
"Oma Bibi, kalian sedang apa sih? Kok banyak orang dari tadi di rumah?" Jelita bertanya menghampiri Bibi Emma yang sedang sibuk memasak, memanjat pijakan kurai duduk di hadapan pengasuhnya.
"Ayah Jelly sedang dalam perjalanan mau pulang ke sini," jawab Bibi Emma terus melakukan aktifitasnya.
Jelita berkedip berpikir masih belum paham, menatap sekeliling kesibukan para pelayan. "Iya tahu, tapi kenapa sampai sibuk-sibuk seperti ada pesta gitu," ucapnya lagi.
Bibi Emma tersenyum kecil, "Kita makan enak lagi loh."
"Seperti yang waktu itu kita kembali ke rumah ini, lalu kita melakukan hal yang sama saat ayah pulang nanti. Begitu?" tanyanya.
"Iya, Jelly. Sekarang Jelly mamdi bersih-bersih dulu ditemani Tante Astrid, setelahnya duduk manis di ruang tamu menunggu Allen juga datang nanti."
"Kalau mau ada makan-makan harus mandi dulu, iya deh. Jelly mandi sekarang ya, Oma Bibi." Pelan kakinya menuruni pijakan kursi.
"Hati-hati, jangan lari-lar-anak itu." Bibi Emma mendesah berdecak melihat tingkah Jelita. "Untung saja aku tidak keceplosan ya, huf."
Suasana rumah sedang heboh disibukkan mempersiapkan sesuatu, berbagi tugas memasak berbagai macam makanan, bersih-bersih. Dan yang membuat semakin penasaran lagi, sebagian pelayan menyulap membereskan salah satu kamar tamu yang di bawah katanya untuk ditempati orang yang akan datang bersama tuan mereka.
Astrid membawa Jelita mandi ke kamar milik Jelita, mendandani gadis jecil itu secantik mungkin memakaikan gaun favoritnya.
__ADS_1
Sedari tadi Jelita merengut tidak ikut bersama oma dan om Rivzal menjemput ayahnya ke bandara, Astrid merayu membujuknya.
Sementara di bandara pesawat sudah berhenti mendarat selamat di landasan, Gharda membangunkan Afrinda yang tertidur lelap sekali.
"Apa karena pengaruh obat ya ya?"
Menoel-noel pipi Afrinda, sempat berpikir ingin mencuri kesempatan sudah gugup duluan batal niatnya. "Sauang bangun, sudah sampai. Bang-"
"Ungh," lenguh Afrinda tidurnya terusik. Mengumpulkan nyawa membuka matanya mengerjap, meringis ada rasa sedikit pusing di kepalanya, perutnya juga seperti diaduk ingin muntah reflek menutup mulutnya.
Pramugari membantubya ke kamar mandi, jika sudah muntah lagi tenaganya terkuras wajahnya pucat. Mencuci wajah agar terlihat segar, "Kita keluar."
Ny.Syeni berdiri gelisah tidak sabar menunggu orang yang sebentar lagi muncul dari dalam pesawat, Rivzal pasrah saja korban kerempongan ibu-ibu, begitu tahu kondisi Afrinda, ia banyak diberi tugas mempersiapkan ini-itu.
Mamah
Hati Afrinda terenyuh, Ny.Syeni mendeklarasikan dirinya sebagai mamah untuknya, dengan tenaga tersisa membalas pelukan Ny.Syeni, "Ma-mah," ucapnya masih ragu.
"Astaga. Cepat ke mobil, pasti Afrinda sudah lelah sekali!" Ny.Syeni menatap cemas Afrinda pucat berkeringat.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Gharda menggendong Afrinda, tidak bohong, tubuh kekasihnya memang akan selemah ini setiap sehabis muntah.
"Ghar, aku tidak mau tidur," rengek Afrinda dari tadi dipaksa berbaring di dalam mobil yang sudah di modifikasi untuk orang bisa tidur di dalamnya.
"Perjalanan ke rumah lama lagi, Sayang. Kamu bisa menyempatkan tidur pulihkan tenaga dulu," bujuk Gharda.
Bersikeras tidak tidur tetapi berbaring saja, ia takut kalau tertidur tidak sadar sudah tiba di rumah dalam keadaan wajah lusuh begitu, ia harus tetap segar sampai di tujuan.
Di rumah, yang lain sudah bersiap menyambut kepulangan Gharda. Jelita dan Allendra sengaja pakai gaun yang sama, Egwin yang menyuruh. Kedua anak itu menurut saja meskipun bingung ini ada apa.
Klakson dari luar membuat mereka tidak sabar.
"Itu ayah!" seru Jelita melompat kegirangan melambaikan tangan.
Gharda membuka pintu membantu seseorang turun, Afrinda muncul dengan senyuman hangat menutupi wajah pucat tadi memakai make-up.
"Miss Frindaa!"
Teriak Jelita dan Allen berbarengan merebut pelukan missnya, Afrinda berjongkok mensejajarkan badan menangis terharu rindu.
__ADS_1
"Miss juga merindukan kalian, anak-anak." Tidak kalah Afrinda nenciumi bergantian pipi keduanya.
👇👇👇