
Suasana rumah tidak sehangat biasanya, Tiffany berada diposisi tengah anrara kedua orang tuanya. Nurma dan Danu sudah berterus terang menyampaikan kepada Tiffany permasalahan yang dihadapi, hanya berdiam sedih tidak tahu berkata apa tetap fokus pada usaha warungnya.
Danu setuju saja dipanggil ayah, pria itu tidak mempermasalahkannya. Tiffany masih tetap diperlakukan dengan baik oleh kedua orang tuanya, tidak ada yang berbeda jika saat bersama Tiffany, kedua orang itu sangat pandai menjaga perasaan gadis yang sudah menjadi putrinya ini.
Tapi tetap saja rasanya berbeda, Danu dan Nurma memiliki pendirian yang berbeda tentang Afrinda. Jika Nurma tetap tidak mempercayai, Danu sebagai ayah tetap pergi menjumpai Afrinda masih dipanggil sebagai paman. Berdebat empat mata melarang Danu berhenti memperlakukan Afrinda seperti itu, hati Danu diremas mendengar ucapan istrinya itu. Dan hal itulah yang menyebabkan sampai sekarang Afrinda tidak diberitahu kebenarannya, ia tidak mau putri kandungnya merasa sakit hati akan penolakan ibu kandungnya.
Danu ingin menyalahkan keberadaan Tiffany yang selalu disanjung istrinya, padahal ia sudah berjanji tetap menyayangi Tiffany meskipun Afrinda ada ditengah mereka, istrinya menyanggah hal itu lebih memilih Tiffany. Dengan pemikiran dewasanya Danu menekan rasa kebenciannya pada Tiffany, dan ya beginilah keadaanya.
Melancarkan aksi murungnya ia berhasil mengerat orang tua ini digemgamannya, biarkan Afrinda tetap bodoh menganggap Danu paman bukan ayah. Tidak terlalu dalam ikut campur ia tetap mengerjakan aktivitasnya, dihadapan ibunya Nurma berkata siap menerima Afrinda, dalam hatinya ia melawan. Dihadapan Danu ayahnya ia berusaha mencari perhatian menjadi anak yang baik dan penurut mendekatkan diri, padahal fisiknya menolak lebih nyaman interaksi tidak terlalu akrab seperti dulu.
Menelesup ke kamar orang tuanya mencari sesuatu mencakar hati-hati agar tidak meninggalkan kecurigaan, tersenyum sinis membaca dan memotret alamat dimana Afrinda tinggal sekarang.
__ADS_1
Hampir saja ketahuan ayahnya muncul tiba-tiba, beralasan hendak membersihkan kamar mereka Tiffany menghela napas lega.
Danu izin pergi kemana?
Hari ini Afrinda ke rumah sakit pusat kota untuk keperluan lab bagian organ dalam tubuhnya, paman Danu berjanji menemaninya dan suara ketukan pintu melangkah tidak sabar benar saja paman sudah datang.
Dokter Indri sudah pergi lebih dulu untuk mengantri, Afrinda, Danu dan dua pengawal datang menyusul menaiki mobil yang disetor salah satu pengawal meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci, Egwin belum pulang dari kota sana.
Dokter Indri patut bertepuk tangan gembira pasien khususnya hampir menuju sembuh, racun di dalam perutnya sudah bersih seutuhnya, hanya tinggal proses pemulihan daya tenaga minum vitamin penambah darah dan makanan bergizi penunjang imune agar semakin kuat.
Sembari melakukan panggilan vidio dengan Gharda, Afrinda menangis terharu untung saja racun itu tidak sampai ke jaringan kanker, rasa sakitnya terbayar dengan perjuangan.
__ADS_1
Hampir seharian melakukan tes lab pulang hati lega menjelang sore, Dokter Indri ke dapur memasak, Danu malas pulang duduk bersantai bersama kedua pengawal mengobrol di teras menikmati secangkir kopi dan camilan.
Dikamar sendian merasa bosan Afrinda keluar menyapa Dokter Indri sebentar, suasana sore di taman belakang menunggu tenggelamnya matahari.
Ada suara langkah kaki, berjalan memperhatikan sekitar tidak ada kelihatan apa-apa. Tertarik salah satu tabgkai bunga yang mekar mengajaknya berbicara, seperti ada seseorang dibelakangnya. Segera memutar badannya panik terlonjak kaget tangannya melayang menangkap balok kayu yang hampir mendarat di bahunya, melawan sekuat tenaga membuka matanya siapa orang yang melakukan ini semua.
Balok kayu jatuh mengenai kaki Tiffany berteriak keras menjerit kesakitan, Afrinda tercengang wajahnya pias dari mana wanita ini muncul tiba-tiba di sini?
Danu dan yang lain berlari menghampiri Afrinda, satu tamparan melayang di pipi Tiffany.
👇👇👇
__ADS_1
Tiffany skip..