Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Ungkapan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Afrinda!!" Egwin menggendong tubuh lemas Afrinda panik melewati tamu undangan langsung membawa ke dalam mobilnya, Bram mengepalkan tangannya berseru memanggil Egwin sangat marah jangan bertindak tanpa perintahnya. Tidak menghiraukan tangan yang satunya membuka pintu menempatkan posisi Afrinda memakai tali pengaman duduk dipan tergesa masuk dirinya sudah duduk di bamgku kemudi menakan klakson sekencang mungkin agar satpam membuka gerbang.


"Jangan biarkan Egwin keluar!" Bram muncul dari dalam rumah dengan gaya berdiri yang angkuh memberi perintah pada beberapa satpam penjaga pintu gerbang utama.


Ttttinnn!


Suara klakson semakin lama semakin tidak terkendali, melihat ke belakang Bram tersenyum merendahkannya dari luar jendela mobil. Menoleh ke samping wajah Afrinda semakin pucat tubuhnya berkeringat padahal AC sudah menyala, perasaanya menjadi tidak karuan namun orang ini menghalangi membwa ke rumah sakit.


Terganggu dengan keributan di telinganya, memaksa diri untuk terbangun samar-samar pandangannya tertuju pada Egwin yang duduk di sebelahnya.


"Dok-ter," panggilnya sangat lirih, untuk bersuara saja butuh tenaga yang sangat banyak.


Tersentak Egwin semakin panik melihat Afrinda yang sudah sadar, sebagai seorang dokter pasti ia sudah menangkap ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh Afrinda.


"Frin jangan banyak bergerak ya, kita akan kerumah sakit."


"Sa-sakhit, hah." Detik itu Afrinda jstuh pingsan lagi.


Keluar dari mobil membawa Afrinda keluar melewati gerbang berlari sekuat tenaga melawan petugas satpam, bobot tubuhnya terasa sangat ringkih dan wajah Afrinda sudah sangat kusam.

__ADS_1


Bram hampir membunuh orang-orangnya tidak becus melakukan tugas, Dahlya membisikkan agar tetap menahan diri ada beberapa tamu yang bisa saja menghancurkan namanya jika Bram nekat melukai putrinya.


Sementara pemuka agama dan pembawa acara pulang setelah menerima upah.


Tidak ada yang menyusul mobilnya, menaikkan tubuh Afrinda ke atas brankar tangannya sendiri yang akan menawarkan menangani secara langsung


Benar dugaanya, akibat stres yang berkepanjangan membuat fisiologisnya berkurang, kesehatan yang menurun serta dehidrasi membust bibir Afrinda mengering. Tekanan yang dialaminya membuat Afrinda lupa makan, lambungnya sedikit bermasalah.


Menjelaskan melalui panggilan di ponsel, Egwin meminta izin agar Afrinda menginap malam ini.


Bram setuju-setuju saja mengirim anak buahnya untuk mengawasi Egwin dan Afrinda, berdiri di balik pintu ruang rawa.


Sepanjang pingsan sudah berapa kali Afrinda tanpa sadar meyebut nama Gharda, Egwin memalingkan wajah menutupi rasa cemburunya pada pria yang sangat dicintai walaupun dalam keadaan seperti ini pun. Menarik napasnya kasar memikirkan cara agar ia bisa cepat melupakan perasaanya pada Afrinda. Semoga bisa.


Mata Afrinda terbuka lebar membulat sempurna refleks tangannya terayun menjauhkan wajah Egwin dari wajahnya, gelagapan merona malu.


"Dokter mau melakukan apa?" Kesadaran Afrinda pulis sepenuhnya, jantungnya tidak karu-karuan saat ini. Ingin mencabut jarum infus cepst Egwin mencegahnya seraya meminta maaf menahan bahu Afrinda duduk kembali.


"Apa yang mau dokter lakukan padaku?"

__ADS_1


"Ma-maaf, Frind. Tadi aku-"


"Dokter Egwin." Mendesaknya.


"Say-aku, sebenarnya cinta sama kamu, Afrinda." Pada kenyataannya perasaan itu lolos dari bibirnya, sekuat apa pun ia mempertegas janjinya pada Gharda tetapi sulit untuk tidak mengungkapkannya sama sekali.


"Jangan katakan itu."


Gelagat Afrinda yang sudah memperlihatkan tanda kecemasan yang berlebih sama seperti diagnosanya barusan, fakta bahwa memang Afrinda tidak pernah mencintainya sama sekali.


"Istirahatlah dulu. Lupakan perkataan saya tadi." Setelah mengucapkan itu Egwin melangkah keluar berhenti sejenak menoleh ke arah Afrinda tatapan kecewa, menarik napas panjang menutup pintu hati-hati.


Saya! Sebutan ini sangat terasa jauh untuknya.


"Dokter Egwin, maafkan aku. Walaupun aku menolakmu, tapi kumohon jangan menjauhiku. Bolehkah aku egois?!" Afrinda menangis.


"Gharda. Aku lega sudah mengungkapkan perasaanku, aku kecewa pada kenyataan Afrinda lebih mencintaimu, padahal sebelumnya aku sudah mengetahuinya. Aku akan berusaha untuk merelakan cintaku demi kebahagian Afrinda."


Mengusap wajahnya kasar menyeka air matanya.

__ADS_1


👇👇👇


Maaf kalau nggak ada manis-manisnya


__ADS_2