Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Akhirnya


__ADS_3

Panggilan Allen membungkam semua yang ada di ruangan bergantian memandang Allen dan Tiffany, Egwin kali ini tidak bisa mengendalikan putrinya yang haus akan kerinduan pada sosok mamahnya, biasanya Allen mudah saja diajak kerja sama menggunakan verbal yang sederhana.


Tiffany meremang membuang wajahnya tidak membalas tatapan putrinya, kakinya ingin segera berlari dari sini.


"Siapa mamah kamu Alle ?" tanya Gharda masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya.


Allen terdiam memandangi semua orang, kemudian menunduk sadar baru saja ia melakukan kesalahan telah memanggil mamah di depan orang lain. Sedetik kemudian air matanya tumpah terisak kecil, Jelita datang merangkulnya ikut menangis "Jangan menangis, nanti kau sakit lagi. Huaaa!"


Kedua gadis kecil ini belum sepenuhnya paham situasi orang dewasa ini.


"Jelaskan semuanya Tiffany." Gharda menatap tajam pada Tiffany yang terus bungkam. "Kenapa Allen memanggilmu mamah?"


Tidak ada yang menjawab, Tiffany ingin lari lagi Ardan menahan pergelangan tangannya.


Kini bergantian.Egwin yang ditatap meminta jawaban, sejenak Egwin menarik napas menghampiri Allen menenggelamkan wajah menangis putrinya dalam perutnya mengusap lembut. "Biarkan dia yang menjawabnya, karena saya pun sangat menunggu pengakuannya."


Tidak puas dengan jawaban Egwin, Gharda menarik paksa Tiffany berhadapan berdua lekat mata itu menarik paksa agar mau mengaku.

__ADS_1


"Siapa dia, jawab!" Suaranya bergetar. Inikah kenyataan pahit yang disembunyikan kekasihnya? Kebohongan apa lagi yang ia ketahui sekarang, kecewa dengan dirinya telah jatuh cinta pada serigala berbulu domba.


Tiffany tetap bungkam badannya membeku nyawanya seolah dicabut paksa.


"Ahhkk!!"


Gharda emosi mendorong Tiffany ke belakang, Ardan tangkas mencegah merangkul lagi.


"Dengarkan saya baik-baik, Nona Tiffany. Mulai detik ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, jangan pernah injak kakimu di sini dan jangan muncul dihadapanku. Kalau kau tidak mau mengaku, biar saya yang cari tahu sendiri semuanya." Gharda memutuskan hubungannya dan mengamcam.


"Sa-saya permisi." ArdaN


Ardan membawa paksa pulang Tiffany. Awalnya ingin meminta bantuan, justru kejadian yang mengejutkannya.


"Ghar, maaf sekali lagi. Saya harus-" Dirinya pun ragu menjawab, menoleh ke arah Allen tidak bisa menjelaskan saat ini.


Gharda mengangguk paham. "Sebenarnya Rivzal sudah menceritakan tentang ini padaku, hanya saja dia belum punya bukti. Aku meragukan cerita Rivzal, sampai tadi Allen sendiri yang jadi pembuktiannya." Inilah yang menjadi pertimbangan Gharda dan Rivzal, berkas identitas asli milik Tiffany tidak ada jejak di mana pun.

__ADS_1


"Kau tidak marah padaku?"


"Mau marah pun tidak mengubah kenyataan. Pulanglah, rencana Jelita menginap tetap ada. Mungkin dengan kehadiran putriku, Allen bisa sedikit tenang."


Tinggal Gharda seorang diri, menghubungi nomor seseorang membatalkan pembelian tanah yang seharusnya untuk membantu Tiffany membangun cabang percetakan. Angan-angan itu hilang sekejap mata, membakar semua album kenangan bersama Tiffany tersimpan di lemari kamarnya hangus asap terbang sama seperti perasaan cintamya ikut pergi menghilang meninggalkan kekecewaan.


Tiffany sudah menikah dengan dokter Egwin lima tahun lalu, Allen buah hati mereka. Gharda sempat membentak Rivzal saat mengatakan itu, sekarang ia menyesal sudah tidak percaya. Allen sahabat dari putrinya, anak dari baru saja menjadi mantan kekasihnya. Tertawa ironi dengan garis takdir yang dihadapinya.


Ahkkk!! Apakah ia harus mempercayai satu lagi tentang kematian Araz mendiang istrinya? Sepertinya ia harus mencari sendiri untuk kebenaran tentang ini.


Memukul tubuhnya sendiri atas kebodohannya telah menjatuhkan pilihan yang salah untuk menjadikan Tiffany sebagai kekasihnya, jika mengingat bagaimana mamahnya selalu menentang keras hubungan mereka dan berakhir tidak berbaikan padahal ibubya sendiri. Mengusap wajahnya berulang kali, bukan hanya mamahnya tapi juga Jelita ternyata mempunyai insting tersendiri mengenai Tiffany, Rivzal asistennya pun tidak luput menjadi lawannya bila angkat bicara tentang Tiffany.


Dia menutup matanya dan menganggap pilihahanya adalah yang terbaik dan dia sendiri yang paling tahu perjuangan cinta mereka seperti apa, namun kejadian tadi sore meruntuhkan tembok prinsip yang ia gemgam erat-arat, dirinya sudah sangat salah menilai cinta pilihannya dan menyadari bahwa perjuangan yang diagungkan tidak lebih dari kata sia-sia, cinta ini hanya dirinyalah yang berjuang Tiffany memanfaatkan untuk kepentingan pribadi.


Semua sudah terjadi, mulai malam ini ia bertekat melupakan Tiffany, perempuan yang tidak pantas untuknya.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2