Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Di Ruang Dokter Egwin


__ADS_3

Duduk gelisah menunggu jalannya operasi pendarahan otak yang dialami mamahnya, Mang Leo sang supir mengalami benturan tetapi tidak terlalu parah masih terbaring tidak sadarkan diri di ruangan lain. Salah satu pengawal datang tergopoh-gopoh menghampiri tuannya mengatur deru napasnya sebentar.


"Mang Leo terpaksa banting setir menghindari mobil lain yang melaju kencang ke arah mereka, Tuan. Sehingga mobil oleng menabrak pembatas jalan, sementara mobil itu tetap melanjutkan perjalanannya." Lapor lelaki berpakain serba hitam tersebut.


"Lalu apa keterangan polisi?" Gharda cepat mencaritahu penyebab kecelakaan melalui dua cara, cari sendiri memberi perintah pada bawahannya, dan menunggu keterangan dari polisi.


"Tuan Rivzal sudah berada di kantor polisi Tuan."


"Pergilah ajak temanmu mengawal Bibi Emma sebentar lagi pulang bersama Jelita."


Si pria menunduk hormat berlalu pergi.


Gharda masih menunggu dengan waktu yang hampir tiba, pengawal yang lain sudah datang untuk menemaninya di sini.


Pintu ruang operasi terbuka, Egwin bersama petugas medis lainnya keluar menghadap Gharda. "Ikut keruanganku."


Di sinilsh kedua sahabat itu berada, menyodorkan Ghaeda air minum dari lemari pendingin agar Gharda sedikit lebih tenang.


"Mamahmu berhasil melawan kritisnya, pendarahan otaknya sudah bisa kami tangani. Kita menunggu sadar dan memeriksa ulang apakah ada gejala lain yang timbul akibat kecelakaan itu, jantungnya pun tidak ada tanda berbahaya. Ini sungguh luar biasa, padahal tante Syeni memiliki riwayat jantung, tetapi mampu bertahan dalam kondisi seperti ini. Huh, hampir saja kami gagal."

__ADS_1


"Terima kasih."


"Iya, semoga tante cepat pulih."


Memperhatikan Gharda yang masih murung, Egwin membuka jas dokternya bertanya apa yang masih menjanggal di hatinya.


Pelan-pelan Gharda menceritakan keseluruhan kejadian yang membuatya cemas, mulai dari seperti ada yang mengikuti, Jelita hampir diculik diberikan permen oleh orang tidak dikenal, sampai pelempar batu di post satpam. Tidak lupa tentang penemuan berkas yang baru saja tadi siamg, Egwin mendengarkan dengan cermat.


Mengalami hal yang sama beda kejadian Egwin juga mulai bercerita, kedua pria itu saling memandang menyimpulkan sebuah pertanyaan dan dugaan.


"Bram!"


Beberapa saat kemudian Rivzal datang menyampaikan hasil penyidikan polisi, keterangannya agak berbeda dari keterangan yang disampaikan pengawal yang tadi. Mang Leo melakukan kesalahan kerja sehingga menabrak pembatas jalan, mobil yang di cctv itu tidak cukup kuat menjadi penyebab utama, dijalan umum kendaraan siapa saja berhak lewat dari situ. Rivzal keukeh meminta salinan rekaman cctv untuk memcari bukti lain, petugas tidak memgizinkan dan mengusirnya. Padahal ia ingin melihat plat mobil yang melintas tersebut. Jelas ada yang janggal di sini.


"Aku yakin masih dilakukan orang yang sama," ucap Egwin keningnya berkerut berpikir keras.


Egwin, Gharda, dan Rivzal terlibat pembicaraan serius untuk menghadapi situasi saat ini, Gharda merasa bersalah karena perbuatannya Egwin ikut terancam beserta orang tersayangnya.


"Lalu bagaimana dengan pencarian orang tua kandung Afrinda?" Rivzal bertanya.

__ADS_1


"Aku mencurigai seseorang", sahut Egwin. Setelah mendengar penjelasan Gharda tentang pertemuan Afrinda hari kemarin, ia menjadi teringat lagi dengan pemikirannya saat menemui Ny.Dahlya di ruang tamu.


"Setelah aku perhatikan lebih rinci wajah Afribda mirip dengan wajah Tante Nurma, aku sudah mengenal Tante Nurma dan Afrinda, dan akhir-akhir ini baru aku engeh wajah mereka mirip."


"Kalau hanya mirip, itu tidak jaminan," sahut Gharda belum percaya.


"Tiffany pernah cerita, kalau aku tidak salah ingat dia bilang bahwa om dan tantenya pernah mempunyai anak bayi perempuan, tapi sudah meninggal belum genap satu tahun. Dan hal itu bisa jadi awal untuk berpikiran bahwa sebenarnya anak mereka tidak meninggal, kebutulan Afrinda dan Tante Nurma mirip, bisa jadi Afrinda adalah bayi itu." Egwin menuturkan ucapannya dengan serius.


"Seperti sinetron saja," celetuk Rivzal.


Egwin dan Gharda menatap tajam padanya, 'Ihss!"


"Kalau menunggu cerita dari mamah, pasti butuh waktu lama, padahal mamah adalah saksi kunci tentang keluarga Danu." Mamahnya sedang terbaring sakit, tidak tega jika Ghaeda memaksa untuk berbicara tentang hal ini pada Beliau.


"Aku akan membawa Afrinda keluar bertemu dengan Tante Nurma."


Egwin memberi usul.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2