Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Laxsa


__ADS_3

Kabar tertangkapnya Gharda sudah beredar mengacaukan pihak kepolisian, mereka kebingungan tidak pernah merasa Gharda ditangkap bahkan keberadaanya pun tidak diketahui. Saling bertanya pada tempat rumah lapas yang lain, dari pihak lain juga tidak pernah menangkap Gharda, justru bertanya balik ada keanehan dari oknum.


"Jadi siapa yang menangkap Gharda? Kemana dia dibawa?" tanya salah satu petinggi polri yamg bertugas khusus menangani kasus Gharda.


Sesama mereka saling memandang diam mengaggeleng tidak tahu, petinggi tersebut marah membubarkan barisan. Sebab laporan palsu ini telah merusak citra mereka di mata kepolisian lain mencerca mempermainkan hukum.


Dewono juga belum ditemukan, Gharda katanya ditangkap padahal tidak, ketua team khusus mencengkram kepala pusing menghadapi kasus ini.


"Pak Gustav, saya izin bicara." Salah seorang anggota muda bernama Mario berpangkat Briptu duduk dengan berani berbicara dengan Gustav atasannya.


Gustav mempersilakan.


Terserah mau ditanggapi seperti apa yang akan dilaporkannya nanti, Mario sudah sangat ingin mengatakan kejanggalan dihatinya hanya saja tidak cukup bukti. Laxsa sering bolos saat diberikan tugas, ia juga kedapatan menerima suap dari para penjenguk narapidana yang ada di sini, mengingat tempat ini khusis pidana skala besar merugikan negara. Mario melihatnya langsung, ia menegur tetapi justru mendapatkan ancaman balik. Laxsa pernah merampas hak narapidana merebutnya secara paksa, padahal ia sangat kaya. Pernah lalai hampir membuat salah satu napi kelas kakap kabur, petinggi lain tahu tetapi hanya dibiarkan begitu saja.


Apa hubungannya dengan Gharda?


Laxsa terlihat lebih antusias memenjarakan orang itu, bukan hanya itu alasannga, tentang dugaan hubungan perusahaan yang sedang dialami.


Gustav terdiam, ia pun sangat tahu kinerja Laxsa selama ini buruk. Dan untuk kecurigaan Mario, kali ini ia akan mencari tahu.


Yang dibicarakan sedang dalam perjalanan menuju markas, Laxsa menyetir waspada takut ada yang mengikuti dari belakang.


"Akhirnya kau datang juga, Bos!" sambut salah satu pengawalnya.


Tidak mau membuang waktu, Laxsa melangkah gaya angkuh menemui Gharda di dalam kurungan, ia tertawa sini merendahkan Gharda.


Gharda malas membalas cemoohan pria itu, tentu dia mengenali walau ini kali pertama bertemu. Adik Afrinda, itu artinya calon adik ipar sekaligus musuhnya.


Geram tidak disahut, dengan kasar membuka sel tanpa aba-aba menghantam pukulan ke bagian perut dan wajah sampai memuntahkan darah. Gharda tetap diam membuwt emosonya tersulut.


"Kenapa kau memyerangku, hah? Saya tidak ada urusan denganmu." Napas tersengal Gharda bersuara. Rasa sakit di perut dan perih di wajahnya tidak membuwt nyalinya menciut, memasang tatapan tajam aneh dengan pria ini.


Laxsa tertawa-tawa menyiksa fisik Gharda tanpa ampun, Gharda tidak melawan baginya pukulan ini belum seberapa.

__ADS_1


"Jauhi Afrinda! Berikan Afrinda padaku!"


Ada apa dengan Afrinda, menatap curiga pada Laxsa, ia mulai menyimpulkan asumsi. "Saya menunggu Bram yang menjemputnya, bukan kau bocah."


"Saya tidak butuh omonganmu. Yang saya mau agar kau mau terbebas dari sini dan kasusmu, tunjukkan keberadaan Afrinda padaku. Jika tidak, maka kqu akan mati di tempat ini!" ujarnya mengancam.


Tidak terpengaruh sama sekali Gharda memandang remeh Laxsa. "Sekalipun saya mati di tempat ini, jangan harap Afrinda kembali ditangan keluargamu yang bengis itu."


"Ahkk!"


Laxsa membogem mulut Gharda.


"Cepat katakan dimana kau menyembunyikan Afrinda!" serunya terus-menerus.


Siapa yang kuat menahan sakit seperti ini, Gharda tetap berusaha bangun membuka matanya lebar jangan sampai pingsan.


