Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Nekat


__ADS_3

Kalau saja Ardan termasuk orang yang egois, pasti tidak sudi sampai mengantar Tiffany mengabsen hari ini, entah orangnya yang termasuk mempunyai kesabaran atau ada niat tertentu. Entahlah, Tiffany sulit menabak lelaki ini.


"Kau butuh apa bilang saja padaku, biar aku ambilkan." Ardan menawarkan dirinya. Sementara Tiffany tiduran di atas ranjangnya kakinya sakit saat digerakkan, menghambat aktifitasnya. Ardan tidak berniat pulang saat ini Shandi mengambil alih kantor penerbitan majalah. Di apartement ini hanya Tiffany dan Ardan.


"Kau pulang saja, aku bisa sendiri," tolaknya segan sekaligus malu juga apa lagi lelaki.


"Aku akan pulang kalau kau bisa tunjukkan padaku bahwa kakimu bisa kau ajak berjalam," tekan Ardan.


"Kau-" Tiffany geram merasa diatur ia tidak biasa diperlakukan seperti ini memandang tajam pada Ardan.


"Kau marah? Masih ada yang peduli padamu selain Shandi, aku berbaik hati mau menemanimu tapi kau sombong sok bisa sendirian. Pantas saja banyak orang tidak menyukaimu," hardiknya dengan menyindir pedas Tiffany.


Ucapan Ardan menohok hatinya, tidak menyahut lagi mengabaikan Ardan yang sedang berjalan ke arah sofa kamarnya, lagi pula belum butuh apa-apa dari Ardan.


Suasana hening sibuk dengan kegiatan masing-masing, Ardan mengotak-atik laptopnya dan Tiffany bermain ponsel dalam gulungan selimut. Iseng membuka akun kedua Instagram miliknya menyentuh tombol syory melihat apa saja isinya, sampai tangannya terhenti menekan layar pada salah satu story akun salah satu rekan cruw di tempat dia syuting sekarang. Menggemgam ponsel erat-erat wajahnya merah menahan amarah, membuka grup whatsapp dari ponsel yang satunya nomor manager Shandi foto dan vidio yang sama menjadi topik bahasan menyerang namanya.


Bangkit dari tidurannya memanggil Ardan memperlihatkan isi cettingan grup, Ardan juga ikut terseret. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ardan cemas dan takut sekali, baru kali ini bergabung di dunia pembuatan filim tapi imagenya rusak dituduh sebagai cowok yang menyukai Tiffany kekasih seorang Gharda.


"Ardan, antar aku ke perusahaan Gharda." Sudah memikirkan matang-matang.


"Untuk apa? Kakimu masih sakit dan kau lihat sendiri hubungan kalian tidak baik."


"Aku terpaksa melakukan lagi demi karier kita berdua."


"Apa itu?"


"Minta bantuan Gharda kekuasaannya bisa menutupi berita kita ini, hanya dia yang bisa melakukan itu."


"Kalau dia tidak mau, kau mau bilang apa?"

__ADS_1


"Kau ikut saja, itu urusanku."


Menuruti kemauan Tiffany, Ardan membawa mobil masuk ke parkiran gedung, sebelumnya sudah menghubungi Sketaris Wanda dan memberitahukan jadwal Gharda tidak pergi kemana-mana.


"Maaf Nona, anda harus membuat janji terlebih dulu dengan Tuan Gharda. Sekarang peraturannya begitu, sekalipun nona adalah kekasihnya." Resepsionis menerangkan dengan hormat.


"Kau!" Lancang jari Tiffany menunjuk wanita si resepsionis. "Saya adalah calon nyonya kalian, dan saya berhak keluar masuk kapan pun itu." Serunya angkuh.


"Tapi Nona, ini adalah peraturan dari Tuan Gharda sendiri."


Hampir saja Tiffany melayangkan jambakan pada wanita ini, Ardan lebih dulu mencegagahnya.


"Jangan pedulikan mereka, ayok ke dalam."


"Jangan Nonaa!"


"Kau akan bernasib sial, Nona!" sumpah si kakek


Wanda menyambut dengan senyum hangat, mempersipahkan langsung membuka pintu ruang presdir tanpa berpikir panjang ceroboh tentang etika peraturan baru yang lupa dipelajarinya.


Sementara yang di dalam ruangan bukan hanya Gharda saja, Jelita dan Allen nampak bermain bersama, Egwin duduk bersantai di samping tumpukan barang belanjaan dari mall tadi siang, Gharda duduk di meja kebangsaanya memang jaraknya terhalang dinding dari sofa tamu dan ruang bermain anak-anak, dari pintu hanya Gharda yang terlihat seorang diri di dalam.


"Gharda!" Memasang senyum manisnya .


Egwin tahu Tiffany datang, menguping menunggu muncul dari sini saja.


Ardan ikut masuk duduk di hadapan Gharda.


"Aku dan dia tidak ada hubungan spesial, dia Ardan hanya sebagai rekan kerja biasa. Jangan salah paham padaku."

__ADS_1


Gharda diam mengamati Ardan yang sedikit gemetar ditatap seperti itu.


"Peranku terancam diganti aktris lain karena kejadiannya, tolong gunakan kekuasanmu menghalangi niat mereka seperti biasa yang kau lakukan padaku." pintanya tanpa basa-basi.


Gharda hanya tersenum miring, jika diingat ke masa lalu kebaikannya inilah hal paling tidak berguna di hidupnya. "Itu urusanmu."


Tiffany terkesiap. "Dan, tolong bantu aku lagi!" ujarnya mamasang wajah memelas.


"Hei kau, bawa calon pacarmu keluar!" Gharda menekan emosinya yang hampir memuncak.


Ardan menghampiri Tiffany menariknya paksa dirinya sudah kepalang malu, memberontak menghempaskan tangan kasar. Demi apa pun ia tidak rela dikeluarkan dari pekerjaan itu, bukan karena sayang, tapi ini nama baiknya agar semakin dipandang tidak sembarangan oleh pihak lain reputasinya tetap terjaga dengan cara salah memanfaatkan kekuasaan orang lain, bukan karena bakat dirinya.


Gharda tidak peduli, dalam hati ia menyesali kepolosannya selama ini. Tunggu sebentar lagi.


"Ardan lepass!!" pekinya berteriak tenaganya kalah dari Ardan.


Suara itu? Allen tidak salah dengar'kan, itu mamahnya. "Itu mamah aku kok ada di sini ya."


"Mamah kamu? Ayok kita keluar melihat mamahmu. Sepertinya bertengkar itu."


Jelita keluar dari tempat bermainnya berlari kecil penasaran wajah mamah Allen, matanya terbelalak melihat siapa wanita ini. "Tante menorr!"


Lengkingan suara Jelita, Egwin dan Allen muncul.


"Mamah."


DEG.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2