Afrinda berdecak.


"Yaah, padahal rencananya tadi mau lanjut yang tadi malam loh." Gharda memasang mimik wajah menggoda.


"Tidak. Lagi sakit juga, sempatnya memikirkan tentang itu terus."


"Aku sehat-sehat saja kalau mau begituan, berapa ronde pun masih sanggup. Tawar kamu mau berapa ronde, humm?"


"Iih-" Merinding dengan senyum mesum suaminya. "Tulangku bisa patah kalau begitu."


Masih melanjutkan perbincangan abstrud tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar sana Afrinda membuka dan Bibi Emma yang datang.


"Ada apa, Bi?" tanya Gharda mengunyah sarapannya.


"Siapa?" Afrinda mulai merasa tidak enak.


"Adik-adik Nona."


"Bi, bawa ini ke dapur, suruh mereka menunggu."


"Baik, Tuan."


Gelagat Afrunda tidak segarang tadi, sangat tidak enak dipandang mata. "Tenanglah, aku ada bersamamu," ucap Gharda memberi dukungan menggandeng mengambil amplop dari lemari lalu berjalan keluar bersama sampai di ruang tamu, lagi pandangan Gharda saling tajam pada Laxsa, tidak usah ambil hati duduk menyilang kaki.


"Selamat pagi, Kak, Tuan-Eh-Abang ipar," Lassio gelagapan tidak tahu mau bersikap seperti apa pada kakak iparnya ini.


"Jangan banyak basa-basi, ada apa kalian kemari." Gharda mengintimidasi ke tiga pria ini.

__ADS_1


Tersenyum sinis pada Laxsa memandang kaki pria itu penuh maksud.


"Mana saham yang kami minta kemarun, kau harus menepati janjimu Afrinda." Laxsa langsung berbicara pada intinya.


"Yang sopan memanggil istri saya, Afrinda itu kakakmu. Paham!" bentak Gharda tidak terima dengan kelakuan tidak hormat ini.


"Kaka!" Laxsa tertawa mengelegar. "Sejak orang tua saya meninggal hanya karena dia-" Tangannya menunjuk-nunjuk Afrinda. "Dia bukan lagi bagian dari keluarga Sinatran, kami tidak pernah lagi menganggap dia sebagai kakak di keluarga ini!"


Deg.


Afrinda merasakan nyeri dalam hatinya, "Laxsa," ucapnya tercekal.


Lassio dan Swan diam menunduk.


"Begitu bicaramu!" Gharda lebih marah lagi. "Uang istri saya sudah habis membeli rumah baru untuk kalian, menebusmu dari rumah sakit, membayar ganti rugi yang dibuat papah kalian itu. Kau tidak menganggapnya lagi?"


"Saya tidak peduli apa pun lagi. Yang terpenting serahkan saham itu pada kami, maka kita tidak mempunyai ikatan lagi." Laxsa berucap tanpa pikir panjang.


"Laxsa, saham itu bukan untuk main-main " Masih mencoba lembut penuh kesabaran.


"Jangan terlalu banyak argumen, kau mau memberikannya atau saya yang akan memoroti uangmu tiap bulan. Pilih!"


"Tidak tahu diri!" hardik Gharda.


Harga saham itu jika dicairkan jumlahnya lumayan banyak, jika mereka pandai mengelola atau investasi, tiap tahun saham bisa naik, maka harga pun semakin lebih tinggi.


"Laxsa, Laxsa, kau licik sekali. Kita bertemu di persidangan!" seru Gharda mengejutkan semua orang.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2