Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Keadaan Setelahnya


__ADS_3

Pengusutan kasus dilanjut dalam proses pengadilan, banyak hal yang terbongkar dari kematian Bram. Semua harta hasil gelap dari negara disita pihak negara dan beberapa aset tanpa pajak juga sama nasibnya, anggota lembaga negara dan oknum kepolisian yang selama ini membantu Bram kocar-kacir saling menyelamatkan diri masing-masing saling tuduh memojokkan, beberapa usaha bidang jasa maupun perhotelan yang dimiliki untuk sementara disita dulu nanti setelah melalui beberapa tahap barulah diberikan kembali pada yang memiliki hak sebenarnya.


Lassio dipecat dari partai, belum lagi kasus pemerkosaan pada wanita yang bernama Iuli ikut terbongkar. Laxsa meminta maaf atas kebohongannya selama berada di kepolisian dan nasib kakinya akibat kecelakaan itu belum sembuh total, murung meratapi nasib di kursi rodanya. Swan si anak bungsu keluar dari pendidikan tentara, anak ini tidak nakal hanya kurang cerdas dan sedikit pemalas, kembali kerumah utama pengangguran.


Rumah utama murni hasil kerja keras Bram dan Dahlya, itu pun seminggu lagi akan dijual juga untuk kehidupan mereka. Semua pelayan sudah dipulangkan tanpa ada gaji terakhir, semuanya habis.


Tidak ada yang benar-benar mandiri kecuali Afrinda, Lassio dan adik-adiknya selama ini hidup dalam aturan sang papah. Tidak ada modal untuk membayar pemgacara, yang terpenting mereka tidak ditahan, itu saja yang patut disyukuri.


Afrinda menyerahkan hasil rekaman yang diselipkan di rambutnya waktu itu pada polisi, belum lagi bukti kuat yang diberikan Dahlya pada Gustav melalui Danu. Pengadilan menyatakan, Bram terbukti menembak istrinya Dahlya kemudian menembak dorinya sendiri. Tidak ada celah lagi untuk membantah, keterangan itu menyayat hati anak-anaknya.

__ADS_1


Proses pengadilan untuk kasus pembunuhan berjalan cepat dan tidak ada hukum pidana untuk sipapun karena pelaku dan korban sama-sama tewas, tinggal proses pengadilan orang yang membantu Bram saja, dan itu bukan lagi ranah Afrinda untuk jadi saksi.


"Akhirnya pengadilannya selesai juga," Afrinda menghela napas lega gurat kelelahan terpancar dari wajahnya. Mamah martua beserta suaminya yang sudah sehat ikut mendampinginya, memeluk memberi penguatan.


Begitu beruntungnya Afrinda diterima dengan kasih sayang yang melimpah dari keluarga suaminya, hal inilah yang menjadikannya kuat menghadapi masalah ini. Gharda memang tidak bisa berbuat banyak, tetapi relasi yang diberikan Gharda untuk membantunya sangatlah berguna, semua urusan persidangan dan sejenisnya diserahkan pada pengacara keluarga Gharda.


Lihatlah seperti siang ini. Laxsa marah karena masakan Swan tidak ada yang bisa dimakan, asin rasanya. Swan balik melawan tidak terima dengan ucapan abangnya yang bahkan tidak berbuat apa-apa, ia jengkel pertengkaran adu mulut terjadi. Lassio datang melerai kedua adiknya dengan menghemat uang ia membelikan makanan untuk mereka bertiga.


Kondisi rumah besar ini semakin tidak terawat, banyak ruang yang dipenuhi debu tidak mungkin Swan yang membersihkan semua. Timbul ide dari Swan ingin menjual perabotan yang masih bisa dijual, uangnya bisa mereka gunakan untuk biaya hidup. Lassio menolak, karena perabotan di dalam rumah ini sudah termasuk dalam penjualan juga.

__ADS_1


"Lalu kita bagaimana?" Swan lesu.


"Aku punya saran yang bagus!"


"Apa?" Lassio dan Swan menyahut ucapan Laxsa.


"Kita manfaatkan saja Afrinda, dia sudah hodup kaya bersama suaminya, kira hidup miskin disini."


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2