Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Merindukannya Juga


__ADS_3

Pagi ini Gharda absen tidak turun tangan memprersiapkan Jelita untuk kepulangan nanti, di rumah sedang melakulan sesuatu usaha untuk merebut hati Jelita agar membaik padanya. Mamahnya yang akan bersama Jelita di rumah sakit, itu yang menjadi kesepakatan mereka untuk berbagi tugas hari ini.


Sebagian besar dekorasi di ruang tamu sudah dikerjakan Afrinda tadi malam, Gharda hanya tinggal mengecek ulang dan insiatif mengubah sedikit dekorasi kamar Jelita.


Matanya terkunci pada salah satu figura yang tergantung di dinding kamar Jelita, dia istrinya yang sudah tiada. Berjinjit meraih foto lalu mengusapnya perlahan. Banyak perasaan campur-aduk saat ia kembali menatap wajah Araz, masih berkemelut dalam hatinya belum bisa mengambil tindakan tegasnya untuk menyelesaikan persoalan hidupnya yang masih terjebak masa lalu yang belum sempat ia mencari tahu kebenarannya.


"Jika kau masih hidup, kau pssti akan memakiku'kan?" tanya bicara sendiri pada figura Araz.


Mengembalikan figura berlanjut mengganti semua alas ranjang dan perlengkapan tidur milik Jelita, mulai dari bad cover sampai sudah mencuci boneka-bonekanya. Semua itu dicuci sengaja menggunakan sabun milik Gharda, aroma yang sudah menempel di tubuh Gharda agar perlahan Jelita mengingat ayahnya melalui metode hirup aroma tubuh.


Bisa dibilang konyol? Tidak ada yang konyol bagi Gharda selagi ini usaha untuk mengembalikan Jelita pada pelukannya.

__ADS_1


Nanti siang Jelita sudah pulang dan melanjutkan perawatan di rumah saja, suasana rumah mungkin bisa lebih cepat untuk pemulihan Jelita sesuai saran dokter Sekalian disambut dengan perayan ulang tahun yang tertunda kemarin, mengundang teman satu kelas merayakan bersama-sama yang akan di rumah ini sekaligus bisa memberikan efek positif mendorong Jelita agar mau cepat sembuh setelah bertemu dengan teman-temannya.


Afrinda di sekolah juga sedang sibuk mengajar dan mengatur muridnya berbaris rapih menaiki bus yang sudah dirental Gharda kendaraan ke rumahnya.


Semua tidak sabaran, turun satu per satu memberi salam pada orang dewasa yang menyambut mereka dengan seragam yang sama dan terkagum melihat dekorasi ruangan yang terlihat sangat indah. Memakaian topi kerucut mengikat diselipkan di belakang telinga. Mempersiapkan meja kue ulang tahun dan sudah mengikat balon diiisi sobekan kertas warna-warni, semua direncakan dengan matang.


Menghubungi Nyonya Syeni agar bersiap dijemput, di seberang menjawab sudah siap menunggu.


Jelita tersenyum sekilas, ada yang menganjal di hatinya. Tetapi tidak mampu mendekskripsilannya melalui kata-kata, netra indahnya mengamati seluruh sudut ruangan yang sudah ditempatinya kurang lebih dua mingguan ini. Hingga pandangannya terpaku pada sofa yang terletak di ujung sana, tiba-tiba bayangan ayahnya muncul membuat air matanya keluar. Biasanya ayahnya di situ duduk sambil memperhatikannya, pagi ini kenapa tidak ada? Tanpa sadar ia mulai mencari sosok itu, ada rasa tidak suka melihat sofa itu kosong.


Tidak ada yang tahu ini. Pernah satu malam Jelita terbangun tengah malam di temaramnya lampu, mengerjap bola mata berputar berkeliling dan menemukan ayahnya tidur meringkuk posisi tidak nyaman kedinginan di atas sofa. Hampir satu jam ia terbangun sendirian, ayahnya masih tidak berpindah dan hujan deras tiba-tiba itu membuat ayahnya terganggu ikut terbangun.

__ADS_1


Ayahnya berjalan menghampirinya, segera memejamkan mata pura-pura tidur. Jantungnya berdegup tangan hangat itu mengusap rambutnya, berbisik membuat hatinya menghangat. Suara petir dari luar jendela tubuhnya dipelukan ayahnya, "Ayah tidak akan membiarkan petir itu menganggu tidurmu."


Bisikan itu perlahan menangkannya usapan itu terlena perlahan mulai mengantuk tidur dalam dekapan ayahnya.


Jari oma yang mencoel pipinya membuyarkan lamunannya, "Kita mau berangkat, jangan melamun ya, Jelly."


Sebelum kursi rodanya menghilang dibalik pintu, sekali lagi ia mencuri pandang sofa dari ujung matanya, kemana ayah?


Semua berjalan semestinya. Tanpa ada yang menyadari satu mobil hitam mengikuti dari belakang menjaga jarak agar tidak ketahuan. Sipengendara tersenyum licik lalu memakai kaca matanya dengan elegan.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2