Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Soal Foto Lagi


__ADS_3

Terus memandang foto yang katanya keponakan Tiffany, keningnya terus berkerut menelisik ada kemiripan wajah dengan Tiffany. Mau mengelak dari pemikirannya yang sudah muncul berbagai dugaan, rasanya terlalu naif bila bibirnya mengucapkan itu hanya kebetulan saja. Seolah ada hal yang memaksa otaknya untuk mempertahankan kecurigaanya, huh.


Setelah mempersipahkan sipengetok pintu masuk, mendesah lagi tidak menduga mamahnya datang berkunjung ke kantornya.


"Gharda, kau masih ingatkan ulang tahun Jelita?" tanya mamahnya tanpa basa-basi.


"Apa harus dirayakan?" Gharda bersandar malas karena baginya itu pembahasan yang kurang penting.


"Mamah hanya mau menyampaikan saja, kalau mamah berencana untuk merayakannya di sekolahan Jelita bersama Afrinda. Kalau kamu mau ikut, silahkan. Kalau tidak, ya itu hak mu. Mamah hanya menghargai kamu sebagai papahnya saja."


Tidak betah berlama-lama di dalam ruangan Gharda Nyonya Syeni pamit dan keluar dengan wajah tidak puas.


"Biarkan sajalah," ucapnya.


Tidak lama sesuai dengan perintahnya pada Rivzal, pria itu datang dan sudah membawa hasil dari apa yang dicarinya. Rivzal menyerahkan padanya, tidak sabar membuka dan membaca keseluruhan data isi dalam kertas.

__ADS_1


Stephanie Dwi Allendra berusia 5 tahun dan bersekolah sama di sekolah Jelita, ayahnya Egwin Xen Allendro. Dokter Egwin rupanya, sudah beberapa kali mereka pernah bertemu di rumah sakit itu.


Gharda terus membaca dan kebingungan sendiri karena keterangan ibu kandung tidak tercatat, gelengan Rivzal juga pasti tidak tahu tentang itu. Lanjut lagi membaca tentang hasil nilai akademis anak itu, ternyata cukup cerdas namun ada jumlah absen yang membuatnya bertanya kenapa bisa sesering ini. Lanjut berkas ketiga, ternyata anak itu mengidam penyakit kelainan jantung bawaan lahir.


"Sudah puas dengan hasil temuan saya, Pak Bos?" Rivzal harap-harap cemas.


"Dimana keterangan ibu dari anak ini?"


"Mana saya tahu, Boss. Data itu saya dapat secara curi-curi dari sekolah, yang ada hanya itu saja."


"Kenapa tidak sekalian sampai data pemerintahan saja? Tanggung sekali pekerjaanmu," ujar Gharda tidak tahu diri.


Rivzal berdecak tersenyum meledek.


"Menemui Dokter itu, saya harus berpura-pura sakit?"

__ADS_1


Ahk, bosdnya ternyata tidak pintar-pintar amat. Rivzal geleng-geleng kepala.


"Kau!" hardik Gharda merasa kesal telah diledek Rivzal.


"Iya, Boss. Maaf, maaf." Rivzal tertawa cengo. "Temui Dokter Egwin sebagai ayah Jelita teman Allen, bawa sesuatu untuk anak itu dan ajak Dokter Egwin mengobrol."


Jam pulang sekolah, Gharda menyempatkan diri untuk menjemput Jelita pulang. Ternyata ada pemandangan yang membuatnya terusik, entah mengapa ia juga ikut emosi mendengar salah satu miss di sekolah ini sedang merendahkan Afrinda. Memasang mata tajamnya agar membuat miss ini menciut dan menarik Jelita dari dekapan Afrinda, masih gengsi kalau menolong Afrinda berterus terang.


"Kali ini Miss frind tidak ikut, kita berdua yang menjeguk temanmu. Kasih boneka ini nanti," ucap Gharda tidak ada lembut-lembutnya pada anak-anak.


"Baik, Ayah. " Jelita menjawab takut-takut memeluk boneka itu seraya menendukkan wajah.


"Ck, ahk!" Gharda memukul setir menahan diri lagi-lagi ia harus sekaku ini pada Jelita.


Mengandeng Jelita berjalan menuju kamar rawat Allendra, tertatih Jelita mengikuti langkah lebar ayahnya bahkan ia harus berlari dengan setengah ngos-ngosan.

__ADS_1


Keluar dari lift berjalan menyusuri lorong ruangan Allendra, Gharda membawa Jelita terpaksa ke balik dinding setelah melihat Tiffany berjalan keluar dari arah lorong yang sama dengan wajah air mata. "Tiffany," gumamnya lirih. Pikirannya mulai menerka-nerka.


👇👇👇


__ADS_2