Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Hari Pernikahan 3


__ADS_3

Acara sesi penandatangan surat restu selesai, Syeni dan Danu membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai resmi.


Saat MC hendak membuka mulut menginstruksikan sesi berikutnya, tiba-tiba lampu gedung padam menimbulkan kepanikan semua orang.


Suasana tamu undangan mulai riuh berbisik ini ada apa, para wartawan kelabakan hampir gaduh.


Tiga menit lampu padam tiba-tiba hidup kembali dengan sesuatu ada sedikit berbeda. Para tamu undangan terkagum-kagum dengan cahaya sorot dari arah altar tepat dari atas kepala kedua mempelai, lampu altar masih padam menyisakan lampu cahaya kuning yang samgat indah menyesuaikan dekorasi mempercantik altar.


Suasana kembali hikmat dan tentram, penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti.


Di lorong antar kursi tamu Jelita dan Allen sudah berdiri membawa masing-masing yang diberikan tugas, Jelita membawa nampan mungil ada kotak cincin cantik dihias, Allen membawa rangkaian bunga putih mempesona. Kedua bocah itu saling pandang tersenyum mulai melangkah menghampiri altar dimana kedua mempelai sudah berdiri menerima barang yang dibawa.


Gharda menerima kotak cincin menoel pipi putrinya, Afrinda menerima bunga mengusap pucuk kepala Allen. Kedua gadis itu turun bergandengan imut sekali jadi terlihat mirip dirias hampir serupa.


Berikutnya meletakkan bunga ke samping lilin yang tadi lalu kembali ke tempat, bersiap mengucap janji suci dihadapan pemula agama dan semua orang.


Berhadapan menunduk saling mengemgam tangan, Gharda dengan sekali tarikan napas lancar tegas mengucapkan janji suci lalu memasangkan cincin di jari kelingking Afrinda, Afrinda mengucapkan janji suci dengan lancar dan teduh memasangkan cincin di jari kelingking Gharda. Kemudian berhadapan dengan pemuka agama untuk diberkati.


"Saya nikahkan engkau Gharda Niel Alfinso dan Afrinda Sinatrani dihadapan Tuhan dan para saksi, mulai saat ini kalian sah menjadi suami istri, hiduplah dengan penuh cinta kasih dan Berkat Tuhan akan selalu beserta cinta kalian."


"Beri tepuk tangan untuk pasangan baru ini!" lanjut pemuka agama ikut tersenyum bangga.

__ADS_1


"Omah, aku punya mamah baru!" pekik Jelita tepuk tangan kegirangan.


Allen ikut tersenyum, tapi tunggu. Tidak sengaja matanya seperti melihat sesuatu, namanya anak-anak feallingnya masih terganggu dan mengabaikan tidak mengerti.


Semua orang tepuk tangan ikut terharu.


Giliran mempelai menamdatangani akta pernikahan yang sudah disiapkan, mem-pamerkannya pada semua orang.


Dilanjut dengan nyanyian sakral penutup, acara foto bersama keluarga antusias.


Foto bersama pemuka agama, foto berdua saja, foto keluarga.


"Afrinda."


"Ayah sudah berjani padamu, Nak. Jangan memangis hapus air matamu nanti bedaknya luntur."


"Ibu?"


"Maafkan ayah." Danu tidak enak hati merasa bersalah tidak mewujudkan permintaan putrinya.


"Tidak apa," Afrinda mencoba mengerti walau dalam hati kecilnya pasti ada kecewa.

__ADS_1


"Boleh ayah mengecup keningmu?"


Gharda mengangguk menyetujui.


Danu mengecup kening Afrinda agak lama, tanpa sadar air matanya jatuh memeluk putrinya erat-erat.


"A-ayah kenapa?" Firasatnya kenapa jadi gelisah saat ayahnya memeluk seperti ini?


"Tidak, Nak. Kau sudah dewasa tanpa kehadiranku, ayah sangat menyesal. Ingin sekali kau menjadi bayi lagi, tapi itu tidak mungkin karena kenyataanya kau sudah sebesar ini. Ayah sudah tua sekarang, berapa lama lagi ayah bisa melihatmu, Nak."


"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah harus tetap sehat. Aku ingin ayah memggendong cucu dariku nanti, bahkan sampai punya cicit aku ingin ayah disampingku."


Jemari tia Danu mengusap ujing manik Afrinda, "Ayah tidak bisa janji karena bukan hak kita yang menentukan usia-"


"Ayah-"


Danu meraih pergelangan tangan Gharda menyatukan keduanya dalam gemgamannya, memandangi pasangan ini lamat-lamat menikmati waktu. "Hiduplah dengan baik, Nak. Gharda yang akan menjagamu sekarang, semoga kalian selamanya saling mencintai dan melahirkan cucu yang lucu."


Gharda ikut menangis memeluk ayah martuanya hangat, "Ayah nartua harus tetap sehat, jika kau tidak banyak waktu menggendong Afrinda saat bayi, gantilah dengan menggendong cucumu dan ayah ayang akan memberikan namanya kelak."


Senyum tua itu mengartikan segalanya.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2