Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Sedikit Tentang Ticha


__ADS_3

Kondisi Allen masih sama belum ada perkembangan, wajib mengkonsumsi obat rutin dan mematuhi semua ucapan dari dokter yang menanganinya, sekaligus persiapan operasi pemasangan cincing jantung tahun depan di perkirakan harus sudah siap mental yang persiapan matang.


Egwin tersenyum kecut sekali lagi membaca surat hasil diagnosa putri kecilnya, Tiffany tidak pernah datang padanya terakhir kali sewaktu meminjam uang. Sudah pasti cangkok jantung itu tidak tercapai, yang terbaik adalah jantung dari tubuh orang yang baru meninggal saja yang pantas melakukan, bukan segampang ia berbicara saat dirinya mengucapkan syarat untuk peminjaman uang, semata-mata hanya agar Tiffany mau menjenguk Allen saja.


Sudah satu minggu tidak ada kabar dari Tiffany, harapannya pupus sudah bahkan ketika mencari ke apartement dan alamat gedung percetakan majalahnya semua sudah kosong tidak berkepemilikan atas nama wanita itu lagi.


Sudahlah, lebih baik dirinya fokus saja mempelajari buku-buku materi tentang penyakit spesial jantung demi membantu putrinya.


Hampir saja melupakan percakapan dengan orang tuanya melalui telepon tadi malam, nanti malam ia harus bersiap datang dari rumah ke alamat yang disampaikan menghadiri pertemuan sekaligus makan malam bersama orang tuanya dan teman papahnya.


Membereskan meja kerjanya mencuci wajah memperbaiki penampilannya yang sudah kusut, menjemput Allen ke sekolah.


Suara riuh anak-anak berlarian menghampiri siapa yang menjemputnya, Egwin turun masuk ke dalam gedung sekolah berjalan ke arah kelas Allen berada. Menghentikan langkah kakinya menperhatikan interaksi Allen dan Ticha yang sedang bercengkramah di taman itu berarti kedekatan mereka sudah mulai erat baik Allen maupun Jelita sudah mulai membiasakan diri pada Ticha, semoga Ticha mampu mempertahankannya. Bibirnya melengkung senyum tipis, Ticha sudah lebih dewasa semenjak beban tugas mengajar Afrinda jatuh padanya, biasanya wanita muda itu tidak pernah setenang sekarang saat menjaga anak muridnya. Bukan sok menilai, memang Egwin dari dulunya juga sangat mengamati siapa pun yang akan berdeketan pada putrinya, apa lagi Ticha dan Afrinda adalah pengajar Allen sendiri.


"Miss bisa masak seenak ini ternyata ya, aku baru tahu." Allen tampak asik memuji makanan di pangkuannya.


"Iya, Allen. Selama ini kita tidak pernah memakan bekal dari Miss, hihi." Jelita duduk di samping Allen mencomot makanan menggunakan sendok dari dalam tasnya.


"Wah, makanannya tinggal sedikit lagi. Untuk miss mana?" Ticha tampak bercanda.

__ADS_1


"Tidak ada. Minta belikan gantinya sama Om Dokter papahnya Allen saja, duitnya banyak." Jelita tertawa lebar.


"Ayahmu juga banyak duit!"


"Lebih banyak papahmu?"


"Tahu dari mana?"


"Kata ayahku uang papahmu banyak."


Ticha menggeleng mendengar perdebatan kedua anak ini. "Sudah-sudah, ayah Jelly orang kaya dan papah Allen juga kaya, kalian berdua sama-sama anak orang kaya. Makanya jodohkan Miss sama salah satu ayah kalian, biar Miss juga ikut kaya, kita sama-sama jadi orang kaya!"


Mendengar celotehan Ticha membuat semua tertawa-tawa, Egwin sampai berdecak saja, cara bicara Ticha mungkin tidak bisa berubah.


"Ehhem!" Egwin mengejutkan mereka yang masih berdiri menunggu.


"Papah." Allen mencium tangan papahnya.


"Saya tadi tidak sengaja mendengar obrolan kalian di taman."

__ADS_1


"Ta-tadi Dokter-aduhh,,," Muka Ticha memerah merona mengingatnya malu sekali. "Perkataan saya tadi hanya bercanddan saja, jangan diambil hati ya, Dokter." Ticha gugup


"Ticha, Ticha. Ehhem. Begini." Mengatur tenggorokannya yang serasa kering, baru kali ini ia melihat wajah Ticha dari dekat semenarik itu dimatanya, apa-apaan ini.


"Hehe, ada apa ya, Dokter?"


"Tadi anak-anak menyukai masakan kamu. Besok tolong buatkan bekal untuk Allen dan Jelly."


Ticha menganga, biasanya Afrinda yang suka membawa bekal berbagi untuk anak-anak. Dan ini? Apa mereka memang suka atau hanya sekadar bercanda? Ragu.


Mengerti kecemasan Ticha, Egwin meminta persetujuan anak-anak, disambut Jelita dan Allen antusias.


Beginilah Ticha setelah kepergian Afrinda, menggantikan tanggung jawab dan membiasakan diri dengan perbuatan Afrinda sebelumnya. Dengan hati yang lapang ia menerima melakukan semua itu, meskipun masih dibayang-bayangi nama Afrinda. Tidak apa, ia bisa belajar dari kakak seniornya Afrinda. Posisinya yang masih guru junior bertugas masih teori dan penelitian cara mengajar dan pendamping guru wali kelas saja.


Waktu sudah menunjukkan harus bersiap, Allen tidak ikut karena malam ini kebetulan sedang gerimis kecil di luar. Orang tuanya sudah sampai di sana, mereka hanya tinggal menunggu kedatangannya saja.


Tergesa berjalan menuju nomor meja yang disampaikan salah satu pelayan padanya, napas ngos-ngosan duduk menjadi pusat perhatian semuanya.


"Dokter."

__ADS_1


Suara itu? Egwin menoleh ke arah suara di sekitar mejanya, "Afrinda!"


👇👇👇


__ADS_2