
Afrinda berusaha keras menenangkan diri harus bisa mencari cara bagaimana bisa memperlambat waktu sampai pertolongan tiba, ia sangat yakin kalau sebentar lagi pasti ada yang datang melepaskan mereka dari sini, sekarang bagaimana caranya Bram todak terburu bertindak sesuatu yang bisa saja mengamcam nyawanya juga.
"Ayo berpikir Afrinda!" serunya dalam hati matanya menelusuri segala arah sudut ruangan.
Yang terpenting lagi, lagi alat perekam yang diselipkan dalam rambutnya jangan sampai rusak.
Danu kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya, rasanya begitu syok sekali ada Afrinda dan Dahlya bersamanya sekarang.
"Siapa diantara kalian yang mau saya tembak duluan, hahh!" ucap Bram nada mengancam duduk menyilangkan kaki tidak jauh dari hadapan mereka.
"Bram!" Danu berani mengangkat bibirnya bersuara. Bram menatap tajam Danu seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Apa yang keuntunganmu bila kami mati?" tanya Danu menantang.
"Keuntungan-" Bram tertawa lepas hanya karena mendengar itu. Danu berusaha keras tidak panik, jika ia panik maka keberaniannya tidak akan muncul seperti saat ini.
"Kau akan menyusul Alfonso, itu adalah salah satu kepuasan yang sudah saya inginkan."
__ADS_1
"Dengan membunuh, cemen sekali," Danu berani meledek.
"Bicaralah sesukamu karena sebentar lagi kau akan tidak bernapas lagi."
Afrinda mencuri sedikit kesempatan melepas ikatan tangan ayahnya, untung Bram sendirian tidak ditemani anak buahnya. Merapatkan badan ke dinding perlahan melepaskan kaitan ikatan dari rantai.
"Lalu istrimu ini kau mau bunuh juga? Jika kau melakukannya, dia ibu dari anak-anakmu, bahkan singa saja tidak akan membunuh pasangannya sekalipun mereka kelaparan. Kau, hanya karena dendam, kau tidak membayangkan anak-anakmu akan kehilangan seorang ibu, kau akan menjadi duda, atau cinta sejatimu hilang karena kau juga. Bram, saya tahu kau sangat mencintai Dahlya-" Bram sempat terenyuh mendengar perkataan Danu. "Sangat tidak lucu bila kejadian ini akan terkenal dengan sejarah cinta, seorang suami membunuh cintanya di tangannya sendiri hanya karena dendam. Jiwamu pun akan pergi bersama Dahlya, kau akan dilanda penyesalan seumur hidupmu saat merasa bersalah. Anak-anakmu akan pergi meninggalkanmu seorang diri dengan dendam, kau akan seorang diri dengan hartamu tanpa cinta dari siapa pun."
Bram mencuri pandang ke arah istrinya yang terbaring lemah di pangkuan Danu luka di wajah itu semakin menjadi parah, Dahlya bisa merasakannya. Ia membalas tatapan itu tetapi Bram justru membuang muka. "Bram," panggilnya lirih sekuat tenaga memgeluarkan suara. Bram menoleh sebentar.
"Mamah," Afrinda terisak memperingati tidak suka ucapan mamahnya.
"Jangan bunuh Dahlya, gantinya saya sendiri. Bunuh saja saya asal kedua wanita ini kau lepaskan." Danu berucap lantang dengan apa yang keluar dari bibirnya.
"Ayah!" Afrinda semakin terisak kebingungan.
Tiba-tiba Bram tertawa menggelegar ketas, semua ikut terkejut. "BAHKAN KALIAN MASIH SALING MELINDUNGI SATU SAMA LAIN, APA KALIAN MASIH SALING MENCINTAI?!! DANU, DAHLYA! AAAAHHHKKK! KAU MENGHIANATIKU LAGI DAHLYA, AHHKK!!" Teriak Bram frustasi sendiri tertawa hambar, mengatur napasnya hatinya dilanda cemburu. Tidak-tidak!
__ADS_1
Diluar sana anak buah Bram tidak ada yang masuk ke dalam entah dimana mereka.
"Jika kau membunuh kami berdua, apakah kau melepaskan Afrinda? Dia putrimu juga, ada Sinatrani dibelakang namanya. Apa kau tidak sadar Bram, anak pun kita berbagi, Afrinda anakku dan anakmu yang sudah kau besarkan dengan jerih payamu sendiri. Dahlya adalah mantanku yang sekarang justru kau nikahi, ibu dari keturunanmu, ada namaku yang menjadi bekas awal percintaan kalian. Dari dulu kau sudah kalah Bram, sekalipun kami ditanganmu mati kau bunuh, itu tidak akan mengubah takdir yang sudah tergaris. Yang kau miliki saat ini adalah hasil dari orang lain kau merebutnya, tidak murni dari hasilmu sendiri."
Ucapan Danu berdengung ditelinganya membuat kewarasannya tidak terkendali lagi, ingatan masa lalu mulai menghantam isi kepalanya satu per satu kilasan kejahatan dan kenyataan yang semakin menamparnya. Dia telah jatuh cinta pada hasil merebut dari Danu, dia telah memberi kehidupan pada Afrinda yang hasil culik dari Danu juga, Afrinda bahkan sudah menikah dengan anak Alfonso musuhnya sendiri. Kehidupannya dibayang-bayangi oleh masa lalunya, dendam yang tidak berdasar, apa yang dirinya benci, justru semakin mendekat ke kehidupannya.
APA YANG DIRINYA BENCI, JUSTRU BERBALIK MENDEKATI KEHIDUPANNYA!
"AAHKK!! DIAM KAU DANUU!!"
DOORRR!
"AYAH!" "MAS DANU!"
👇👇👇
Semoga suka dan tetap membaca ya, up dua eps sehari..
__ADS_1