Gharda seperti mendapat arti lain dari ekspresi pria ini, membuka bibirnya yang terluka perlahan ia mulai berbicara. "Apa yang kau mau dari Afrinda, sehingga aku harus menjauhinya?"


Gharda sudah menduga terkekeh mendecih. "Dia kakakmu, kau adiknya. Lucu sekali. Kau seperti lelaki yang tidak laku saja, sampai harus menaruh rasa pada kakakmu " ejeknya.


Laxsa hanya seorang laki-laki pengecut dan mudah emosi, mendengar perkataan Gharda yang memang itu kenyataan tetapi sulit dia terima. Ia benci jika terus disangkut pautkan Afrinda kakaknya, ia cinta.


"Kau masih terlalu bodoh untuk mencintai seseorang, Afrinda kakakmu. Jika Bram sampai mengetahui ini, saya rasa dia akan menghabisi kau telah membuatnya malu."


"Afrinda hanya kakak angkatku."


"Kakak angkat di keluargamu, di mata public Afrinda anak kandung Bram," Gharda semakin mempertegas status Afrinda.


"Aahkkk! Jangan banyak bicara, lebih baik kau mati!"


Gharda mundur ketakutan ketika pistol sejajar ke arah jantungnya, dia sudah pasrah menutup mata.


"Jangann!"

__ADS_1


Suara anak buah Laxsa menghentikan Laxsa.


"Kau-" Laxsa menjatuhkan pistolnya, Gustav datang menyeretnya keluar. "Saya sudah laporkan ini pada Bram papahmu, biarkan Beliau yang mengadili putranya yang pengecut ini. Mulai detik ini, kau resmi keluar dari kepolisian."


"Lancang kau!" Laxsa tidak terima.


"Saya tidak pernah takut dengan papahmu. Saya sudah berbicara dengan sketaris papahmu, kau resmi dipecat tidak hormat tanpa melaui sidang etika polisi."


Gustav mengerahkan anak buahnya untuk membawa Gharda, meninggalkan surat untuk Laxsa.


Tidak melalui proses sidang etika agar pemecetan ini tidak diketahui publik, nama Bram bisa tercemar. Gustav menyetujui yang penting Laxsa tidak muncul di kepolisian mana pun. Dilain waktu pasti kejadian dan keburukan ini akan terbongkar di hadapan publik.


Rivzal tersenyum haru memeluk Gharda, saling memeluk seperti saudara.


"Namamu sudah bersih, Ghar. Kita menang! Dewono sudah menerangkan yang sejujurnya."


Membaringkan di brankar ambulance, Gharda dilarikan ke rumah sakit ditemani Gustav.


"Maafkan kami Tuan Rivzal, kami tidak bisa menangkap Bram semudah itu. Ternyata banyak rekan lain ikut menyemembunyikan kejahatan Bram, saya hanya satu pendukung Bram sangat banyak," sesal Gustav.


"Saya paham, Pak. Kita sama-sama berharap agar Bram cepat ketahuan, dan untuk keselamatan bapak semoga baik-baik saja. Jika bapak dipecat karena menentang pihak Bram, datanglah ke perusahaan kami."


Gharda hanya menyimak percakapan kedua orang ini, tenaganya habis untuk sekadar bersuara.


Gustav sudah menyimpan semua pengakuan Dewono, bahwa ia diperintahkan untuk menghancurkan Gharda dan perusahaan Alfonso. Tetapi jalannga tidak mulus, para seniornya justru mengecam jika Guatav sampai mengedarkan bukti itu. Jadilah keputusan semua bukti dipegang sendiri oleh Rivzal, Dewono terpaksa dikambing hitamkan beserta dua pemilik saham yang menyudutkan Gharda kemarin.


Begitulah Abraham Dao Sinatran, ia sudah lama mengikat membungkam petimggi negara untuk bersekutu dengannya. Perjanjian yang menguntungkan katanya, tidak belajar dari Dewono yang menjadi kambing hitam. Orang-orang itu sudah terperangkap terlalu dalam di tangan Bram, jika berani berhianat akibatnya tidak main-main, jadilah oknum terpaksa menutup rapat-rapat kesalahan keluarga Bram, mereka juga takut pasti nama mereka ikut teeseret jika ketahuan.


Memang dendam itu belum terbalaskan, untuk sementara waktu biar dulu seperti ini. Gharda harus segera pulih, masih banyak agenda yang menanti.


👇👇👇


Partnya panjang kali ini..

__ADS_1


__ADS_2