Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bahaya 5


__ADS_3

"Ka-kalian menculiknya?" Dahlya bertanya suaranya terbata, salah seorang membaringkan tubuh Afrinda tepat di sampingnya.


"Kami hanya menjalankan tugas dari Tuan Bram. Semoga kalian baik-baik saja, saya permisi." Pengawal itu memandang iba pada kedua wanita ini menutup pintu sel sekali lagi berbalik badan memgesah panjang, jika boleh ingin semua cepat berlalu, mentalnya sudah tidak tahan lagi hidup dibawah aturan Bram, lagian gaji yang selama ini dia terima sudah lebih dari cukup.


"Afrinda, bangun."


Mengusap wajah putrinya menepuk pelan, derai air matanya semakin berlinang menyesak mengapa sampai sejauh ini terjadi. Suaminya menculik Afrinda dari keluarga Gharda, apakah usahanya untuk membebaskan Afrinda sia-sia? Jika Afrinda mati bersamanya di tangan Bram, bersumpah pada langit dan bumi bahkan arwahnya pun akan datang menghantaui seluruh kehidupan Bram.


"Keterlaluan kau, Bram. Iblis apa yang ada di tubuhmu sehingga kau tega melukai orang yang tidak tahu apa-apa demi menutupi dendam dan ambisimu. Neraka pun tidak sudi menerima manusia sepertimu, hah." ucapnya terbata mengelus wajah Afrinda. "Maafkan mamah, Frind."


Terbatuk kecil kelopak matamya mulai terbuka, gelap di tempat asing, kepalanya berdenyut nyeri memaksakan dirinya sadar terbangun. "Ini dimana?"


"Frinda," Dahlya bernapas lega.

__ADS_1


Mendengar seperti suara bisikan mamah yang dirindukannya seketika membuat kesadaran langsung pulih sepenuhnya, menoleh ke samping matanya melebar terkejut pertama kali pemamdangan wajah lebam mamahnya bangkit dari baringanya. "Mamah kenapa bisa seperti ini? Wajah mamah luka, kakinya, tangannya. Mah, mamah." Meraba permukasn kulit mamahnya menangis bingung mamahnya sudah ikut menangis membawa tangannya ke gemgaman hangat mamahnya.


"Dengarkan mamah." menarik napas panjang menatap Afrinda dalam-dalam. "Mamah sudah menyerahkan semua kejahatan papahmu pada jendral polisi yang bernama Gustav, karena itulah mamah dihukum disiksa seperti ini-"


"Papah!"


"Mungkin diluar sana Gustav sedang mencari papahmu ingin membuktikannya ke hadapan negara. Kalau papahmu bangkrut maka kita akan menjadi miskin-"


"Aku tidak peduli, Ma-


"Kita keluar dari tempat ini, Mah."


"Mamah tidak kuat. Dan satu lagi ada rahasia yang harus kau ketahui, tentangmu. Bram sudah bermusuhan dengan Danu juga Alfonso semasa perkuliahan, Alfonso lebih unggul dari Bram, papahmu iri padanya. Mamah dan ayahmu Danu dulunya saling mencintai, Nurma beruntung bisa berjodoh dan melahirkan putri secantik kamu. Saat itu Danu berteman baik dengan Alfonso, Bram tidak menyukai itu dan membalaskan dendam pada Danu dengan cara menikahiku secara paksa, ketika itu aku tahu papahmu menculikmu dari orang tua kandungmu hendak membunuhmu, mamah memohon untuk merawatmu dengan syarat tidak boleh memberikan identitas aslimu, mamah sangat menyayangimu."

__ADS_1


"Mamah, cukup, jangan melanjutkannya lagi aku tidak peduli tentang masa laluku. Bibir mamah berdarah lagi." Afrinda membawa mamahnya ke atas pangkuannya menyeka darah itu dengan ujung sweaternya seraya menangis terisak.


"Belum Afrinda, biarkan mamah menyekesaikannya. Kehadiranmu adalah anugerah ditengah-tengah pernikahan kami, menerimamu itu artinya aku akan belajar mencintai suamiku dan melupakan Danu, semua itu terjadi perlahan. Takdir alam memberikan keberuntungan itu melalui kamu, Frind. Tapi tidak ada rahasia yang bisa tersimpan lama, dan ini adalah waktunya kau tahu semunya, Afrinda. Mamah akan memberitahu jalannya untuk kabur dari sini, larilah sejauh mungkin agar Bram tidak menyentuhmu."


"Tidak akan, mamah harus ikut kekuar juga, bila perlu kita mati bersama disini." Afrinda terenyuh setelah mendengarkan kisah mamahnya, dia tidak akan meninggalkan mamahnya egois bila hanya melepaskan dirinya sendiri.


Saat ingin melangkah mendekati pintu sel, pandangannya tertarik pada gelang kaki mamahmya, menunduk mengambil gelang kaki yang sudah terbelah itu, "Ini bukan gelang biasa." Meneliti gelang kaki ada sesuatu yang terselip diantara manik mainan gelang ini.


"Hei kau!"


Afrinda ceoat-cepat menyimpan gelang kaki itu ke dalam saku kemejanya ditutup kapisan sweater yang dipakainya.


"Seret kedua wanita ini keluar!"

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2