
Malam terakhir di kota ini, hampir satu bulan berada di rumah melawan penyakit yang bersarang di dalam pencernaanya. Badannya sedikit lebih kurus karena muntah mengeluarkan racun dan detox tubuh menyebabkan kulitnya lebih pucat ada sedikit jerawat di wajahnya.
Bertemu dengan ayah kandungnya dan Dokter Indri yang sudah sangat dekat dengannya, dua pengawal yang setia menjaga rumah pun sudah akrab.
Perasaan yang tertinggal tentang orang tuanya, ingatan tentang Nurma membuatnya susah tidur semalaman menyembunyikan kecemasa di hadapan orang sekitarnya.
Dokter Indei membantunya menyusun koper miliknya, mandi membersihkan badan, menatap sekeliling kamar yang penuh kenangan dengan tarikan napas panjang.
"Afrinda, Paman pernah bermimpi seandainya putriku masih hidup pasti sudah sebesar kamu. Matanya juga persis seperti milikmu, hidungnya, pasti secantik kamu."
"Kalau kamu sudah sembuh, paman akan memperkenalkan kamu sama istri paman. Pasti dia senang sekali melihat ada yang mirip dengan putri kami sewaktu masih bayi dulu, paman masih simpan foto-foto bayinya*."
Danu menunjukkan foto lama yang masih terawat padanya, Afrinda meraba wajah sendiri. Bayi yang belum genap satu tahun di foto itu, mirip dengannya.
Saat ia duduk menunggu di kamar, ketukan Danu dari luar memanggilnya makan hasil masakan Danu sendiri. Pernah sekali keduanya memasak bersama sambil bercanda, Danu benar-benar menghabiskan waktu untuknya.
Afrinda melangkah ke pekarangan memandangi taman hasil tangan dirinya dan Ayah Danu, apakah bunga ini akan mekar setelah mereka tidak merawatnya lagi? Siapa orang yang merawat bunga ini nanti? Menyentuh lembut permukaan pot bunga, terimgat lagi bagaimana Danu mengajarinya cara bertanam entah ilmu dari mana, sama-sama melakukan kesalahan yang hampir merusak tanah, berkat bantuan google bunga itu sudah tumbuh sampai hari ini.
"Ayah," gumamnya seraya mengusap tetes air matanya.
Bagaimana jika Ayahnya tidak menemuinya ke kota lagi? Bagaimana jika ibunya masih enggan mengakuinya?
__ADS_1
Dia ingin berjuang untuk diakui keluarganya, tapi situasi yang kurang tepat memaksanya harus pergi mengalah kembali ke ibu kota bersama Gharda.
"Sayang," panggil Gharda mengejutkannya. Menoleh ke belakang kekasihnya berjalan menghampirinya.
Afrinda tersenyum setegar mungkin.
"Apa kamu belum siap?"
"Bukan, Ghar. Aku hanya mengingat kenangan di rumah ini."
"Ayahmu?"
"Iya, apa beliau setidaknya menyempatkan waktu untuk mengantarku ke bandara. Aku masih ingin melihat wajah ayahku," ungkapnya penuh harap.
"Tiffany pasti menghalanginya."
"Tidak tahu juga. Dari caramu mengucapkanam nama Tiffany, kamu dendam padanya, tapi aku menawarkan diri untuk berbuat sesuatu padanya, kamu melarangku."
"Ghar, masih ada yang lebih penting dari Tiffany, membuang waktumu saja. Aku hanya sedih saja, harusnya tanpa hasutan Tiffany pun, ibu dan ayahku harus lebih mendengarkan hatinya'kan. Jika mereka lebih peka, hasutan Tiffany tidak bisa sebanding dengan apa yang mereka rasakan di dalam hati."
Gharda sangat memahami papang dada yang diciptakan Afrinda untuk menekan perasaannya apa.pun ia selalu ada di samping kekasihnya, merangkul Afrinda mengajaknya segera bersiap mobil sudah terparkir.
__ADS_1
Dokter Indri tidak ikut, kembali bertugas di klinik miliknya. Berpelukan perpisahan berfoto sebentar memberi nasihat agar tetap fokus untuk kesehatan pemulihannya.
Dengan pengawalan ketat menaiki pesawat kelas buisnis yang sudah dipersiapkan sebelumnya, Gharda tidak mempunyai pesawat pribadi, tapi relasi Alfonso membuatnya dengan mudah mencari pesawat khusus dipinjamnya.
Kedua pengawal membantu menaikkan barang, langkah pelan Gharda menuntun menaiki tangga pesawat.
"Eh-" Seperti ada yang memanggilnya, melirik ke seluruh lapangan landasan, hanya ruang kosong yang terlihat. "Tidak ada siapa-siapa," gumamnya kecewa.
"Selamat tinggal ayah," gumamnya dalam hati sesaat pintu pesawat sudah tertutup rapat.
"Afrinda!" seru Danu berlari di tengah-tengah landasan yang sepi memengadah ke atas langit pesawat yang membawa putrinya. Tertunduk lesu menangis tersedu-sedu, menyesali tindakannya yang tidak tegas menahan putrinya di sisinya.
mengapa ia jadi Danu yang bodoh? Kenapa ia mau saja ditekan istrinya, ini bukan dirinya, ini salah. Harusnya ia lebih bijaksana mengambil keputusan, harusnya ia bermohon agar diberikan waktu sedikit lagi untuk mengendalikan istri dan Tiffany, bukan justru pasrah membiarkan putrinya pergi.
Kenapa jadi pengecut begini, ahhhkkk!!!
Tanpa sadar tangannya memukuli kepalanya sendiri berkali-kali meratapi penyesalannya, sampai ada tangan seorang pria muda mencegahbtangannya membantubya berdiri.
"Ayo kita pulang, om," bisik pria muda itu padanya.
👇👇👇
__ADS_1
Siapa dia?