Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Rencana


__ADS_3

Pantasnya disebut seperti apa keluarga Sinatran, pecundang? Atau, memang sengaja bersembunyi sedang merencanakan sesuatu hal besar nantinya. Bukan asal ambil kesimpulan, Gharda dan temannya sudah menyerahkan beberapa kasus kejahatan luar biasa yang dilakukan keluarga itu kepada kepolisian tinggi negara, beserta bukti yang sudah jelas sekali. Namun sayangnya semua itu tidak ada penidak lanjutan lebih serius, contohmya saja kasus Perusahaan kemarin, polisi memutuskan sepihak menyerahkan Dewono pada pengadilan tanpa membongkar si pelaku utama. Masih ada kejahatan besar lainnya, bukannya ditangkap juatru menghilang dengan nyaman.


"Aku yakin sekali pasti oknum kepolisian ikut menyembunyikan kejahatan Bram," ucap Rivzal memberi menurutnya.


Gharda memandang lurus ke depan otaknya berpikir keras apa yang akan dilakukan untuk membuat Bram datang sendiri padanya, agar semua ini tidak menimbulkan teka-teki menganggu ketentraman hidup banyak pihak. "Apa kita sogok mereka saja agar mau bergabung bersama kita?" tanyanya memberi usul.


Astrid dan Rivzal saling pandang mengesah kasar, ini bukan remcana yang baik. "Bram bukan menekan mereka dengan uang, tapi bisa jadi sudah mengorbankan hal yang berharga mengancam agar menuriti perintah Bram. Percuma sekalipun kita mengeluarkan uang yang lebih besar," sahut Rivzal.


Ada benarnya juga.


"Kalian!" Kemunculan Egwin dari dalam kamar Afrinda menghentikan obrolan mereka. "Ada apa ini?"


"Ck. Bagaimana keadaan Afrinda?" Gharda tidak menjelaskan kebingungan Egwin, ia lebih memikirkan kekasihnya.


"Dia sudah sehat racunnya sudah bersih seluruhnya, kau sudah bisa menjenguknya ke kamarnya."


Gharda melotot, mereka tertawa melihat ekspresi Gharda. Mamahnya dan anak-anak di dalam bersama Afrinda. Sangat pantang kalau Gharda masuk, takut ada setan.

__ADS_1


Makan malam semua berkumpul merayakan hasil tes kesehatan Afrinda, setalahnya pulang satu-persatu.


Gharda duduk gelisah di kamarnya mengusap wajahnya kasar, sudah beberapa hari terakhir ia dilarang keras berduaan dengan Afrinda, kejadian malam curhat itu tiba-tiba mamahnya pulang ke rumah menemukan pemandangan yang membuat orang tua itu hampir kelepasan. Gharda hampir berhasil mencuri ciuman pertama di bibir Afrinda, lengkingan mamahnya membuat keduanya malu gelagapan.


"Sayang."


"Iya, Ghar. Ke-kenapa wajahmu jadi gelisah begitu sih?"


"Geseran sedikit boleh?"


"Hah? Aku sudah diujung sofa ini, kamu yang bergeser. Kamu kegerahan baru pulang belum mandi jadi merasa sempit padahal sofanya lebar lagi."


"Bu-bukan karena sofa at-atau ge-rah, tapi aku-" Gharda gugup bukan main ada yang memuncak dalam tubuhnya dan tak sadar wajah Afrinda pun semakin jarak dekat karena mencemaskan Gharda.


Jarak tinggal seinci lagi tatapan keduanya terkunci, hampir saja bibir Gharda terangkat namun pekikan mamahnya menggagalkan semuanya.


"Kalian!" Ny.Syeni syok dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Dengan enteng tangan tua itu menjewer telinga aepasang kekasih itu lalu memutuskan saat itu juga, Gharda dan Afrinda dilarang berdua-duaan sebelum pernikahan.


Sampai detik ini pun peraturan itu masih sama, hal itulah yang menjadi keresahannya uring-uringan tak menentu.


"Huff, kapan kami bisa menikah ya? Permasalahannya banyak sekali, ahkk!" racaunya frustasi.


Menghilangkan pikiran liarnya keluar dari kamar duduk di balkon kamar memandang ke luar mencari udara segar di malam ini, fokusnya terganggu dengan pergerakan dari bawah sana yang mengendap-endap. Siapa itu?


Berjalan cepat ke arah taman, hampir saja tangannya membekap mulut yang dicurigainya, sebelum orang itu berputar balik ke arahnya.


"Afrinda," cicitnya.


Senyuman itu yang paling dirindukan, tanpa diduga Afrinda sudah memeluk tubuh tingginya. "Aku kabur dari kamar, aku tahu kamu pasti merindukanku, aku juga," ungkap Afrinda tulus.


"Sayang, kamu-haha. Aku berjanji tidak mengulangi hal yang kemarin sebelum kita menikah, itu prinsipku. Sekalipun aku sudah merindukannya, aku sangat menghormati keperawanan seorang perempuan terutama kekasihku ini. Aku rela menahannya, ini untuk cinta kita."


"Terima kasih," Afrinda mengusap air matanya. Banyak hal yang ditemukanya selama berkenalan dan menjalin hubungan dengan Gharda, dia bukan sembarang pria yang mempermainkan cinta sekecil apa pun itu.

__ADS_1


Dari balik sana Rivzal tersenyum penuh arti, pernikahan mungkin bisa memancing Bram keluar dari sarangnya.


👇👇👇


__ADS_2