Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Pulanglah


__ADS_3

Tidak ada yang heran dengan kehidupan Bram yang selalu berbuat curang dalam berbisnis, ini sudah menjadi rahasia umum keturunan dari pendahulunya. Ayah dari Bram juga pernah melakukan hal yang sama lalu menurunkannya pada anaknya sendiri, mamahnya adalah wanita penggila kerja yang tidak memberi perhatian penuh pada keluarga intinya.


Tidak ada hal manis yang perlu diingat dari orang tuanya, Bram memang lebih akrab pada ayahnya, itu pun hanya dalam hal academis saja. Apa perassan Bram sedih atau bagaimana, ayahnya tidak pernah membahasnya, sekalipun Bram menangis, ia dipaksa dibentak agar diam.


Saat kedua orang tuanya bercerai pun Bram tidak mau mengerti dan peduli, di usianya yang masih 15 tahun Bram lebih memilih hidup seorang diri tanpa memilih ayah maupun ibunya. Dan mirisnya mereka pun tidak mempermasalahkan itu, perpisahan keluarga ini menjadi cemoohan rekan kerja.


Bram tentu masih bisa melanjutkan hidupnya dengan uang banyak warisan yang diterimanya saat pengadilan perceraian orang tuanya, tinggal di apartemen seorang diri menjalani pendidikan tanpa pendampingan orang tuanya sama sekali. Ayah dan ibunya hanya bertukar kabar melalui ponsel karena ayahnya memilih hidup di luar negeri, ibunya sibuk karier. Tumbuh menyimpan sejuta kerinduan semenjak ia beranjak dewasa Bram menyadari ia ternyata membutuhkan sosok mereka.


Bram anak yang cerdas nilai ujiannya dan keseharian selalu membanggakan prestasi, lulus dengan nilai tertinggi berharap ayah dan ibunya datang pada pesta wisuda kelulusan itu.


Bram menangis di ujung ruangan sendirian harapannya kandas, hanya surat dari ayahnya dari kepala sekolah diberikan padanya dibawa pulang ke apartement.


Membaca isi surat itu membuatnya bangkit menaruh harapan besar lagi, ayahnya akan kembali ke negara ini mengajak bersatu pada ibunya sesuai dengan permintaanya apa bila Bram bisa mempertahankan prestasinya di universitas pilihan ayahnya itu.

__ADS_1


Ini bukan universitas biasa, banyak saingan yang pintarnya sama rata, termasuk Alfonso dan Dahlya.


Nilai Alfinso selalu lebih unggul dari nilainya, menekuni bidang yang sama Alfonso lebih banyak dikagumi dari dirinya, dimana-mana nama pesaingnya itu selalu menjadi rebutan. Bram tidak suka, baginya Alfonso adalah lawan yang harus disingkirkan karena bisa-bisa ayahnya tidak mengabulkan permintaanya.


Saat itu adalah puncaknya membacakan nilai semester, tiba-tiba ayahnya pulang dan menamparnya dengan ucapan pedas karena nilainya tidak menjadi juara pertama.


Ibunya tidak peduli padahal Bram sudah merengek setidaknya dibela, wanita itu justru pergi.


Semakin menumpuklah dendam itu tertanam dalam batinnya, Alfonso adalah orang yang menjadi sasarannya.


Sampai ayahnya meninggal karena sakit pun dan ibunya menikah bersama pria bule jauh di luar negara sana, tanpa disadari Bram tumbuh menjadi anak yang tidak baik, selalu ambisius karena tekanan dari ayahnya, dan satu hal yang sangat disayangkan, Bram kebingungan tidak tahu apa itu cinta dan mencintai, tidak ada yang mengajarkan dia tentang itu.


Hidupnya hanya berpacu pada ambisi yang harus dicapainya, apa pun caranya itu ia harus bisa meraihnya.

__ADS_1


Tidak merasa bersalah membunuh Alfonso, tidak merasa bersalah telah merebut Dahlya dari Danu, dan merebut hak milik orang lain. Bram sudah terlalu dalam menggeluti dunia itu, ia sudah terjebak sampai kejurang terdalam.


Bahkan ia pun mendidik anak-anaknya persis seperti dirinya, hanya saja ada Dahlya yang masih bisa memberi kehangatan.


Sampai saat ini tanah itu mengubur dalam tubuhnya, diakhir hidupnya Bram tetap terjebak dalam ketidak pahamannya pada diri sendiri.


Dua gundukan tanah ini memukul hati keempat anak yang ditinggalkan, berjejer menatap rumah terakhir untuk orang tuanya.


Astrid menyusul membantu Afrinda menaburkan bunga, diikuti ketiga adik-adiknya.


"Sio," panggil Afrinda menepuk lembut pundak adiknya ini.


"Kak, semuanya sudah selesai. Kita semua bisa hidup bebas tanpa tekanan dari papah lagi, pergilah lanjutkan hidup kakak. Aku juga akan melanjutkan hidupku jati diriku yang sebenarnya, tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari rumah ini. Aku tidak dendam pada apa pun, inilah takdir yang kita hadapi. Kembalilah pada suami dan orang tua kandung kakak."

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2