Cinta Pilihan Mas Duda

Cinta Pilihan Mas Duda
Bahaya 3


__ADS_3

Ddoor!!


Satu lemparan batu mendarat tepat di punggung Tyo, tembakan melesat ke sembarang arah pistol terjatuh di permukaan aspal Tyo menghadap ke belakang siapa yang melemparnya, belum sempat ia berbicara satu lemparan lagi mendarat ke punggungnya, segala sisi telah mengepungnya.


"Keluar kau pengecut!" Tyo berteriak sebisanya suara tertahan punggungnya terasa sakit sekali


Gharda masih berusaha sadar tengkurap arah aspal, mengangkat kepala mencari tahu siapa yang menembak Tyo. Ada tanda isyarat dari anak buahnya bersembunyi di antara semak, "Bertahanlah," itu gerakan bibir yang dibaca dari jarak beberapa meter pengelihatan yang masih jernih.


Tidak beberapa detik orang-orang muncul menyerang pasukan Tyo membabi-buta sampai kalah menyerah, jumlah anak buah Tyo tidak sebanding dengan anak buah Gharda, tanpa bisa banya melawan Tyo diringkus memperlakukan sama seperti nasib Gharda tadi.


Rivzal turun dari mobil ambulance bersama petugas medis bawahan Egwin, segera berlari membantu Gharda.


"Ghar, bertahanlah sebenrar lagi." Terus berusaha mengajak bicara jangan sampai Gharda kehilangan kesadaran yang bisa berakibat fatal.


Badan dibaringkan menyamping pakaiann atas terbuka selang oksigen dan entah selang apa lagi ini, salah satu perawat pria masih berusaha membersihkan lukanya agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.


"Ayah! Ayah! Bangun, ayo membuat sarapan sama-sama, Jelly ada kegiatan di sekolah, nanti terlbat. Ayo bamgun."


Kepalanya terasa sakit, wajah putri kesayangannya muncul di ingatannya saat itu ia hampir terlambat bangun.


"Gharda, mamah ingin sekali menggendong cucu baru dari mu. Tidak sabar rasanya, pasti rumah kita akan semakin ramai."


Berganti wajah mamahnya tersenyum sambil bercerita impiannya yang mungkin terwujud atau tidak, meringis merasakan ada sesuatu yang menyengat dari luka bahunya.

__ADS_1


"Ghar, jangan tutup matamu." Rivzal panik.


"Pak, cepatkan mobilnya!"


"Tekanan napasnya melemah, tambah oksigen!" instruksi perawat yang satunya.


"Sa-sayang."


Terngiang wajah merona istrinya saat memanggilnya sayang, bibirnya ingin tersenyum namun justru terbatuk membuat perutnya keram hidungnya berdarah lagi.


"Bang, hidungnya berdarah!" seru perawat lagi.


Jika dirinya berhadap dengan Tyo, kemungkinan besar Afrinda ada dijebakan Bram, memikirkan hal itu kesadarannya mulai melemah detak jantungnya tidak beraturan.


"Ggharddda!" Rivzal menangis histeris.


***


Syeni menggendong cucunya Jelita menangis kencang baru bangun tidur, memanggil kedua orang tuanya bergantian suaranya serak habis. Menyeka keringat air mata Jelita terus sesenggukan memejamkan mata mengguman kedua orang tuanya badannya bergetar, Ny.Syeni berusaha membujuk. Jelita tidak mau lepas dari gendonganya bahkan mencengkram rambut omaya ketakutan seperti melihat sesuatu yang tak kasat mata, para pelayan ikut membujuk membawa mainan mengalihkan perhatian nona kecil tapi tidak ada yang berhasil.


"Mau ayah, mau bunda!"


"Ayah bunda tidak pulang kemana, Oma?"

__ADS_1


"Ay-ah, Bunda Fr-ind, dimana?"


Batuk berkali-kali, muntah di atas lantai, menangis lagi, melempar mainan yang diberikan pelayan, menyembunyikan wajah di dalam ceruk leher omanya. Mimpi itu kembali lagi dalam tidurnya, "Takuut, Oma."


Hampir dua jam menangis Jelita akhirnya tertidur dengan wajah sayunya, Ny.Syeni menggendong tidak peduli badannya yang berat, ia juga ikut menangis entah apa yang terjadi di luar sana.


"Emma, Susan dimana?" Tiba-tiba saja dia teringat dengan wanita itu.


"Nyo-nyonya, ini yang mau saya sampaikan tadi," Bibi Emma gugup menunduk kepala.


"Ada apa ini, Emma."


"Sus-an tertangkap kamera cctv saat malam keberangkatan ke gedung pernikahan, dia menelusup ke kamar Jelita dan mengobrak-abrik berantakan, unggg-" Bibi Emma menjeda ucapannya.


"Emma, katakanlah. Aku tidak akan serangan jantung, aku pasti kuat." Ia tahu keraguan Emma.


"Setelah kami periksa, dia kabur membawa celengan kucing milik Jelita dan barang yang bisa dijual. sampai sekarang ekarang dia belum pulang dari pesta tadi"


"Tapi dia tidak membongkar ruang kerja Gharda'kan?"


"Tidak."


"Tidak apa, setidaknya kita sudah mempunyai bukti rekamannya."

__ADS_1


Syeni merasa sedikit lega karena semua barang penting tersimpan di brankas rahasia di dalam ruangan itu. Baru saja menarik napasnya, kabar dari ponselnya membuatnua hampir jatuh lagi. "Gharda."


👇👇👇


__ADS_2