
Menyeka wajah kusamnya merapikan tatanan rambutnya lagi, ia masih berada di sekolah karena masih ada tugas untuk mempersiapkan perayaan ulang tahun Jelita di kelas besok. Sudah mengantongi izin dari kepala sekolah, seorang diri memulai menghias dekorasi ruangan.
Deringan ponsel membuatnya terkejut kemudian menghampiri meja mengangkat ponselnya, Nyonya Syeni pulang ke rumahnya di kota seberang kemarin tetapi besok pagi beliau tetap datang dan langsung menuju ke sini memberi kejutan bersama-sama merayakan ulang tahun cucunya.
"Baik, Bu," jawab Afrinda mengakhiri panggilan.
Tok....Tok...Tok...
Menoleh ke arah pintu ruang kelas meletakkan ikatan balon yang sedang dipeganya, seorang pria paru baya pegawai kebersihan datang membawa kotak di tangannya.
"Ini pesanan Miss."
Pesanan? Baru satu jam yang lalu ia memesan kue ulang tahunnya, mengapa cepat sekali sampainya? Afrinda masih berdiri bengong.
"Miss!"
"E-e. terima kasih, Wak." Afrinda mengambil alih kotak itu seraya tersenyum sopan kenudian pegawai itu berlalu pergi.
Membuka kotak isinya ada air mineral, nasi kotak, dan satu snack box, juga ada surat di dalamnya. "Kata Allen, Kamu belum pulang masih mempersiapkan untuk ultah Jelita besok. Saya kirimkan kamu makan siang , dimakan ya. Egwin."
"Dokter,,,Dokter. Tapi terima kasih loh, nasinya pasti enak." Perutnya sudah keroncongan Afrinda makan dengan lahap. Setelahnya ia mengirim pesan singkat pada Dokter Egwin mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Di rumahnya Egwin tersenyum-senyum manis memeluk ponselnya, rasanya seperti remaja lagi jatuh cinta ke dua kalinya.
"Papah, kenapa senyum-senyum sendiri?" Allen bertanya keheranan, sudah turun dari kamarnya berpakaian rapi.
"Papah senyum karena kita mau pergi ke rumah Jelita, dan Allen terlihat lucu pakai baju barunya." Tentu Egwin tidak menjelaskan sebab yang sebenarnya.
Dengan semangat Allen bersiap bernyanyi sepanjang perjalanan, tadi ia yang meminta ke rumah Jelita untuk memastikan keadaan sahabatnya itu dan papahnya mengiyakan. Di kursi kemudi Egwin tersenyum penuh arti, perlahan-lahan agar tujuannya tidak terbaca oleh mereka yang tidak menyukai keberadaanya.
Dipersilahkan masuk, Allen yang lebih dulu melangkah memanggil Jelita dengan suara lengkinganya.
Ccekkrrek!
Satu potret Allen sedang berdiri manis membelakanginya di anak tangga pertama, mempostingnya di instastory dengan caption penuh rasa bahagia.
Egwin mengangguk sekilas lalu menelepon Gharda memberitahukan sedang berada di rumahnya
.
.
.
__ADS_1
Lagi dan lagi Tiffany membuat ulah sesuka hatinya, menghentikan sesi pemotretan yang membuat semuanya kesal di ubun-ubun.
"Dan, aku mau makan siang bersama Gharda pacarku. Kau pulanglah bersama cruw lainnya."
Ardan menggeram sebal, tapi Tiffany tidak peduli
Duduk manis tersenyum sudah ada Gharda yang menunggunya.
Gharda mengajak Tiffany merayakan ulang tahun Jelita besok, Tiffany setuju dan dia sendiri yang membuat seperti apa kejutannya nanti. Ulang tahun ini hanya mereka ber tiga saja, ide Gharda yang muncul tiba-tiba.
Jika besok ia sempat mengambil hasil tes DNA itu, dipikirannya besok adalah perayaan terakhir ia bersama Jelita berstatus anak kandungnya. Untuk hal ini, tidak menerangkannya pada Tiffany. Rahasia dulu.
"Aku angkat telepon dulu," ujar Gharda mengangkat ponselnya.
Menunggu Gharda yang bertelepon di hadapannya, ia juga menyempaykan membuka ponselnya mencari laman instagram miliknya.
Membuka akun kedua miliknya, berselancar di story. Matanya terbelalak melihat foto siapa yang sedang di rumah Gharda, Ini mereka saling kenal? Jantungnya berdegup kencang.
"Ck, menggangu saja," keluh Gharda meneguk minumannya.
"Itu siapa?"
__ADS_1
"Dokter Egwin."
👇👇👇