
Sudah beberapa hari hatinya berperang mempertimbangkan keputusan yang akan diambilnya, bila memberikan kesempatan pada Tiffany sama saja ia mengorbankan kebahagiaan Gharda, tapi dirinya pun tidak mampu mengambil jalan sendiri untuk berhadapan dengan Dhalya dan Bram. Pertemuannya dengan Dahlya kemarin tidak membuahkan hasil, wanita itu sama saja tidak mau menghalangi niat suaminya takut berbuat sesuatu. Dari dulu Dahlya tidak berubah, masih tetap pengecut sekalipun Bram menyakitinya. Percuma.
Syeni gelisah memikirkan semuanya seorang diri, sampai saat ini belum bercerita jujur pada Gharda.
Tetapi keputusan tetap akan diambil setelah ia terdiam cukup lama, tidak apa mencoba satu kali untuk mempertemukan Gharda dan Tiffany, selebihnya ia tidak berharap lebih, jalan tengahnya adalah mempertahankan kebahagiaan dan harga diri putranya. Tidak menyadari kecerobohannya dan sebab akibat.
Awalnya Gharda menolah berkunjung ke rumah pamannya Tiffany, dengan berat hati terpaksa melakukannya demi ketenangan mamahnya. Gharda juga heran kenapa tiba-tiba mamahnya mencemaskan keadaan Tiffany.
Mengetuk rumah seorang pelayan datang menyambutnya mempersilakan masuk, Danu memberi salam hangat pada pemuda ini. Tanpa berpikir yang macam-macam Gharda menerima minuman dari pelayan lalu masuk perlahan ke kamar tempat Tiffany dikurung, katanya wanita itu frustasi semenjak kehilangan popularitas di entertaiment dan mungkin jika bertemu dengannya dapat mengobati kesadaran Tiffany.
__ADS_1
Tangannya masih meragu untuk membuka handel pintu, Danu menghampirinya berbisik kalimat yang membuatnya yakin segera masuk melihat kondisi Tiffany.
Perlahan handel pintu menekan ke bawah dan pintu terbuka mengintip sedikit tubuh itu duduk di pinggiran tempat tidur dengan rambut panjang terurai berantakan menutupi bahunya. Membuka pintu semakin lebar tubuh Gharda masuk seutuhnya ke dalam kamar, terlalu fokus menatap Tiffany tanpa sadar Danu dengan sengaja mengunci dari luar seraya tersenyum licik.
"Tiffany!" lirih Gharda tercengang bagaimana begitu aneh di hadapannya, tubuh yang semakin kering tidak terawat, rambut tidak disisir dibiarkan begitu saja, berpakaian minim memarkan bahu dan paha mulusnya, wajah yang pucat serta tatapan yang kosong, kamarnya luas tapi tidak teratur dan tertata dengan rapi, sampah bekas makanan berserak jatuh dari tempat sampah.
Memasang mimik wajah semengenaskan mungkin Tiffany terus berteriak mengusir Gharda untuk pergi, semakin ia bertingkah gila semakin Gharda mendekatinya hendak meraih tubuhnya.
Tidak melihat jalan menjegal kakinya hingga terjatuh kepalanya terbentur ujung meja, Gharda panik membantu Tiffany membawa ke atas tempat tidur. Namun tiba-tiba suhu tubuhnya mulai panas seperti ada sesuatu yang bergairah ketika kulit mereka saling bersentuhan, kepalanya terasa berdenyut hasratnya ingin memeluk Tiffany menyerangnya, sedetik sadar ia dijebak pasti sesuatu telah dicampur ke dalam minuman yang tadi. Sial sekali, terkecoh dengan akal perempuan sejenis Tiffany. Menyesal menuruti perkataan mamahnya.
__ADS_1
Tidak mempedulikan Tiffany yang terus memanggilnya ia terus berjalan dengan kaki yang berat membuka pintu dikunci, menggedor memaki Danu tidak ada yang membuka dari luar.
Tiffany semakin mendekatinya, ini tidak akan terjadi. Dalam kondisi waktu yang sempit seolah menemukan cara untuk menghindar dari jebakan, Gharda membenturkan kepalanya ke daun pintu hingga ia jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Lebih baik terluka dulu daripada meladeni yang akan menghancurkan masa depannya.
Tiffany menjerit menangi menggedor pintu dengan kencang melihat Gharda tidak sadarkan diri, Danu yang mendengar terburu memutar kunci.
Apakah rencananya sudah berhasil? Gharda pingsan di balik pintu dan Tiffany menangisi lelaki itu.
👇👇👇
__ADS_1