Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Rencana Rivzal


__ADS_3

"Ada informasi apa?" Tiffany tanpa basa-basi memulai pembicaraan pada seorang wanita yang sedang terhubung panggilan dalam ponselnya.


Di seberang sana ada Sketaris Wanda, mengabarkan informasi ini diuntungkan bayaran yang diterimanya sekalipun ia berhianat pada bosnya. "Tuan Gharda tidak hadir hari ini karena sakit, Nona. Dan sebentar lagi saya akan ke rumah Beliau mengantar berkas kerja, Tuan tetap memaksa."


Sakit? Biasanya jika Gharda sakit tidak pernah lupa Gharda mebgadu padanya, tapi kali ini tidak. "Kau pergi sama siapa nanti?"


"Sendirian, Nona. Asisten Rivzal menghendel pekerjaan di kantor, jadilah saya ditugaskan sendiri yang akan ke rumah." lapor Wanda.


"Ada lagi informasi lain?"


"Pasti ada. Tapi Nona anda jang-"


"Saya tambah bayaranmu. Jangan tanggung kalau melakukan sesuatu."


Mendengar pembayaran tambah Wanda tersenyum lebar. "Hari ini Nyonya Besar pergi arisan keluarga ke luar kota, Nona Jelita dan Bibi Ema masih di sekolah. Anda bisa bebas masuk ke rumah itu, tapi harus jam ini juga datangnya."


"Dengarkan saya. Turun di mall yang saya kirim alamatnya, kita bertemu di toiletnya. Paham?"


"Baik, Nona." Wanda mematikan ponselnya kegirangan menerima notifikasi m-bannking transferan sudah masuk ke rekeningnya.

__ADS_1


Tanpa disadarinya terdapat sesuatu yang sengaja diretas di jaringan ponsel rahasia miliknya, Rivzal tersenyum devil mendengar percakapan antar Wanda dan Tiffany. Sungguh tidak disangka Wanda berani seperti itu pada bossnya, lupa dengan kebaikan yang diberikan Gharda pada Wanda. Belum waktunya untuk menendang sketaris ini agar dipecat, perlahan membalas perbuatan Tiffany rahasia masih ada di tangannya.


"Astrid segera bersiap, semua peralatan yang kau gunakan ada di dalam kamar Nyonya Araz. Kau masih ingat tugasmu'kan?"


Semua sudah direkayasa.


Wanda menuruti perkataan Tiffany, mereka bertukar pakaian dan mendandani Tiffany seperti penampilan Wanda.


"Tunjukkan kartu nama ini agar satpam percaya padamu, Nona. Gunagakan waktu sebaik mungkin," pesan Wanda.


Tiffany menyetir mobil dinas Wanda berpakaian seperti si pemilik mobil, demi bertemu dengan kekasihnya. Nyonya Syeni benar-benar memasang benteng di rumahnya, Gharda tidak mau diajak bertemu bahkan dilarang jangan datang ke kantor menemuinya, jadilah berpikir mengambil kesempatan ini.


"Kata Jelly anda sakit karena tadi malam, maaf ini salahku juga. Cepat sembuh jangan lupa minum obat. Sebagai rasa bersalah saya, ada makanan titip pada Bibi Ema, jangan sampai orang lain tahu. Sudah dulu ya, intinya cepat sembuh. Dari Afrinda pinjan nomor Miss Ticha."


Begini saja rasanya melayang srnang sekali, tidak sabar menunggu Jelita pulang ke rumah. Gharda memeluk guling membaca pesan sekali lagi. Suasana kamar hening perlahan membuat matanya menganyuk sangat berat tanpa mengunci kamar, tumbler dari Afrinda masih tersedia di atas nakas.


Mobil sketaris Wanda terlihat dari arah jalan, satpam tanpa curiga membuka gerbang mempersilahkan masuk. Tiffany tersenyum puas, turun dengan langkah ringan masuk membuka pintu.


"Aneh tidak ya, tumben rumah penjagaanya tidak ketak. Ahk, ya sudahlah mungkin ini keberuntunganku saja." Menaiki tangga tanpa berpikir panjang, pelayan tidak ada yang menyambutnya.

__ADS_1


Astrid bersembunyi menyemprot parfum aroma badan Araz yang diperintahkan Rivzal di udara, masih berpikir tenang bulunya bergidik Tiffany tidak gentar menghalau rasa takutnya.


"Tidak tidak!" ucapnya merunduk merasa gelisah Tetap nekat meneruskan langkahnya tidak jauh lagi ada kamar Gharda sudah sampai.


Mengetuk pintu kamar tidak ada sahutan, menyentuh hendel pintu yang tidak dikunci. Tanpa segan membuka pelan Gharda tertidur, menoel-noel pipi tidak bangun juga.


"Tidurnya nyenyak sekali, badannya hangat." Bergumam sendiri menikmati pemandangan wajah kekasihnya beberapa saat. Matanya tertarik ke arah nakas meraih tumbler mperhatikan seksama, jantungnya mencolos ada nama 'Frind' tertulis di tutup tumbler. "Wanita itu mulai berani," ucapnya geram.


Gharda tidak bangun padahal sudah setengah jam menunggu, sebentar lagi waktu syuting dimulai. Terpaksa harus pulang mencium pipi Gharda, berjalan ke arah pintu terkejut setengah mati mengucek matanya merasa melihat bayangan perempuan baju Araz berjalan melintas di depan kamar Gharda.


Meyakinkan dirinya sekali lagi keluar pelan-pelan, melihat ke belakang merasa diikuti seseorang tapi tidak melihat apa-apa.


Berjalan lagi bayangan itu melintas sekilas, cepat-cepat turun dari tangga pikirannya mulai kacau.


Astrid tersenyum puas.


Sial sekali hari ini. Diam-diam ke rumah Gharda, tidak ada hasil yang memuaskan, justru tumbler itu yang membuat hatinya cemburu. Bayangan Araz benar-benar membuatnya merasa takut, dimarahi oleh sutradara dan cruw terlambat ke lokasi syuting padahal masih di proses awal.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2