Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Harinya Tiba


__ADS_3

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.


Harinya telah tiba semua acara sudah dipersiapkan, mulai dari aula sekolah sampai siapa yang bertugas dalam acara tersebut. Semua staf terkejut dengan pengunduran diri yang tiba-tiba, Afrinda menyampaikan salam perpisahan saat setelah rapat selesai. Ada yang biasa saja, tapi ada juga yang menyayangkan keputusan Afrinda. Biarlah ia mengalah mengulurkan tangan pada Sofia tersenyum meminta maaf jika ada kesalahan, Sofia tidak menanggapi pergi melongos. Ini tidak penting, tapi Afrinda harus sebisa mungkin meninggalkan kesan yang baik di sekolah ini.


Ticha menginap tidur bertiga bersama Astrid di ruang tamu, bersama-sama membuka vidio yang dikirim siswa menguatkan Afrinda yang menangis.


"Miss Frind yang sangat baik!!" Aura berbicara dengan lantangnya.


"Miss yang cantik dan bahenol, ahahahaha!" Chiko menggombal dengan mata playboynya.


"Kata ibu aku Miss itu sabar, tidak mau memarahi aku kalau menangis. Bilangin sama ibu dong miss, jangan cerewet kalau aku menangis, biar ibu aku meniru miss saja. Huuhh!" Ouji curhat.


Astrid terus memutar vidio, Ticha merangkul Afrinda. Sampai vidio terakhir dimana Allen dan Jelita dibuat dalam satu vidio, hatinya semakin sesak.


"Miss Frind, Allen sedang bersedih. Kalau Allen sedih nanti dia susah belajar dan sakit lagi. Biasanya Miss yang membujuk Allen. Iya kan, Len?"


"Jelly, bukan begitu isi vidionya."


"Ya sudah, kau saja yang berbicara, aku tidak tahu mau bilang apa. Yang kutahu aku sayang sekali Miss Frind."


"Miss jangan tinggalkan kami ya." Allendra menangis.


"Jangan menangis Allen, besok kan kita ketemu sama Miss Frind. Nanti cerita semuanya, biar kau lega."


Percakapan dalam vidio itu semakin membuat hatinya teriris.


Besok paginya terbangun dengan mata sembabnya bersiap memulai hari yamg sedih, tiba lebih cepat sebelum jam siswa.

__ADS_1


Semua murid dituntun menuju aula sekolah duduk rapih di bangku, panggung di depan gelap sekali bingung ini acara apa. Beberapa guru datang duduk mendampingi murid kelas.


"Miss Ticha, Miss Frind mana?" tanya Jelita tidak melihat Miss Frind di antara guru yang sudah hadir.


"Sebentar lagi juga datang, Jelly."


Di belakang panggung tampak Afrinda sedang gelisah mengerat tangan saling mengegam, Astrid lagi memguatkan.


Layar panggung dinyalakan memulai memutar vidio kilas balik tentang Afrinda selama mengajar di sekolah ini, vidio pilihan dari kelasnya ikut ditayangkan.


Allen memahami apa yang terjadi, segera meminum obatmua menelan bulat-bulat, perasaan cemas bisa saja membuat area dadanya ngilu.


Vidio selesai lampu sorot panggung mengarah kepada Afrinda muncul dari balik tirai panggung, berdiri memasang semyum terbaiknya menahan air mata yang sebentar lagi akan membasahi pipinya.


"Maafkan Miss ya anak-anak, Miss tidak bisa mengajar kalian lagi."


Mendengar itu somtak membuat murid leladnya menangis di bangkunya, Jelita hampir berlari ke depan urung Ticha memeluknya erat.


Setelah sepatah dua patah diucapkan, semua bergiliran melakukan sesi foto bersama. Jelita dan Allen memeluk erat tubuh Afrinda.


"Huaa! Miss jahat ninggalin kita!"


"Huaaa, iyaa!"


"Aku tidak mau guru baru lagi."


"Tidak mau belajar lagi kalau bukan Miss yang mengajar!"

__ADS_1


Murid kelasnya menangis sesenggukan, terpaksa di bawa ke ruang kelas demi menghindari berdesakan ingin merebut Afrinda. Afrinda dibawa ke belakang panggung.


"Bu, Allen pucat," bisik Ticha pada Bu Kepala Sekolah. Badan gadis ini berkeringat dan warna kulitnya mulai berubah.


"Pak Musa, tolong bawa Allen ke UKS, jangan Afrinda melihatnya. Cepat lakukan."


Astrid membawa Afrinda pulang masih menangis, bayangan dan ungkapan murid-muridnya masih terngiang di telinganya.


Motor memasuki area kost, di tikungan terpaksa berhenti mendadak ada mobil yang menghadang dari arah depan.


Dua pria kekar berpakain serba hitam menunduk hormat pada Afrinda. "Maaf Nona, hari ini anda harus ikut kami pulang ke rumah utama."


Keduanya terbelalak, Afrinda mengerat gemgaman pada lengan Astrid. "Kenapa tiba-tiba? Tapi saya belum menyusun barang-barang, Pak."


"Itu tidak perlu, Nona. Di rumah barang anda anyak sekali, ayok Nona. Tuan berpesan, jangan membawa hal apa pun bekas dari kota ini, termasuk semua barang dan hal yang lainnya."


"Tidak mau!"


"Ini perintah dari tuan besar, ayok ikut masuk ke dalam mobil sekarang juga dan harus meninggalkan kota ini, Nona."


Sekuat apapun menolak tidak ada artinya, salah satu pria menarik tubuhnya memisahkan tangan Astrid dan tangannya.


"Afrinda!"


"Astrid!!"


Keduanya saling menatap penuh kesedihan melempar tas yang dipakai, raungan Afrinda mengoyak perasaan Astrid. Sampai mobil itu menjauh keduanya terus saling memandang melalui kaca mobil.

__ADS_1


Afrinda dipaksa melupakan kehidupannya selama di kota ini, memeluk tas milik Afrinda melanjutkan motor sampai ke kost dengan hati hancur.


👇👇👇


__ADS_2