Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Keluar


__ADS_3

Berita pertunangan Gharda sangat menghebohkan tidak ketinggalan Afrinda menonton dari televisi kamarnya, Egwin benar-benar pandai melebihkan cerita sengaja agar Afrinda tidak diperlakukan seperti kemarin. Nampaknya Bram sedikit menurunkan egoisnya, pria itu akhirnya mau memberi perintah untuk memasang televisi setidaknya itu yang menghilangkan kesepuan dirinya di dalam kamar ini.


Lucu sekali rasanya, dia mengira sudah bisa lepas dari jeratan setelah pertunangan ini tetapi nyatanya tidak juga. Papahnya sekejam itu padanya takut dia kabur, padahal sudah banyak penjaga di rumah ini, mana bisa dia kabur begitu.


Ada sedikit rasa lega mendengar Gharda tidak jadi bersanding, ada rasa iba pasti keluarga malu. Bukannya dirinya berharap buruk atau senang pria yang dicintainya gagal bersama wanita lain, lebih tepatnya bagaimana kondisi Ghaeda sekarang dan akibat buruk pada perusahaannya. Menggelengkan kepalanya, memukul-mukul keningnya beberapa kali, menghela napasnya panjang ternyata memang ia ada rasa lega baru saja ia naif sekali.


Tapi kalaupun Gharda sekarang diibaratkan masih belum terikat dengan perempuan lain, apakah dia bisa berjodoh dengan pria itu? Tidak bisa'kan?! Lihat cincin di jari manisnya ini, sebentar lagi akan menikah dengan Egwin. Ingat itu Afrinda, jangan mengharapkan yang tidak mungkin.


"Masuk!" serunya menyahut ketukan pintu dari luar, pelayan datang mengatakan ia harus bersiap karena Egwin sedang dalam perjalanan mau menjemputnya pergi ke salah satu penjual gaun untuk pernikahan mereka.


Afrinda mengangguk mematikan televisinya, bergerak dengan malas. Semenjak kejadian di rumah sakit kemarin, mereka berdua tidak bertemu lagi karena ia dipaksa pulang malam itu juga.


Memikirkan menikah dengan pria yang tidak dicintai, sungguh bukan impiannya. Sekalipun Egwin mencintainya pasti rasanya tidak mudah juga, terlebih lagi Egein bersahabat dengan Gharda pria yang dicintainya.


Astaga, dia melamun lagi. Cepat-cepat menyelesaikan mandinya.


Dengan segala keberaniannya Egwin datang menemui Bram bersitatap muka meminta izin membawa Afrinda keluar, jangan sampai gentar wajah Bram sangat menyeramkan. Bram memberi syarat agar mobil mereka dikawal dan tidak lebih dari dua jam harus pulang sudah sampai di sini, mengerti Egwin berdiri hendak keluar dari kursinya.


"Jika kau berani bertindak dari belakang, maka tetima akibatnya!" ancam Bram.


Di ruang tamu Dahlya menggandeng Afrinda menghampiri Egwin, tersenyum manis memberi sapa pada Nyonya tuan rumah. Matanya memandang lekat wajah Afrinda dan mamahnya, tidak ada gestur atau mirip pun tidak padahalkan-?


"Egwin!"


"Ma-maaf, Nyonya. Saya melamun."

__ADS_1


"Dasar anak muda, sampai tercengang brgitu melihat Afrinda. Cantik ya, semenjak dia sakit kemarin itu saya diberikan kelonggaran untuk merawat Afrinda. Cepat juga ya perubahannya."


"Aiya, Nyonya. Calon istriku memang cantik hari ini.


Dahlya sangat antusias mempersispkan Afrinda, Egwin merutuki kekonyolannya jadi berpikiran yang tidak nyambung.


Selama dalam perjalan tidak ada yang bersuara, hati-hati menyetir ada dua mobil mengikuti mereka. Tempatnya sudah sampai, keduanya canggung berjalan bersampingan.


Sudah memboking terlebih dahulu atas nama Abraham, pelanggan sengaja dikosongkan agar tidak ada keramain bisa saja Egwin menyelip membawa ke jalan lain.


"Kalian juga mau mengikuti kami ke dalam? Saya tidak mungkin kabur, kalian lihat sendiri karyawan di sini juga menuruti perintah bossmu. Jangan membuat kami terganggu, awasi kami dari sini saja, jangan sampai masuk ruang pakaian wanita, Afrinda bisa malu."


"Iya juga ya," sahut para penjaga mempercwyai perkataan Egwin.


"Mari, Nona." Salah satu karyawan mempersilakannya masuk.


Ini ruang pakaian? Mana gaun-gaunnya? Hanya ruang kosong yang ia temui.


"Selamat datang, Nona!"


DEG.


Suara laki-laki! Takut-takut membalikkan badannya, wanita berbadan tinggi berpakain karyawan OG sama seperti seragam yang dijumpainya di depan tadi lengkap dengan masker penutup mulut dan kaca mata.


"Nona!"

__ADS_1


Itu suara laki-laki, tapi yang berdiri di depannya ini perempuan. Bulu kuduknya merinding mundur ketakutan, orang ini semakin mendekatinya tersemyum aneh semakin membuatnya ingin pulang ada yang lain di dalam ruangan ini.


"Afrinda."


DEG.


Tangannya menggantung di udara saat ia mau memegang pintu ingin keluar, suara Gharda.


"Ini aku."


DEG.


Gharda melepaskan rambut palsunya membuka masker dan kaca matamya, memandang penuh kerinduan pada wanita ini.


"Ghar-Gharda."


Afrinda berlari menghambur ke pelukan pria yang sangat dia rindukan.


Sementara di luar sana, Egwin tersenyum kecut bercermin. Satu set gaun untuk Afrinda sudah siap di sampingnya.


👇👇👇


Satu kata buat Egwin....


Satu kata buat Egwin....

__ADS_1


__ADS_2