Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Kisah Di Tempat Asing


__ADS_3

Sebuah balon berbentuk kartun perempuan berpakaian merah jambu yang berdampingan bersama si beruang, Jelita begitu tertarik dan ingin segera meraihnya. Tanpa pikir panjang kaki mungilnya melangkah menyentuh aspal mengayun menyebrang jalan.


"DEK AWASS!!"


Tidak mendengar teriakan dari orang sekitar, semua terjadi sekejap mata.


"Aayyahh!"


Si pengendara motor yang melintas syok tidak kuasa mengontrol rem menyerempet badan Jelita, detik berikutnya si pengendara oleng jatuh motornya ke arah lain. Tubuh Jelita terjatuh kepala belakangnya terbentur dan menggores kulitnya, keterkejutannya yang membuat keseimbangannya badannya kakinya seperti lumpuh tidak bisa menghindar menampar aspal berakhir tidak sadarkan diri.


Telinganya sayup menghanbur kerumunan orang-orang membopong Jelita, darah menodai gaunnya.


Tidak tahu apa yang terjadi lagi. Seketika melupakan rasa sakitnya, Jelita membuka kelopak mata sudah berada di tempat asing.


"AYYAHH,,,! OMA,,!! OMA BIBI!! KAKEK LEO!! MISS AFRINDA,,!! ALLEN!! Dimana kalian??!!"


Jelita memanggil nama satu per satu orang yang dekat dengannya, berlari di ruangan gelap tanpa sudut membuatnya ketakutan menagis. Ia sempat terjatuh, tapi kenapa tidak sakit ya?


"Jelita."


Terkesiap melangkah mundur siapa yang memanggilnya di ruangan yang tidak jelas. Seketika cahaya putih menyinari membuat silau dan seorang wanita dewasa muncul dari dalamnya berpakain gaun panjang putih bersih seraya tersenyum padanya.

__ADS_1


"Ini'kan yang ada di foto dalam kamarku? Bunda Araz?" gumamnya bertanya sendiri masih terus memandang takjub lalu mengingat-ingat lagi ketakutannya sudah hilang berganti rasa penasaran.


"Ayok main dengan Bunda, Sayang."


Suaranya merdu dan senyumannya indah mempesona, tanpa terasa Jelita membalas uluran tangan wanita itu dan berjalan di sampingnya. Rasanya nyaman dan damai.


Duduk di atas pangkuan bundanya sembari menghirup aroma bunga-bunga yang sedang bermekaran di depan mereka saat ini, tersenyum centil merasa cantik karena bunga yang diselipkan di antara daun telinganya. Tidak susah sepasang kupu-kupu hinggap di atas pinggung tangannya, bundanya tinggal memberi perintah dan semus terlaksana. Berseru kegirangan ketika bundanya memakaikan ia mahkota yang terbuat dari akar bunga melingkar di atas kepalanya.


Mengejar bundanya mengelilingi kolam dan bercanda bercermin dari jernihnya air kolam, Ungkapan pujian dari bundanya membuat senyumnya mengembang.


Saling siram-menyiram keduanya bercanda gurau, sekali sentuh saja tubuh mereka sudah kering tanpa pengering apa pun.


Menggendong Jelita berputar-putar menjaga agar tidk jatuh.


Tidak ada gelap, semuanya terlihat terang dan tempat yang sangat indah dikelilingi bunga berwarnaz-warni ada kupu-kupu terbang menari di atas kelopaknya. Tidak ada malam atau pun siang, tidak ada lapar dan haus, tidak ada yang menatapnya tajam. Jelita benar-benar menyukai suasana di tempat ini, apa lagi ada bundanya yang sedang memeluknya terbaring di atas rumput hijau.


"Jelita tidak ingin pulang?"


"Tidak mau, aku mau di sini saja terus bersama Bunda." Inilah yang diinginkan sekarang.


"Ayahmu memanggilmu, Sayang. Dia sangat merindukanmu."

__ADS_1


"A-ayah, aku takut."


Jelita terdiam menyimak bujukan untuk pulang, ia terus menolak. Sampai di mana ia dibawa ke tempat di awal ia bertemu dengan bundanya.


"Kita kok ke sini lagi, Bunda?"


Berdiri mematung seolah ada yang menghalangi langkahnya untuk mendekati bundanya. Bunda perlahan menjauh dengan semyuman itu yang akan diingat seumur hidupnya. Menoleh ke belakang suara ayahnya memanggil namanya, suara Miss Frind manggil namanya. Tapi orangnya tidak muncul.


"Pulanglah Jelita, waktunya sudah habis. Hidup berbahagialah dengan seseorang yang akan menjagamu di sana, kita sudah berakhir."


"Bundaa!" Jelita berteriak tapi cahaya putih itu membawa bundanya pergi.


Araz meninggalkan putrinya mengembalikan di mana tempat seharusnya, ibu dan anak ini sudah sangat jauh. Siapa pun tidak bisa menjangkaunya, ia meminjam jiwa itu sebentar. Jiwa sesrorang yang sangat dirindukan, alam mengabulkan dengan cara seperti itu.


"Jelita ayok!"


Itu suara ayahnya lagi tidak muncul entah berada di mana. Mengikuti arah cahaya yang menyinari pandangannya, semakin terang cahaya ia memejamkan mata tubuhnya seperti ditarik dari tempat itu dengan perasaan yang bahagia telah puas bermain melepas rindu dengan bundanya.


Terbangun tidak ingat jelas tentang mimpinya, tidur panjangnya membawa ia bertemu dengan bundanya. Biar kenangan ini tersimpam di dalam hatinya, kelak di usia dewasa mimpi itu akan terulang di dalam kenangan yang sudah mampu dipahaminya.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2