
Memantapkan hatinya, Gharda membawa serta Jelita mengetuk dan masuk ke ruangan rawat Allen, tadi sudah menelepon Dokter Egwin untuk memberitahukan kedatangannya.
Suara decitan pintu terbuka membuat matanya terbuka rasa kantuk Allen hilang begitu melihat siapa yang datang, matanya menelisik melihat ke belakang Jelita bukan Miss Frind yang datang seperti biasanya. "Jelly, sini-sini." Walaupun begitu agak kecewa tetapi Allen tetap senang Jelita terus datang menjenguknya dan menghilangkan rasa bosannya. Suster membantu mem-posisikan brankar agar Allen setengah duduk.
Jelita tersenyum hangat berhambur ke samping Allen, memberikan boneka lalu suster membantunya duduk mensejajarkan tinggi bangkunya dan brankar Allen.
"Kau datang bersama ayahmu?" Allen bertanya berbisik, keduanya bahkan sudah saling bercerita tentang masing-masing mereka. Allen terus fokus menatap tubuh ayahnya Jelita.
Gharda balas menatap Allen, seketika perasaannya semakin tidak karuan ternyata wajah anak ini mirip dengan wajah Tiffany. Tapi ia harus pandai mengontrol emosinya sekarang, bisa saja salah perkiraan. "Hai. Om adalah ayahnya Jelita," sapanya sekadar itu.
"Iya, Om." Allen pun juga tidak tahu situasi ayahnya Jelita yang berbeda dari papahnya. Pantas saja Jelly selalu bercerita tentang ayahnya yang tidak suka pada Jelly.
"Ghar, biarkan anak-anak mengobrol sebentar. Mereka sudah biasa seperti ini bersama Miss Frind," ujar Dokter Egwin.
Gharda hanya mengangguk mengikuti Dokter Egwin duduk di sofa yang tersedia di ruangan Allen, duduk berdua melihat ke dua putri mereka dan mendengar pembicaraan keduanya.
"Terima kasih bonekanya, Jelly. Kau selalu memberikanku sesuatu setiap menjenggukku." Allen tersenyum cerah memeluk boneka barunya.
"Miss Frind bilang supaya kau cepat sembuh dan semangat minum obat. Allen sudah sembuh belum?"
"Kata papah untuk saat ini aku sudah tidak sakit lagi."
"Untuk saat ini saja? Berarti besok-besok kamu sakit lagi?" Jelita bertanya cemas.
"Kata papah kalau aku rajin minum obat pasti tidak sakit lagi, huh. Tapi obat itu rasanya pahit, aku tidak suka," keluh Allen.
__ADS_1
"Tidak boleh begitu, Allen harus rutin minum obat. Ingat apa yang Miss Frind bilang, obat memang pahit-"
"Yang manis itu senyumanku!" Allen melanjutkan ucapan Jelita, mereka berdua sama-sama tertawa mengingat apa yang kemarin diucapkan Miss Frind.
Di sofa Dokter Egwin ikut tersenyum baahagia sedangkan Gharda terus memperhatikan gerak-gerik Allen.
"Saya tidak menyangka anda datang menjenguk putri saya."
"Jelita mengajak dan saya turut prihatin dengan kondisi Allendra putri dokter, semoga cepat sembuh," ujar Gharda berbohong padahal ia mempunyai tujuan lain.
Dokter Egwin tersenyum sinis, Gharda tidak menyadarinya.
"Oh iya, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Istri Dokter tidak di sinikah?"
Sebelum menjawab pertanyaan Gharda, Egwin meneguk air sodanya lalu meletakkannya kembali di atas meja. Pandangannya menerawang jauh berharap. "Tidak. Terserah dia mau datang stau tidak," jawabnya.
"Maksudnya?" Gharda tidak sabar menunggu jawaban selanjutnya.
"Kami bercerai sewaktu usia Allen masih satu tahun, dia menolak kehadiran Allen yang lahir sakit-sakitan." Egwin mulai bercerita.
"Tega sekali. Apa Dokter tidak memberitahu keadaan Allen padanya?"
"Dia tahu, tapi dia berlagak tidak mau tahu. Sekarang dia sudah hidup bahagia dengan pacarnya yang lebih kaya dari saya, dan hidup dalam merintis impiannya. Dia seorang aktris terkenal dan menutupi keberadaan kami dari publik." Egwin tidak sungkan menceritakannya.
__ADS_1
"Aktris terkenal? Siapa namanya, saya jadi penasaran."
"Dulu namanya sewaktu menikah dengan saya adalah Areva."
"Areva," gumam.Gharda.
"Iya, Areva Jessi Amelda. Itu namanya, tapi sekarang semenjak terkenal nama itu sudah berganti. Dan untuk nama sekarang, maaf saya sudah berjanji untuk merahasiakannya."
Areva Jessi Amelda! Nama itu terngiang dalam pikiran Gharda, Jessica Tiffany Areva, nama yang mirip. Tapi bisa saja bukan dia'kan, yang menggunakan nama itu masih banyak. Tapi tadi Tiffany kenapa bisa muncul dari lorong yang sama?
"Pak Gharda!"
Gharda tersentak lamunannya buyar. "Maaf, saya tadi melamun," ucapnya merasa canggung.
"Apa kalian sudah makan siang?"
"Su-sudah." Tepatnya dirinya memang sudah makan sebelum ke sini, tapi Jelita belum. Tas nya tinggal di mobil, di situ ada bekalnya. Astaga, dia lupa.
Melangkah menggantikan suster menyuapi Allen, tetapi pandangan Jelita yang mengarah pada mangkuk makanan Allen membuatnya tertegun. "Jelly mau?" tawar Egwin. Hatinya tercubit menyesalkan perbuatan Gharda.
Meskipun Jelita menggeleng, namun Egwin berhasil memaksa agar ikut makan. Jelita sudah sangat lapar tanpa sadar makan dengan lahap apa lagi Om Egwin bergantian menyuapi dirinya dan Allen.
👇👇👇
Maaf ya, kalau naskahnya kurang bagus..
__ADS_1