Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Menolak


__ADS_3

Semuanya diluar dugaan, Nurma tersadar dari pingsannya membuka mata masih ada di tempat keterakhir sebelum tak sadarkan diri. Dan perempuan yang bernama Afrinda itu justru masih berada di sampingnya, ia memandang aneh


"Mana suami saya?" tanyanya datar.


Afrinda bergidik sendiri memperhatikan wajah wanita ini, "Ada di luar."


"Lalu, kenapa hanya kau yang ada di kamar ini? Mana yang lain?"


Nurma kebingungan apa yang terjadi pada emosinya setiap memandang Afrinda.


"Ini kamar saya, Bibi."


Jawaban skakmat membungkam mulut Nurma, dia tidak senang berhubungan dengan gadis ini. Ada yang mengacaukan pikiran isi otaknya membayangkan wajah Tiffany berulang-ulang, dengan kasar menepis tangan Afrinda hendak membantunya duduk. "Jangan sentuh saya, kita tidak saling mengenal!"


Tentu saja Afrinda merasa sakit hati, tapi yasudahlah. Toh mungkin tante ini memang tidak suka bersentuhan dengan orang lain. "Tunggu sebentar, Bibi. Aku panggil Paman Danu, sebentar."


Emosi danu hampir meledak dengan sikap Nurma yang tidak sopan, dari tadi merengek pulang tidak menyahut pembicaraan Afrinda, Nurma juga menolak diperiksa Egwin dan Indri tekanan suaranya meninggi.


"Indri, bawa Afrinda ke kamar minum obat," titah Egwin tegas


"Tapi aku masih mau di sin-"


"Masuk!"


Terpaksa Afrinda menurut, padahal dirinya ingin sekali melihat kepulangan Paman Danunya seperti biasa.


"Besok paman kesini lagi, jangan muram wajahnya. Maafkan sikap istri paman ya," ucap Danu penuh sesal.


Setelah Afrinda masuk ke dalam kamarnya, Danu memandang murka pada istrinya. "Dia putrimu, Nurma. Putri kita!" serunya menekan volume suaranya.

__ADS_1


Telinga Nurma berdengung, "Tidak."


"Jangan menutup matamu, Nurma. Wajah Afrinda persis seperti waktu kau masih muda. Tidak mungkin kau lupa dengan rupa dirimu sendiri."


"Hanya Tiffany putriku, anak itu sudah kuanggap mati!"


"Nur-"


"Paman, sudah-sudah," Egwin melerai perdebatan suami-istri ini. "Kalian bicarakan di rumah saja, agar Afrinda tidak mendengar perdebatan kalian. Pulanglah," usirnya halus.


Apa yang sudah dibuat Tiffany pada Nurma, sehingga Nurma menolak kenyataan yang dulunya sangat diinginkan ini? Egwin bertanya dalam hati.


Sepanjang perjalanan Danu dan Nurma tidak saling bicara, sampai di rumah Nurma berjalan mendahului suaminya.


Ada apa ini? Tiffany heran.


Danu duduk seorang diri di pendopo samping rumah.


"Tante sebenarnya kalian bertengkar karena apa?" Dari tadi jawaban tantenya berbelit-belit tidak mengerti.


Bagaimana ini, jika ia berkata jujur takutnya menyinggung Tiffany. Tapi dengan desakan keponakannya, ia memutuskan jujur.


"Ada seseorang yang katanya dia adalah putriku yang telah meninggal, perempuan itu bernama Afrinda."


Afrinda. Tiffany mencengkram saku baju tidurnya.


"Put-putri kandung tante masih hidup?" Dadanya merasa sesak jika itu benar terjadi.


Melihat air mata Tiffany yang berderai, Nurma ikut menangis memeluk sayang ponakannya itu.

__ADS_1


"Om-mu sudah mengetahuinya sejak awal, Egwin pun ada bersama perempuan itu di rumahnya. Me-mereka bilang Afrinda anakku masih hidup, tapi tante tidak menemukan apapun yang membuat tante yakin membenarkan."


Danu sudah masuk ke dalam rumah mengintip dari celah pintu, ingin sekali ia menerobos pintu dan merobek mulut 'bohong' istrinya itu. Mengelus dadanya bersabar.


"Tante, jika memang dia putri kalian, apa kalian akan membuangku lagi?" Tiffany sudah membayangkan yang tidak-tidak menakutkan, badannya bergetar menangis terisak


"Dia bukan putriku, putriku sudah kuanggap mati. Hanya Tiffany yang berhak menjadi anakku, dia hanya anak orang lain," ucapnya lantang.


Tanpa sadar alam ikut menangis, gelas yang ditangan Afrinda jatuh melukai tangannya. Jantungnya berdegup tiba-tiba Nurma melintas dalam ingatannya. "Ada apa ini ya, kok aku kepikiran bibi yang tadi," gumamnya tidak menpedulikan darah di jarinya.


Gharda yang di layar ponselnya sudah memanggil cemas.


Danu yang mendengar langsung berdiri lemah hampir jatuh, malam ini ia menghindar dari istri agar tidak meluapkan emosi bisa saja dia berbuat kasar seperti dulu. Tertahih berjalan tidur di gudang penyimpanan barang dagangan.


"Tante, jangan tinggalkan Tiffany." Menangis mengeratkan peluk.


"Mulai detik ini, jangan panggil tante lagi. Panggil Ibu, dan om-mu, ayah. Syo coba lakukan untuk pertama kalinya." Keputusannya sepihak.


"I-ibu," ucapnya tersenyum bahagia.


Akhirnya ia seutuhnya menjadi milik tantenya, jangan ada anak lain yang bersaing merebut perhatian tantenya. Terserah mau dikatakan kekanak-kanakan, ia tidak ingin terbuang terabaikan seperti dulu lagi.


Nurma gamang dengan pendiriannya, ia sudah terlanjur menyayangi Tiffany dan takut membuat hati Tiffany tersinggung. Fakta bahwa bagaimana pun Afrinda besar dalam didikan pengasuhan Dahlya dan Bram, membuatnya berpikir bahwa Afrinda pasti tidak ada bedanya dengan karakter keluarga bengis itu.


👇👇👇


Apa yang kalian lakukan kalau jadi Nurma?


Tanggapannya tentang Tiffany?

__ADS_1


__ADS_2