Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Keberhasilan Astrid


__ADS_3

"Apa perkembangan mengenai keberadaan Afrinda?" Gharda merenggakan otot-ototnya seraya melontarkan pertanyaan pada kedua anak buah yang duduk melapor di hadapannya.


Kedua anak buah itu saling menatap dan menghela napas pelan, ragu-ragu salah satu dari mereka menggeleng lemah belum dapat titik terangnya.


Sudah hampir satu bulan lamanya memcaritahu tapi hasilnya sama saja, entah bagaimana caranya wanita itu dibawa pergi, benar-benar menguras otak dan energinya.


"Apa tidak ada cara lain lagi?" Gharda muram seketika.


Kedua anak buah hanya diam, sampai keheningan pecah Rivzal datang bersama Astrid.


"Tuan Boss, kami datang!" Rivzal menyapa dengan senyum cerianya.


Menggerakkan tangan mempersilakan


anak buahnya keluar, Rivzal dan Astrid duduk di tempat yang sama.


"Bagaimana hasilnya?" Ini masalah pekerjaan, Ghaeda berharap Astrid berhasil memenangkan proyek pertamanya menjabat se agai sketaris menggantikan Wanda.


Rivzal lagi tersenyum sumringah mengeluarkan berkas dari tasnya. "Tidak salah kita menerima Astrid bekerja di sini, pasti anda tidak menyangka dengan presrntasi yang akan anda baca di dalam berkas itu." ungkapnya bangga. Astrid tertunduk malu.


Membuka berkas membaca mengamati sebentar di halaman rangkuman, berdecak kagum ini sangat fantastis. Belum genap satu bulan bekerja dam ini baru pertama kali terjun ke lapangan bertemu meeting dengan client mendampingi Rivzal, hasil presentasi dan beberapa catatan yang dia tulis sangat rapih dan mudah dipahami dari pemilihan kata sampai detailnya pun dapat mencakup semuanya.

__ADS_1


"Ada berapa perusahaan yang hadir tadi?" bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.


"Ada tiga, dan ketiga-tiganya itu tertarik dengan perusahaan kita." Rivzal bercerita antusias.


"Oh iya?!" Gharda tidak kalah tercengangnya.


"Buka berkas yang biru, Astrid sudah mengumpulkannya di dalam situ."


Dengan semangat yamg baru Gharda mendengar instruksi Rivzal membaca data-data perusahaan yang menyodorkan kerja sama dengan mereka, ada satu nama yang menarik perhatiaanya dan nama yang sama adalah juga yang dilingkari Astrid.


"SinatrIndo Soerya Group, perusahaan yang bergerak di bidang parawisata dan bisnis retail, besar juga impectnya. Kau juga tertarik dengan ini Astrid?" Gharda meletakkan berkas memandang penasaran pada Astrid.


"Iy-iya, Tuan. Entah mengapa waktu aku mendengar nama saja aku langsung teringat dengan Afrinda, Sinatrani nama belakangnya juga mirip dengan nama perusahaan itu. I-itu hanya refleks perasaan saya saja. Pilihan tentunya ada pada Tuan sendiri." Astrid menjelaskan sekaligus.


"Yang jelas bukan CEOnya, karena setau saya CEO mereka adalah pensiunan pejabat tingggi negara ini katanya." Rivzal menyahut.


"Saya akan pelajari berkas ketiga perusahaan ini, kalau meminta saran dari mamah padti lebih mudah mempertimbangkan. Kembali ke ruangan kalian, dan serahkan berkas ini ke bagian Humas agar Astrid naik promosi jabatan tetap."


Astrid tersenyum bahagia dengan prestasinya, Rivzal ikut merasakan hal yang sama. Mereka akan melakukan kesepakatan untuk merayakan keberhasilan bersama Ticha juga wajib ikut, hanya sekadar makan malam.


"Mah," sapa Gharda duduk di samping mamahnya yang sedang mengelus punggung Jelita.

__ADS_1


"Sssst!"


Perlahan Jelita mulai mengantuk dan tidak sulit untuk menidurkannya gadis kecil ini agak pendiam semenjak kehilangan Miss kesayangannya.


Menggendong membawa ke dalam kamar menyelimuti kemudian Gharda mencium keningnya, jangan sampai lupa menempelkan boneka yang sudah mulai kotor tidak boleh dicuci dilarang Jelita.


Mamahnya sudah duduk sambil membaca majalah di ruang tamu, Gharda masuk ke ruang kerja sebentar mengambil berkas lalu keluar memberikan pada mamahnya.


"Tolong bantu Gharda, Mah. Aku butuh saran dan masukan dari mamah."


Nyonya Syeni membaca dengan seksama di balik kacamatanya, satu nama perusahaan mengguncang jiwanya. Tangannya gemetar dengan kenyataan yang akan dihadapinya kalau putranya memilih untuk bergabung, sebisa mungkin menahan kekawatirannya berlagak baik-baik saja dihadapan Gharda.


"Bagaimana, Mah? Menurut mamah, sipapa yang harus kuterima?" Gharda bertanya tidak sabar.


"Sebelum itu mamah bertanya dulu. Kamu lebih tertarik yang mana?"


"SinatrIndo Soerya Group, Mah."


Tebakannya tepat, dari segi apa pun memang perusahaan itu yang lebih menggiurkan untuk perusahaanya dibanding dengan kedua perusahaan yang lain, itu menurut Gharda.


"Mah, kenapa melamun."

__ADS_1


"Kalau memang itu pilihanmu, ambillah. Mamah siap mendukungmu," sahutnya tersenyum pahit. Mungkin ini sudah saatnya untuk berhadapan dengan orang itu lagi, tugasnya adalah melindungi putranya sebisa mungkin.


👇👇👇


__ADS_2