Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Sakit Kepala


__ADS_3

Satu hari yang melelahkan sebenarnya, namun semua itu terbayar dengan kondisi Jelita menunjukkan kemajuan. Pamit pulang pada Gharda, sebelum itu harus menidurkan Jelita agar ia bisa pulang. Afrinda diantar Mang Leo pulang, di kost masih harus mengerjakan tugas beres-berrs rumah kemudian ada PR siswa yang harus diperiksanya.


"Aku bantu ya," Astrid datang dari kamarnya menawarkan diri untuk membantu Afrinda.


Benar saja, pekerjaanya selesai dengan cepat berkat Astrid. Membereskan meja belajar, malam ini ingin rasanya tidur cepat.


Baru lima menit ia memejamkan mata, dering ponsel terpaksa harus membangunkan niat dari tidurnya. Gharda menghubunginya untuk datang malam ini Jelita tidak mau tidur terus menangis merengek.


"Saya siap-siap dulu, Pak."


Setengah mengantuk keluar menuju kamar mandi mencuci muka dan bersiap sambil menunggu jemputan datang.


Menyempatkan waktu tidur-tiduran dalam perjalan tidak terlalu buryk, setidaknya menyimpan energi saat menidurkan Jelita.


Sampai dalam kamar Jelita masih duduk segar, wajahnya sembab jejak air mata. Iba dengan rasa sayang tangannya terulur mengusao wajah tirus Jelira menyeka sebentar dengan tissu basah.


Gharda hanya duduk di sofa setiap ia ingin dekat Jelita memandangnya tajam menolak setiap sentuhannya.


"Jelly belum ngantuk?" tanya Afrinda seraya membenarka posisi agar lebih nyaman.


Jelita menggeleng dalam pelukan Afrinda, kedua tangannya memeluk badan dewasa itu erat.

__ADS_1


"Kenapa? Jelly takut sesuatu?" Seakan mengerti dengan reaksi, ia pekan-pelan bertanya.


Jelita tidak menjawab, justru semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam perut Afrinda.


"Takut apa, Sayang?"


Bergeming sesaat, tangan hangat itu terus mengusap pucuk kepalanya membuat rasa cemasnya perlahan berkurang. "A-ad-ada ayah," jawab Jelita suaranya serak tertahan.


Afrinda tertegun, mencuri pandang agar bersitatap dengan Gharda. Menggerakkan bibirnya, Gharda keluar dengan wajah sendu.


Belum saatnya untuk mencoba metode cara yang sudah direncanakan mereka, ini sudah larut dan Jelita harus segera tidur. Melepas dekapannya meraih buku dongeng yang sudah disediakan sebelumnya untuk mengantar tidur.


"Misss bacakan dongeng, tapi Jelly harus menutup matanya."


Di luar ruangan Gharda duduk tidak mempedulikan dengan dinginnya malam, lorong yang sudah sepi dan gelap tidak membuatnya merasa takut. Menyugar rambut yang sudah mulai panjang akibat sudah absen perawatan, bulu halus mulai menjalar di area wajahnya, kantong hitam di ujung matanya mulai menebal.


Hukuman ini terlalu berat baginya, kapan semua ini berakhir? Sekarang ia sadar, inilah yang dirasakan putrinya saat ia melakukan hal yang sama seperti keadaan sekarang. Menyandarkan kepala di dinding tidak sadar sudah memejamkan mata ketiduran.


"Pak, bangun."


Gharda tersentak mengerjap, astaga! "Maaf, saya ketiduran," ungkapnya tidak enak merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa. Jelita sudah tidur, masuklah ke dalam. Bapak jangan tidur di sini."


Menurut Gharda masuk, Afrinda pulang diantar Mang Leo. Semoga besok tidak terlambat bangun.


Sudah setengah jam berguling-guling tapi tidak mau tidur, mulai resah ini sudah terlalu larut malam.


Astrid membantunya bersiap pagi ini karena seperti perkiraanya, bangun terlambat. Menumpang motor Astrid meuju sekolah dengan langkah tergesa melewati gerbang, semua guru menoleh padanya baru pertama kali ini dirinya datang terlambat.


"Afrinda, tolong perbaiki kedisplinan dirimu," tegur kelala sekolah.


Hanya menunduk pasrah, tidak ada kata baru pertama kali.


Mengajar dengan semangat yang tersisa mencoba konsentrasi, kepalanya berdenyut sakit. Mengambil obat di UKS meminumnya, sudah lumayan berkurang sakitnya. Kembali ia mengajar harus bertahan sampai semuanya selesai.


Bel pulang sekolah kepalanya kembali berdenyut lagi, memijit pelipisnya keringat dingin membasahi tubuhnya. Semakin dipalsa sakitnya bertambah, pandangannya mulai buram hati-hati masuk ke dalam toilet guru mencuci wajahnya.


Masih mempunyai tenaga permisi pulang tidak enak badan, untungnya diizinkan. Tapi siapa yang membantunya mencari kendaraan umum, semua guru sedang ada rapat bulanan. Mungkin masih bisa bertahan berjalan sampai ke halte bus masih dekat dari lokasi sekolah, kakinya seperti tidak menginjak tanah dan telinganya berdengung. Terasa bumi berputar matahari yang terik membuatnya ingin muntah, badanya melemah berdiri tidak seimbang.


"Afrinda!"


Buk!!

__ADS_1


Afrinda terjatuh ditopang tubuh seseorang, memaksa membuka mata melihat dia siapa. "Ar-ardhan."


👇👇👇


__ADS_2