
Hari ini Gharda akan menemui Afrinda membeli bunga memilihnya sendiri, menghirup aroma dalam-dalam lalu membayarnya pada kasir. Kemarin baru ke salon merapikan penampilannya agar kembali terlihat tampan mencukur bulu halus yang mulai menjalar semakin macho di hadapan kekasihnya, perawatan wajah mengangkat jerawat dan semacamnya. Hah, tidak sabar rasanya bertemu kangen.
Sebenarnya ingin pergi seorang saja, mamahnya tidak mengizinkan Rivzal wajib ikut menemaninya. Tersenyum meledek senang hati Rivzal mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan
Berbohong pada Jelita berkata ada pekerjaan ke luar kota mengejar ketertinggalan, dengan penjelasan yang ringan Gharda menjabarkan memeluk putrinya menciumi pipinya sebelum pamit pergi.
Perjalanan memakan waktu macet, untung saja siperangkai bunga tadi memberikan tips agar bunga bertahan lama. Tertawa lepas dengan kekonyolan temannya ini, padahal di tempat sana juga bunga banyak dijual.
Mengisi kebosanan selama dalam perjalanan, keduanya tetap memangku laptopnya bekerja memantau perusahaan. Baru sehari lalu jabatan mereka kembali, dengan kepiawaian Gharda sudah mampu menarik beberapa investor baru calon yang akan bergabung ke perusahaan, Rivzal dengan hati-hati membaca seluruh data-data pengenalan diri, memang tidak ada yang mencurigakan, tapi tetap harus lebih nerhati-hati belajar pengalaman kecolongan kejadian yang kemarin.
Dering dari Egwin bertanya sudah dimana posisi, jarak yang ditempuh kurang lebih satu jam lagi.
Menyimpan ponselnya melanjutkan makan malamnya, Afrinda memaksa ia saja yang memasak sore tadi. Tersenyum kecut Egwin tidak akan bisa sering-sering menyantap masakan enak ini, Afrinda calon istri sahabatnya.
Dari arah dapur Afrinda muncul dengan wajah cemberut, dia sudah mengantuk tapi dilarang tidur cepat karena nanti harus menjalani tes urin jam 23:00 nanti.
Menonton televisi sekalian mencari hiburan, pikiran Afrinda kacau hanya karena istri paman Danu terus terbayang di benatnya, aneh.
Nanti ia harus menceritakan pada Gharda kalau mereka teleponan lagi, hari ini Gharda pamit off sibuk mengejar target pekerjaan.
Oh iya, satu hari saja paman Danu absen tidak ada kabar, entah mengapa ia rindu sekali. Memukul keningnya berdecak kesal pada diri-sebdiri mengesah panjang tidak fokus menonton.
Baru saja matanya terpejam, suara ketukan pintu membuatnya terbangun. Tergesa menyibakkan selimut berjalan membuka pintu, "Rivzal!"
__ADS_1
"Ha-hai, hihi." Rivzal salah tingkah ditatap seperti itu oleh Afrinda.
"Hanya kau yang datang?" tanya Afrinda wajah kecewa. Bergeser memberi ruang untuk Rivzal masuk, memastikan sekali lagi kecarah luar kalau benar-benar tidak yang lain kecuali Rivzal.
"Frind, ak-aku masuk duluan ya ke kamar Egwin." Rivzal tergagap meninggalkan Afrinda sebelum bertanya lebih, demi apa pun kurang pandai berbohong.
Masih berdiri mematung di depan pintu, tangannya menarik daun pintu yang terbuka. "Eh, kok seperti ada yang mendorong pintunya dari luar?" gumamnya takut merinding ini sudah larut malam siapa yang berani seperti ini.
DEG.
Tenaga Afrinda kalah mundur waspada ketika orang itu membuka paksa daun pintu, belum sempat bibirnya bergerak berteriak, wajah orang yang dirindukannya muncul dari balik pintu tersenyum ke arahnya. "Ghar-Ghar-" Matanya langsung berubah cerah tidak berkedip.
Afrinda sudah mendarat dalam pelukan kekasihnya, "Kupikir kau tidak datang lagi," ucapnya tertahan menangis terharu.
Afrinda merona malu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gharda, jantungnya terasa mau copot diperlakukan semanis ini. Aroma yang sangat dia rindukan, rangkulan hangat masa depan menemani malamnya.
"Aku tadi bawa bunga untukmu tapioka sudah layu, belinya dari kota, bukan dari sini. Maaf ya," Gharda terus terang.
Ungkapan konyol mendapat cubitan manis dari Afrinda. "Tadinya aku sudah kecewa hanya Rivzal yang datang."
"Kejutan!" serunya suara hampir melengking. Senyumnya pudar Afrinda memperingati me-pelankan suaranya.
Rasanya belum puas enteng menarik tangan Afrinda berpelukan lagi.
__ADS_1
"Eheem,,,eehemm!!"
Kedatangan Egwin menganggu keromantisan sepasang kekasih, Gharda melepas pelukan memandang horor, Afrinda menyembunyikan rasa malu.
"Penganggu!"
"Maaf ya, kau lihat ini sudah jam berapa? Membiarkan pintu terbuka nanti maling masuk, bawa Afrinda ke kamarnya dia belum tes urinnya." Menyindir sekaligus.
Masih ingin berlama-lama tapi perkataan Egwin memang benar, berjalan bergandengan berdua. Sebelum membuka pintu kamar Gharda menarik tangan Afrinda lagi, "Ya?"
Cup.
Gharda mencium punggung tangan Afrinda menahannya beberapa saat. "Tidur yang nyenyak setelah melakukan ritualmu, besok kita berduaan lagi. Semoga lekas sembuh ya," ucapnya seraya mengusap bekas ciumannya tadi.
Sudah tidak terbilang lagi bagaimana wajah kekasihnya merona malu seperti remaja oertama kali jatih cinta, ini sangat menggemaskan mengacak-acak surai Afrinda terkekeh manis.
Lelah perjalan lenyap begitu saja, menatap pintu yang membawa Afrinda di dalam melangkah ke arah kamar Egwin.
Ketiga lelaki ini tidur seranjang.
Seminggu setelah pengobatan, urin yang ditampung malam ini dan pagi nanti akan dibawa Dokter Indri ke lab untuk melihat seberapa besar racunnya sudah hilang.
👇👇👇
__ADS_1
Guyyss.. Komen yok