
Satu hari ini terasa sangat berat dengan kesialan menimpa Gharda, sudahlah client yang membatalkan kerja sama, Tiffany marah lagi dan tidak mengangkat telepon, tadi pagi perdebatannya dengan perempuan itu entah mengapa sampai malam ini masih menguasai emosinya.
Bersandar di sandaran kursi kerjanya, memejamkan mata menghela napasnya panjang. Andai dia tidak mengantar Jelita tadi pagi, pasti semua ini tidak terjadi. Begitu isi pikirannya menyimpulkan kesialannya hari ini.
Teringat dengan sesuatu, meraih ponsel mencari kontak seseorang lalu menghubunginya.
"Apa hasil tes DNA tidak bisa cepat keluar? Seminggu rasanya terlalu lama."
(......)
Ya, Gharda diam-diam melakukannya lagi di rumah sakit yang berbeda.
Ponsel yang satunya berdering ada mamahnya memanggil, bertanya kenapa jam segini belum juga pulang. "Lembur, Mah," jawabnya berbohong. Malam ini dia ingin keluar sebentar menghilangkan stresnya.
Rivzal tidak ikut, jadilah dia seorang diri menyetir menikmati keramaian malam. Kiri kanan banyak orang berlalu-lalang entah tujuan kemana, Gharda tidak peduli. Perutnya terasa lapar mencari tempat makan yang sepi pun sulit sekali, semua terlihat ramai.
Muncul satu ide cemerlang yang membuat dia harus memakai topi dan masker menutupi wajahnya agar tidak dikenali orang banyak, memesan ruang VIP untuk sekedar makan malam seorang diri.
"Ada apa dengan Pak Gharda dan Tiffany ya? Tadi Tiffany datang makan di ruangan ini juga dengan laki-laki lain, sekarang Pak Gharda datang makan sendirian. Apa jangan-jangan mereka putus?"
"Huss, pelankan suaramu. Pertanyaan kita sama. Udah gitu, laki-laki yang bersama Mbak Tiffany terlihat lebih muda, brondong."
"Sudahlah. Tidak usah ikut campyr urusan orang lain, nanti didengar tahu rasa. Ayo lanjut kerja."
Telinga Gharda mampu mendengar bisikan ketiga pelayan yang memperhatikannya dari balik cela dinding pembatas, tidak ingin memperpanjang masalah ia kembali fokus makan. Tetapi siapa laki-laki yang dimaksud para pelayan kafe itu?
Memikirkan itu selera makannya hilang. Keluar tampa menghabiskan makanan, pikirannya semakin betkecamuk.
__ADS_1
Lebih baik terus melanjutkan petualangan malam ini, memutar mobilnya ke arah tidak tentu yang terpenting berkeliling-keliling kota.
Tertarik dengan keramaian orang-orang, ternyata ada pasar malam. Memarkirkan mobilnya keluar memakai masker berjalan melalui pintu masuk dan ada dua orang yang mengikat perhatiannya juga berada di pasar malam ini.
"Lancang sekali wanita itu membawa Jelita keluar malam tanpa seizin saya," ungkapnya menajam memperhatikan interaksi keduanya. Ingin menghampiri mereka tetapi ingat dia pun sedang melakukan penyamaran, malu jika seorang Gharda mampir ke tempat seperti ini. Lebih baik mengikuti mereka memperhatikan dari jauh.
"Ayo Om Badut, buat bublenya semakin banyak lagi! Jelly suka sekali!" teriak Jellita melompat kegirangan bermain berlari kecil sesekali memecahkan bulatan buble yang melayang di udara.
Anak-anak semakin berdatangan berkumpul bermain buble bersama Jelita, berlomba menjangkau buble yang melayang tinggi di udara. Aksi badut selanjutnya yang membuat sulap permen membuat antusias anak-anak semakin kegirangan, siapa yang suaranya lebih kuat bernyanyi mendapat hadiah sulapan bunga. Jelita bernyanyi tersenyum seraya bertepuk tangan, mendapatkan hadiah permen warna-warni.
"Om Badut, ini ada uang untuk Om. Terima kasih sudah buat Jelly bermain malam ini." Jelita mengulurkan beberapa lembar uang merah dan memasukkanya pada kantong kostum. Melakukan apa yang dibisikkan Miss Frind.
"Terima kasih Jelita anak baik." Om Badut kembali beraksi menyulap sepotonk kain menjadi setangkai bunga mawar merah.
Afrinda mengajak Jelita bermain permainan anak-anak menaiki yang mana semampu Jelita, mendampingi memberi semangat dan mengusap keringat Jelita yang tidak ada lelahnya.
Ini kesempatan Gharda keluar dari persembunyiannya.
"Jelita!"
Jelita dan Afrinda terkejut sudah ada Gharda tiba-tiba muncul dari balik pohon.
"Ayah!" panggil Jelita keheranan.
"Kau lagi kau lagi!" Gharda menunjuk ke arah Afrinda.
"Ya. Ini saya," sahut Afrinda santai seraya menyedot minumannya.
__ADS_1
"Kau membawa anak kecil keluar malam tanpa seizin saya. Berani sekali kau!"
"Coba periksa hp anda dulu."
Gharda malu sendiri setelah membaca pesan dan panggilan tak terjawab dari mamahnya, tapi ia tentu tidak mau kalah.
"Dia besok sekolah, kau gurunya. Tap-"
"Besok tanggal merah, Pak!"
Kali ini Gharda benar-benar bodoh dihadapan orang lain, ia merasa kesal sendiri. "Masih ada hari besok, kenapa harus malam-malam? Kau membuat aturan sendiri padahal bukan hakmu."
Afrinda jengah. "Jika besok pun, apa anda mau menyediakan waktu untuk bermain bersama Jelita? Saya sudah berbicara langsung pada omanya, dan diizinkan. Kami pikir anda lagi sibuk tadi, sampai tidak menyempatkan waktu hanya sekedar mengangkat telepon dari Jelita. Padahal tadi Jelita mau mengajak anda, bukan saya," terang Afrinda menjelaskan.
"Ka-"
"Ayah, jangan marah pada Miss Frind. Tadi aku yang mengajak Miss Frind pergi ke sini, marahi Jelita saja."
Gharda menutup mulutnya yang hendak marah-marah setelah mendengar ucapan Jelita, ia berusaha menahan diri dan tatapan sedih Jelita membuatnya melunak.
"Ayok kita pulang." Gharda membawa Jelita dan Afrinda masuk mobilnya.
Di jok belakang tanpak Jelita yang bersandar di tubuh Afrinda, usapan lembut Afrinda membuat Jelita mengantuk dan mulai tertidur kepalanya bersandar di kedua pahanya.
Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Gharda. Menyentuh dadanya, ada desiran hangat yang tidak bisa dipahaminya.
👇👇👇
__ADS_1