Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Kembali


__ADS_3

Bisa dibilang sebenarnya pertarungan melawan Bram belum selesai, Gharda dan Rivzal mati-matian mencari akal untuk memberi serangan pada pria itu. Untuk mengatasi perusahaan yang hampir direbut, Gharda harus lebih meneliti cara apa yang hendak dilakukan. Keputusan memberikan saham miliknya terpsksa membohongi Jelita yang masih kecil belum mengerti sama sekali dengan polos membuat cap jari jempolnya dengan tinta ungu, saham sebagian yang memamg dia simpan surat dan berkas sudah digandakan, surat saham yang ditanda tangani yang diberikan pada para petinggi rakus itu adalah yang palsu notaris juga palsu.


Rivzal mencari akar bukti lain, penggelapan dana proyek itu termyata berbalik ke rekening perusahaan Sinatran. Mencari data-data lama kepemilikan saham para petinggi juga dikerahkan untuk mengambil celah, bukti cctv hilang semua, tetapi bukti jejak berkas dan pemalsuan surat masih tersimpan di gudang. Ternyata benar, kejahatan tidak ada yang sempurna.


Astrid yang mampu meneliti bisa membuat pergerakan mereka semakin cepat, siang malam mengumpulkannya susah payah hasilnya tidak sia-sia.


Tuan Alfonso memang cukup kuat mendirikan perusahaan sebesar ini sendirian, sayangnya beliau dikelabui oleh Bram pesaing iri padanya melalui para investornya.


Konfliknya sepicik itu, pantas saja mamahnya berdiam selama ini karena ketakutan.


Rivzal, Astrid, dan Duddy melapor pada polisi setempat, tanggapan mereka sangat takut untuk menghadapi kasus ini. Tidak mau menyerah, meminta bantuan pada oknum menemui Gustav menceritakan semuanya, syukurlah masih ada polisi baik meskipun kekuatan oknum. Dengan keberanian Gustav membuat negoisasi pada sketaris Bram, jangan ragukan power Gustav sama kuatnya dengan Bram di negara ini.

__ADS_1


Jadilah keputusan ditengah-tengah, biarkan Dewono yang menjadi kambing hitam dan para petinggi itu, maka pihak Bram akan menarik Laxsa mengundurkan diri. Terpaksa Gustav menyetujui pilahan itu, kebaradaan Laxsa adalah penganggu di kepolisian.


Mau kecewa pun tidak bisa berkata banyak, padahal masih ada kejahatan besar yang harusnya ditangani, tapi ya ini Bram. Yang penjahat aslinya tidak dihukum, siapa yang puas keputusannya seperti itu


Mendengar keterangan dari Gharda, mamahnya menangis memeluk tubuh putranya. Gharda mengusap punggung mamahnya mengatakan ia baik-baik saja.


Jika mereka sudah aman nama baik sudah pulih, mamah mengajak mereka untuk pulang kembali ke rumah, biarkan ia yang merawat luka-luka putranya menebus rasa bersalahnya.


Ia menyesal telah meragukan putranya, ternyata ia salah pemikran, Gharda bisa, Gharda mampu, ditambah lagi kehadiran teman-temannya turut membantu dan mendukung.


"Bagaimana menurutmu, Zal. Apa kita bisa kembali seperti semula?" Gharda bertanya mencari pertimbangan lain.

__ADS_1


Rivzal bangkit dari duduknya meraih pisau memotong apel untuknya. "Pengamatanku selama dua hari kau masih di rumah sakit ini, pihak Bram tidak pernah mengganggu kita, dan hedline berita tentang yang kemarin juga sudah anyep berganti berita lain berlomba tranding, kau bukan lagi buronan, lukamu sudah membaik. Jadi kurasa sebaiknya ayok kita pulang, keluargamu, Jelita merindukanmu, kita juga harus segera mengisi perusahaan yang kosong beberapa hari ini," terang Rivzal sangat yakin.


"Lalu Afrinda? Aku takut Bram mengambilnya dari kita," resahnyahnya.


Sebelum melanjutkan ucapannya, Rivzal menghabiskan potongan apelnya. Astrid sudah mendelik di sampingnya, ini tidak sopan.


"Kita berunding dulu, Afrinda belum pulih juga, Danu masih dalam tahap mengambil kepercayaan Afrinda."


Astrid mengesah panjang, ia sudah sangat merindukan sahabatnya itu.


Bram masih belum muncul, entah dimana bersembunyi. Yang jelas untuk saat ini, Gharda menambah pengawalan keluarga dan Afrinda, ia juga harus bekerja keras untuk menambah kekuasaan dan kekuatannya baik perusahaan maupun image. Itu adalah tekadnya untuk kembali melaean kekuasaan Bram, jika kekuatan mereka setara, Gharda akan lebih percaya diri untuk menggulingkan Bram menuntaskan dendamnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah, jangan sedih terus. Lebih baik kita makan siang bersama ya," Astrid mencaorkan suasana.


Untuk sekarang ini mereka menikmati sedkkit kebebasan sebelum mengumpulkan tenaga untuk menghadapi perang kedua.


__ADS_2